SIGLI – Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM. Daud, mengaku belum tahu adanya konflik tapal batas gampong di Kecamatan Batee, hingga rumah tiga kepala keluarga terkurung. Sengketa tapal batas antara Gampong Rungkoem dengan Gampong Crueng, Kecamatan Batee, berujung pemagaran lorong, terjadi sejak dua pekan lalu.

“Kita belum tahu ada konflik tapal batas hingga terkurungnya rumah warga. Hingga saat ini belum ada laporan,” Fadhlullah kepada portalsatu.com/, Selasa, 25 Februari 2020, saat diminta tanggapannya di sela-sela acara pelantikan Rektor Unigha Sigli.

Fadhlullah menyatakan akan menanyakan kepada Asisten I (membidangi pemerintahan) Setda Pidie. Menurut dia, kalau memang sudah ada laporan tentang rumah warga terkurung akibat konflik tapal batas, harus segera diambil langkah penyelesaiannya, mengingat terganggunya hajat hidup manusia.

“Jika sampai rumah warga terkurung akibat perselisihan tapal batas, itu tidak boleh terjadi, dan harus diselesaikan secepatnya. Nanti akan kami tanyakan kepada jajaran kami, apa benar itu terjadi dan sejauh mana sudah proses penyelesaiannya,” tegas Fadhlullah.

Sementara pengakuan Asisten I Setda Pidie, Bahrul Walidin, Rabu, 26 Februari 2020, pihaknya sudah menerima laporan dari Camat Batee beberapa hari lalu. Bahkan sudah dilakukan musyawarah dengan tokoh masyarakat Rungkoem dan Muspika, namun belum ada titik temu.

“Sudah masuk surat ke kita dan hari Sabtu, 22 Februari 2020 sudah pernah kami panggil Muspika dan para pihak dari kedua gampong untuk duduk bersama mencari jalan penyelesaian, namun upaya itu belum berhasil lantaran ada satu pihak tidak hadir,” jelas Bahrul kepada portalsatu.com/.

Pihaknya, lanjut Bahrul, akan duduk kembali untuk mennyelesaikan masalah pagar yang menyebabkan rumah warga terkurung. Selanjutnya baru diselesaikan masalah tapal batas yang disengketakan.


(Foto: istimewa)

 
Sebelumnya diberitakan, konflik tapal batas antara Gampong Crueng dan Gampong Rungkoem, Kecamatan Batee, Kabupaten Pidie, menyebabkan dua rumah warga di tapal batas terkurung dengan pagar yang dipasang warga Gampong Crueng. Warga yang rumahnya terkurung dengan pagar sengketa tapal batas gampong mengaku sangat susah untuk keluar dari rumah dan berharap dibuka agar anak – anak mereka dapat sekolah.

Nurdin (35), warga Gampong Rungkoem, salah satu dari tiga kepala keluarga yang rumahnya terkurung sejak 14 hari lalu, mengaku sangat kesulitan keluar masuk rumah. Lorong masuk rumahnya dipasang pagar karena konflik tapal batas antara dua gampong. 

“Sudah dua pekan atau 14 hari kami tidak bisa keluar dari perkerangan rumah. Di sekeliling rumah kami dipasang pagar. Kadang sudah kepepet terpaksa keluar lewat celah pagar,” ujar Nurdin, Selasa, 25 Februari 2020. (Baca: Konflik Tapal Batas di Pidie, Tiga Keluarga Terkurung)[]