ISTANBUL – Ketua Tuha Peuet Ikatan Masyarakat dan Mahasiswa Aceh Turki (IKAMAT), di Istanbul, mengatakan, mahasiswa Aceh yang berada di Turki membutuhkan asrama atau tempat mengumpul untuk kegiatan mengenalkan Aceh di negara dua benua tersebut.

Pemerintah Aceh, kata Arhami, diharapkan memperhatikan kebutuhan ini dan segera membangunnya. Apalagi Gubernur Zaini Abdullah, beberapa anggota DPRA, dan Wali Kota berserta DPRK Banda Aceh, dalam waktu terpisah telah mengunjungi Turki beberapa waktu lalu.

“Ada dua pilihan (alternatif) tempat membangun asrama, jika Pemerintah Aceh ingin tempatnya di pusat pemerintahan Turki berarti boleh membangunnya di Ankara. Tetapi jika pemerintah menginginkan asrama itu di kota pusat ekonomi, budaya, dan peradaban, maka harus dibangun kota Istanbul,” kata Arhami, yang diwawancarai melalui WhatsApp, di Istanbul, Turki, Kamis 21 Januari 2016.

Istanbul dan Ankara, kata Arhami, merupakan dua kota yang paling banyak dihuni mahasiswa asal Aceh. Di Istanbul ada sekitar 30 mahasiswa. Dan di seluruh Turki, mahasiswa dan masyarakat Aceh ada sekitar seratus dua puluh (120) orang yang tersebar di berbagai daerah.

Arhami mengaku, mahasiswa Aceh di sana punya jaringan yang cukup baik dengan pemerintah Turki. Misalkan, ia dan rekan-rekan di Istanbul sering mengadakan kegiatan-kegiatan seperti diskusi, peringatan hari keagamaan, peringatan tsunami dan lainnya, selalu bisa memanfaatkan fasilitas dari pemerintah setempat. 

“Kita diizinkan memakai ruang pertemuan atau ruang seminar dari pemerintah kota Istanbul atau dari kampus atau universitas. Kita juga punya hubunga baik dengan organisasi-organisasi sipil atau LSM lainnya di Turki, seperti IHH, Mozaik, Onder dan lain sebagainya,” kata Arhami.

Selain itu ada juga kumpulan organisasi mahasiswa internasional (ICIST) di Istanbul di bawah koordinasi Pemerintah Kota Istanbul juga menganjurkan pihaknya, jika membuat kegiatan boleh menggunakan fasilitas dari mereka.

“Ketika Minggu lalu ada kunjungan Ibu Walikota Banda Aceh, pihak walikota Istanbul yang mengurusi protokoler langsung menghubungi saya untuk mencarikan satu orang Aceh sebagai penerjemah,” kata Arhami.

Arhami mengatakan, bahwa setiap kegiatan yang dilaksanakan pihakny selalu memberitahukan kepada perwakilan pihak pemerintah RI yang ada  di sana. Pihak konsulat atau kedubes RI di Istanbul, kata Arhami, mendukung kegiatan mahasiswa Aceh di sana.

“Dukungan mereka bisa dalam bentuk pemanfaatan fasilitas, ada beberapa kegiatan di antaranya dengan dana seperti acara duek pakat yaitu acara musyawarah mahasiswa dan masyarakat Aceh untuk silaturahim dan memilih ketua IKAMAT,” kata Arhami, di Istanbul.[]