Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai
Tiada usah menangis kasih, jangan bersusah hati pada sembilu. Tuhan yang maha penentu, bukan oleh status-status itu, Zul, sedang menghibur kekasih haramnya.
Pasir-pasir bermandikan air hijau kebiruan laut Pulau Aceh. Hari Sabtu sore, di tepian halak yang berombak melintang. Zul bercakap-cakap lewat handphone-nya. Adalah permasalahan cinta, ia sedang menggundah pada asa. Cinta yang tiada direstui oleh orang tuanya si wanita, kerana Zulfan bukan dilatarbelakangi oleh keluarga yang ada status status sebelum nama belakang mereka.
Bersabab demikian, orang tua Laila tiada pernah memberi restu kepada Zul yang sudah lama ingin melamar dara ceudah -cantik- itu. Dan orang tuanyapun mengetahui akan hubungan mereka yang juga sudah sangat lama terbina, walau jarang-jarang berjumpa keduanya itu.
Setelah lulus Sekolah Menengah Atas, dari sebuah tempat berasrama yang jauh dari kampung mereka, tiada lagi pernah berjumpa keduanya, hanya berhubungan lewat udara sahaja. Semasa di tempat itu, cinta sudah terjalin antara keduanya. Dapat dimaklumi bagaimana akan cinta yang terjalin di tempat berasrama.
Dari kejauhan hanya bisa mengerling pandang, setelah seutas senyuman bermekaran dari wajah kekasih harapan. Cukuplah untuk seminggu menenangkan hati di dalam jasad kehidupan, begitulah seterusnya akan cinta pada Anak Asrama, mereka tahu agama dan di tempat itu pun diajarkan tentang apa itu halal-haram. Tiada boleh bercampur lelaki dan perempuan yang bukan muhrim di tempat mereka itu.
Permata Laila, nama lengkap kekasih haram Zulfan. Bertahun-tahun cinta itu belum juga direstui oleh orang tua Laila. Tuan Lie itu, tetap berpegang teguh kepada kebiasaan yang sudah mendarah daging baginya, anak perempuan yang berstatus depan (khusus) harus dinikahkan dengan lelaki yang berstatus depan (khusus) pula. Namun Zul bukan dari mereka yang demikian.
Adik, sungguh tak usah lagi bersedih begitu. Besok masih ada Selasa, Rabu, Kamis dan seterusnya begitu. Tenangkan qalbumu. Abang tahu bagaimana rasa yang ada di dalam hati yang tengah berkecamuk itu. Jangan berlarut-larut dalam kesedihan, masih banyak yang perlu dipikirkan apalagi untuk dilakukan. Ingat adikku, perjalan ini masih sangat jauh ke hadapan. Jangan habiskan waktumu dalam kelalaian sedih itu, Zul mengingatkan lagi akan pujaannya itu.
Zul masih berteman ombak, yang senantiasa menggulung tepian laut kampungnya itu. Masih juga bercakap-cakap memakai Hp nya, tiada peduli ianya pada rintik hujan yang mulai menepungtawarinya dengan percikan-percikan bersahaja. Hari mulai senja. Setengah jam sudah, ia berbicara dengan Permata Lailanya.
Zul adalah orang yang bertekad teguh, tiada pernah sekalipun ia mundur dari kesungguhan cintanya kepada Laila. Bahpun orang tua Laila sudah beberapa kali menolak lamarannya, namun ia tetap pada prinsip dasar hatinya. Tuhan akan menyatukan Cinta dan Kita, begitulah semangat akan pada keyakinannya itu.
Adalah waktu-waktu di hadapan ini, Zul bekerja di salah satu tempat tapi bukan di daerahnya, dan ia juga pernah pergi ke beberapa negara dikala negerinya masih berkecamuk perang. Ia juga bisa berbagai bahasa. Pernah juga menjadi penerjemah bagi warga negara asing yang datang ke daerahnya itu.
Hubungan akan hubungan tetap, masih terbina di antara keduanya. Walaupun beberapa saudara sudah menyarankan keduanya, oleh masing-masing saudara itu, untuk menikah sahaja dengan yang lainnya. Kerana umur si perempuan yang sudah di atas dua puluh lima tahun lebih.
Begitu juga dengan lelaki itu yang sudah berumur di atas tiga puluhan tahun, walau pada dasarnya lelaki tiada usah risau akanpada umur mereka. Namun tiada semua lelaki yang berfikir demikian, banyak juga yang berfikir untuk menikah di umur dua puluh lima ke atas berlandaskan pada pribadi masing-masing.
Setelah percakapan di antara Zul dan Laila usai, di sore hari yang berteman gerimis hujan tersebut. Waktu-waktu itu masih sahaja seperti biasanya, belumlah ada perbedaan pada dasarnya. Oleh kerana malam akan berganti malam, matahari pagi ini belum tentu akan cerah di keesokannya. Bersabablah langkah harus tetap ditapaki.
Berbagai elegi telah terjadi, pahit-manis kehidupan (cinta) telah sama-sama dirasai. Bersampailah pada waktu yang keduanya tiada menyangka, dan berhinggalah bagi keduanya menikah. Acarapun berlaku dengan khidmat dan sangat bersahaja, menjadikan itu contoh bagi setiap yang lainnya.
Tuhan telah berkehendak atas hubungan mereka, sehingga sampai menyatu antara keduanya. Hari-hari berlalu, bulan dan tahunpun berganti. Kini mereka sudah dikaruniai dua orang buah hati. Keluarga sakinah, mawaddah-warahmah telah terbina untuk sekarang dan berhinggalah untuk selamanya. Sampai ajal memisahkan cinta.
Dan Zul pun menjadi salah seorang yang sangat dihargai, kerana ianya telah menjadi orang nomor satu di daerahnya. Adalah usaha, berhinggalah pada tercapainya cita-cita. Dan untuk kesekian kalinya berbahagialah mereka, tiada semua bergantung pada status-status itu. Bila Tuhan ingin berkehendak, sungguh tiada yang akan mampu untuk menyangkalnya.[]
Penulis merupakan salah seorang alumnus Sekolah Hamzah Fansuri. Alumni angkatan 2009 Misbahul Ulum Paloh.



![[CERPEN] Bukti Sayang Bukan Warisan Utang](https://portalsatu.com/wp-content/uploads/2022/09/Ilustrasi-utang-foto-pikiran-rakyat-1.jpg)

