SUBULUSSALAM – Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani di Subulussalam kembali naik menjadi Rp1.720 per kilogram. Sebelumnya bertahan pada angka Rp1.700 per kilogram selama tiga bulan terakhir terhitung sejak Desember 2016 hingga menjelang akhir Februari 2017.

“Harga sawit sekarang sudah naik Rp1.720 per kilogram di tingkat petani atau sekira naik Rp 20 per kilogram,” kata Wandi, salah seorang petani kelapa sawit di Subulussalam, Senin, 20 Februari 2017.

Ia mengatakan kenaikan harga TBS ini sangat menggembirakan para petani, apalagi produksi buah mulai berangsur normal setelah sebelumnya sempat menurun (terek).

Ia menjelaskan sebelumnya tiga pekan lalu harga TBS di tingkat petani pernah naik mencapai Rp1.720 per kilogram namun kembali turun dan bertahan di angka Rp1.700 per kilogram.

“Kemarin itu sudah pernah naik Rp1.720 per kilogram, turun lagi ke Rp1.700 per kilogram, kita tidak tahu penyebabnya apa. Sekarang naik lagi, alhamdulillah sekali, semoga TBS semakin mahal ke depan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, harga TBS yang terus naik ini membuat petani kelapa sawit di Kota Subulussalam mampu merawat kebun dengan baik hingga meningkatkan produksi buah dan perekonomian petani pun juga ikut membaik. Namun diharapkan harga TBS ini stabil jangan sampai turun ke level terendah.

“Dengan harga saat ini petani rajin merawat kebun seperti pemupukan untuk meningkatkan produksi buah,” kata Wandi menambahkan.

Rahmin Bancin petani lainnya  berharap agar harga TBS ini bertahan dalam kurun waktu lebih lama sehingga petani akan semakin sejahtera. Apalagi dalam waktu dekat, masyarakat khususnya umat muslim juga akan memasuki bulan puasa di mana kebiasaan membutuhkan uang sebagai bekal mereka dalam merayakan lebaran.

Ia mengatakan harga TBS juga pernah melebihi harga saat ini, terjadi pada tahun 2005 lalu saat harga TBS  mencapai Rp1.800 per kilogram namun tiba-tiba anjlok drastis hingga Rp200 per kilogram di tingkat petani.

Kondisi harga terjun bebas kala itu membuat ribuan petani di Subulussalam dan Aceh Singkil drop bahkan putus asa hingga tak sedikit enggan mengurus kebunnya lantaran biaya perawatan tidak sebanding dengan hasil jual TBS.

“Kita berharap kejadian masa lalu tidak terulang kembali, karena itu sangat menyakitkan petani. Kondisi harga TBS sekarang sangat menggembirakan petani semoga bisa naik lagi,” katanya.[]