“Iya, pak, kalau ambil cuti, tunjangan saya dipotong,” kata seorang kolega yang baru pulang umrah.

“Iya, Pak, baru selesai Dhuha di musalla,” ucap seorang staf yang tidak di ruangan saat jam kerja pagi.

“Lha, kamu melanggar wajib demi sebuah sunat, gimana sih logikamu?” begitu kira-kira tanggapan saya ke mereka.

Sahabat!!!

Kita terkadang salah menempatkan sesuatu. Pola tindak kita melanggar esensi. Sehingga bertukar pula cara kita melihat persoalan. Muncullah kemudian paradigma seolah kesalahan menjadi kelaziman. Dan jadilah kesia-siaan.

Bekerja itu kita terikat dengan kewajiban. Dan melanggarnya berdosa. Nah, bila melanggar hal wajib demi sebuah sunat, apakah kita berpahala? Ketemukah tujuan melakukan sunat dengan biaya besar itu? Dibanding kita kehilangan sedikit karena izin.

Dalam kehidupan kita amat sering melihat fonomena ini. Semisal perilaku para politikus dengan jargon “demi rakyat”. Atau pada antrean, menjaga hak orang lain wajib, menyela antrean artinya melanggar hak orang lain.

Salah tindak karena salah pikir itu menyebabkan kita kehilangan tujuan. Ibadah sunat. Mempercepat sampai atau menyogok untuk mendapat keistimewaan. Semua karena tujuan baik. Tapi kita menempuhnya dengan jalan yang salah. Apakah hasilnya menjadi baik? Apakah pahalanya ada?

Maka apapun dan dimanapun kita. Wajiblah kita melihat titik atau batasan. Agar tidak terjerumus dalam kesia-siaan. Niat ibadah tapi hasilnya malah dosa. Niat baik hasilnya keburukan. Niatan dapat untung malah buntung.[]