LHOKSUKON – Tim Dinas Pengairan Aceh turun ke Kabupaten Aceh Utara, Ahad, 27 November 2022, untuk mengindentifikasi kerusakan tanggul/tebing sungai yang rusak akibat banjir. Di antaranya, tanggul Sungai Krueng Keureuto, Krueng Peuto, Krueng Pirak, dan Krueng Pase.

Tim Dinas Pengairan Provinsi itu turun ke lapangan didampingi staf dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Utara.

Kepala Dinas PUPR Aceh Utara, Edi Anwar, S.T., melalui Kabid SDA Jaffar, menjelaskan selama ini pihaknya selalu berkoordinasi dengan Dinas Pengairan Aceh maupun Balai Wilayah Sungai Sumatera-1. “Termasuk abrasi pantai di Kecamatan Seunuddon juga kita laporkan,” kata Jaffar kepada portalsatu.com/ melalui telepon, Senin (28/11)

Menurut Jaffar, tim Dinas Pengairan Aceh tersebut turun ke lokasi tanggul Sungai Krueng Keureuto di Desa Merbo Jurong Kecamatan Lapang, dan Desa Meunasah Pante, Kecamatan Lhoksukon. Selain itu, mereka juga mengecek tanggul Sungai Krueng Peuto di Desa Meunasah Glumpang, Kecamatan Lhoksukon, dan tanggul Krueng Pase di Desa Tanjong Baroh, Kecamatan Samudera.

“Mereka mengajak kita ikut bersama-sama ke lapangan, karena usulan-usulan kita baik melalui Musrenbang, melalui surat Camat, dan lain-lain, mungkin tidak bisa terakomodir semua. Sehingga diinventarisasi dulu ke lapangan mana kira-kira yang dinilai lebih prioritas dari sekian banyak tanggul sungai yang rusak. Hasil indentifikasi itu kemudian akan mereka laporkan kepada pimpinannya,” ujar Jaffar.

Jaffar menyebut sebelumnya tim Dinas Pengairan Aceh juga sudah turun ke lokasi-lokasi tanggul sungai lainnya pasca-banjir melanda Aceh Utara. Menurut dia, semua titik kerusakan tanggul itu sudah ada dalam dokumen perencanaan. Dalam perencanaan penanganan banjir tentu tidak hanya difokuskan terhadap penanganan tanggul yang rusak secara parsial, namun perlu juga mengkaji permasalahan lainnya seperti pendangkalan muara, sedimentasi dan vegetasi serta sistem drainase, baik drainase perkotaan maupun drainase lingkungan.

“Untuk saat ini tentu mereka akan merealisasikan terlebih dahulu terhadap anggaran yang sudah tersedia dalam APBA 2023. Sementara sisanya banyak permasalahan lain yang perlu kita pikirkan bersama dengan stakeholders terkait agar permasalahan bisa teratasi secara komprehensif/menyeluruh. Selain untuk program jangka panjang, mereka fokus dulu untuk jangka pendek dengan mengoptimalkan anggaran 2023, karena tidak mungkin dalam waktu singkat dapat terakomodir secara menyeluruh,” tutur Jaffar.

Informasi diperoleh Jaffar, sebagian tanggul sungai di Aceh Utara yang rusak akibat banjir pada tahun 2022 akan ditangani dengan APBA 2023. “Yang masuk di antaranya untuk penanganan Krueng Keureuto, Krueng Peuto, Kreung Pirak, Krueng Pase, dan Alue Gunto. Ada yang rehab tanggul, rehab tebing, dan ada normalisasi sungai seperti Alue Gunto ucapnya.[](red)