“Sudahlah, jangan paksa diri bawa bapakmu ke rumah sakit, sudah cukup usaha kalian dengan berbagai obat bahkan rajah. Dia sudah kritis, lihat itu tetanggamu meninggal di RS,” saran kerabat dan tetangga saat bapak sakit keras. Kejadian ketika saya kelas 3 SMP. 

“Saya rela bapak meninggal di RS, sebab saya sudah berusaha maksimal,” bantah saya. Dan kemudian bapak berumur panjang.

Sahabat!!!

Berjuanglah maksimal untuk apapun. Kita tidak pernah tahu hasilnya. Tapi tanpa berjuang maksimal kita sangat dekat kegagalan.

Setelah berjuang sampai mentok. Jikapun gagal kita tidak akan menyesal. Kita akan menerimanya sebagai takdir.

Banyak di antara kita menemui kesulitan, kesusahan atau kepayahan. Tapi memilih mundur. Semisal kita berjalan ke suatu tujuan. Dan ada berbagai jurang. Di tengah jalan kita mundur. Artinya kita berhenti saat tujuan sudah dekat.

Bukankah orang orang sebelum kita pernah mencapainya? Pada tujuan itu orang orang pernah sampai. Maka kitapun bisa mencapainya. Maka berusahalah. Seperti usaha orang orang yang pernah mencapainya.

Terkadang kita menanam tujuan. Kemudian membenamkan di otak kita. Sebabnya kita mengarahkan pikiran pikiran pada kesulitan kesulitan. Seharusnya pikiran kita penuhkan dengan kebahagian jika tujuan itu tercapai. Kesenangan ketika kita sampai titik yang tertuju. Kesulitan adalah proses.

Ketika kita ingin sampai ke surga Allah. Maka banyak hal wajib kita lakukan. Banyak waktu yang harus kita gunakan. Banyak kesenangan harus kita kesampingkan. Banyak ritual dan kebaikan harus kita buat. Dan untuk semua itu banyak rintangan dan pengorbanan.

Maka tuhan tidak akan menumbuhkan mangga di halaman kita. Tanpa upaya kita memulai menggali tanah, menanam dan merawatnya sampai berbuah. Kemenangan hanya milik petarung.[]