BANDA ACEH – Allah SWT., menciptakan manusia berdasarkan fitrahnya yang memerlukan agama sebagai tuntunan dalam hidupnya. Selama manusia tetap berada pada fitrahnya yakni hidup di atas agama Allah, maka ia akan merasakan ketenangan dan kenyamanan dalam hidupnya.
Akan tetapi, bila manusia sudah keluar dari fitrahnya karena enggan menggunakan agama untuk mengatur hidup dan kehidupannya, maka yang akan dirasakan adalah keresahan dan kegelisahan. Namun, di akhir zaman sekarang ini terlihat umat manusia khususnya umat Islam yang kebanyakan tidak lagi kukuh mengamalkan ajaran agamanya, bahkan agama telah menjadi sesuatu yang asing seperti pertama kali kedatangannya.
Salah satu pilar yang akan memperkukuh tegaknya agama di tengah umat ini adalah hadirnya ulama sebagai warasatul ambiya yang konsisten mengamalkan ilmunya sesuai tuntunan Alquran dan Hadis untuk kepentingan umat semata-semata karena Allah, bukan atas kepentingan dunia.
Demikian disampaikan Tgk. Sirajuddin Saman, S.Pd.I., M.A., Pimpinan Dayah Khamsatu Anwar, Gampong Deunong, Darul Imarah, Aceh Besar, saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu, 10 Oktober 2018, malam. Pengajian dipandu Badaruddin, S.Pd., M.Si., Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Dayah Aceh.
“Ulama yang konsisten mengamalkan ilmunya termasuk salah satu faktor tegak dan kukuhnya agama ini. Ulama sejati tidak akan membingungkan umat, ia akan menyampaikan yang benar itu benar dan yang salah itu salah, tidak akan pernah menyembunyikan apa-apa yang diketahuinya. Menyembunyikan ilmu sama halnya dengan menghalangi seseorang untuk mengetahui mana yang hak dan mana yang bathil. Sikap seperti ini tidak bisa dibenarkan bagi seorang ulama pewaris nabi. Apalagi ulama termasuk hamba Allah yang paling takut kepada-Nya,” ujar Tgk. Sirajuddin.
Menurutnya, selama ulama (orang-orang yang berilmu) mengamalkan apa yang telah mereka ketahui, maka agama dan umat ini tidak akan mengalami kemunduran. Para ulama akan berusaha menjadi teladan bagi umat dengan berusaha menunjukkan setiap perilakunya didasari ilmu yang dimilikinya, karena Allah sangat murka kepada mereka yang memiliki ilmu tapi tidak mengamalkannya.
“Ulama juga menegakkan amar makruf nahi mungkar, karena merekalah yang memahami mana yang benar mana yang salah, mana yang boleh dilakukan mana yang tidak. Ketika fungsi ini tidak bisa dilakukan, maka akan mendapat laknat Allah karena membiarkan kemungkaran yang terjadi di kalangan mereka seperti yang ditegaskan dalam Alquran surah Al-Maidah ayat 78-79”.
Selain ulama yang mengamalkan ilmunya, Tgk. Sirajuddin juga mengungkapkan tiga pilar lainnya dapat memperkukuh agama Islam, seperti disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib. Orang-orang kaya sejatinya menjadi pilar penyangga tegaknya agama. Yaitu orang-orang kaya yang memiliki jiwa kedermawanan dan solidaritas sosial yang tinggi. Jiwa kedermawanan itu dibuktikan dengan sikap lapang dada untuk mau membantu meringankan beban ekonomi orang-orang fakir dan miskin, serta menginfakkan hartanya di jalan yang diridai Allah.
“Selama orang-orang kaya tidak bakhil dengan apa yang telah diberikan oleh Allah, kedermawanan mereka untuk menggunakan hartanya dalam memperjuangkan agama menjadi bagian penting untuk tetap tegaknya agama. Harta kita yang sesungguhnya adalah apa yang sudah kita berikan untuk memperjuangkan agama-Nya, bukan harta yang kita kumpulkan dan kita banggakan jumlahnya, karena itu semua belum tentu dimiliki dan dinikmati,” ujar Tgk .Sirajuddin yang juga kandidat doktor di UIN Ar-Raniry ini.
Pilar selanjutnya, selama orang-orang awam (yang kurang ilmu tentang sesuatu) tidak menyombongkan diri dari sesuatu yang belum mereka ketahui, tapi dia terus belajar untuk bisa mengetahui. “Orang awam yang mau belajar ini menopang tetap tegaknya agama. Ini merupakan sifat tawadhu' umat Islam untuk tetap belajar tentang apa yang belum mereka ketahui, dengan kata lain mereka masih memiliki semangat untuk mendapatkan ilmu”.
“Karena kemunduran Islam sering disebabkan akibat umat Islam mengamalkan sesuatu yang tidak mereka ketahui, tidak mau mempelajari apa yang tidak mereka ketahui dan mencegah orang lain dari mempelajari apa yang tidak diketahui,” kata menantu Abuya Nasir Wali ini.
Terakhir adalah, selama orang-orang fakir dan miskin yang menjaga akidah dan imannya kepada Allah, dengan tidak menjual akhirat mereka untuk kepentingan dunia sesaat. “Kesabaran orang-orang fakir dan miskin dalam segala kekurangannya mereka tetap taat kepada Allah, tidak mengorbankan kepentingan akhiratnya hanya demi mengejar kepentingan dunia yang sesaat,” ujarnya.
“Seringkali kita mendengar cerita orang miskin begitu mudah meninggalkan ajaran agamanya, hanya gara-gara untuk mengejar materi dunia. Tentu sangat disayangkan seorang beragama mengorbankan keyakinan dan akhiratnya dengan urusan dunia yang tidak kekal itu. Betapa tidak berartinya akhirat, dan betapa bernilainya dunia. Satu logika terbalik, yang kini banyak merasuki pikiran orang-orang saat ini”.
“Memang, kefakiran bisa menjadi salah satu faktor yang membawa seseorang kepada kekafiran. Tetapi, hal itu tidak berlaku bagi orang-orang fakir dan miskin yang fondasi imannya kuat dan keyakinan agamanya kukuh. Biar pun langit bergoncang, orang fakir dan miskin itu akan tetap kukuh dan taat kepada agamanya, serta tidak akan pernah mau meninggalkan kepentingan akhiratnya. Bagi mereka, akhirat lebih abadi dan penuh kedamaian,” pungkasnya.[](rel)





