BANDA ACEH — Ratusan pelajar SMP dan siswa SMA Inshafuddin, Banda Aceh, mengikuti simulasi evakuasi mandiri kesiapsiagaan bencana yang digelar United Nations Development Programme (UNDP) bekerja sama dengan Pemerintah Jepang, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) dan pihak sekolah tersebut, Senin, 19 Februari 2018.
Simulasi itu diawali dengan gempa 8,2 SR dan diprediksi mengakibatkan tsunami. Tiga siswa menjadi korban dan mengalami luka-luka. Para guru dan siswa yang selamat berusaha memberikan pertolongan dengan mengevakuasi para korban dari runtuhan puing dan dibawa ke lapangan terbuka.
Beberapa menit setelah gempa, BMKG kembali mengeluarkan informasi peringatan bahwa tsunami akan melanda bagian utara Pulau Sumatera sehingga diminta kepada warga untuk mengevakuasi diri. Tidak begitu lama, sirine tanda tsunami yang dibunyikan dari Kantor BPBA mulai terdengar. Beberapa masyarakat, khususnya para siswa yang tadinya sibuk memberikan pertolongan terlihat mulai panik. Para guru mencoba menenangkan para siswa sambil mengarahkan mereka untuk naik ke tempat yang lebih tinggi.
Para siswa dengan tertib mengikuti instruksi guru menuju tempat evakuasi, yakni ke lantai 3 gedung sekolah yang masih bagus dengan dibantu RAPI dan beberapa petugas BPBD Aceh Besar.
Sesampai di gedung tersebut, para siswa diminta untuk tetap tenang dan berdoa. Sedangkan beberapa siswa yang mampu memberikan pertolongan pertama, langsung diminta membantu PMI dan memberikan pertolongan lanjutan kepada para korban yang terluka.
Pihak UNDP Indonesia, Charistian, mengatakan, simulasi dengan bekerja sama Pemerintahan Jepang ini merupakan bagian dari membangun kesiapsiagaan tsunami di 18 negara di Asia Pasifik.
“Simulasi hari ini merupakan kerja sama antara UNDP dengan Pemerintahan Jepang untuk membangun kesiapsiagaan tsunami di 18 negara di Asia Pasifik. Kebetulan Indonesia berpartisipasi dan kebetulan target kita adalah di Provinsi Aceh,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, kegiatan ini merupakan yang ketiga dilakukan mereka dalam tahun ini dengan melibatkan tiga sekolah. Sebelumnya, pihak UNDP juga pernah melakukan simulasi yang serupa di tahun 2017 lalu.
“Jadi ini adalah putaran kedua untuk kegiatan ini. Jadi memang tujuan utamanya adalah untuk membangun kesiapsiagaan pihak sekolah dalam artian bahwa sekolah memiliki peranan dalam menyebarkan pendidikan dalam kesiapsiagaan maupun potensi terhadap resiko bencana alam,” jelasnya.
“Jadi dengan harapan, pengetahuan ataupun pesan-pesan yang dimiliki dan didapat murid-murid di sini bisa disebarluaskan kepada komunitas meraka juga. Jadi tidak hanya di sekolah, namun juga mereka membangun kesiapsiagaan becana di lingkungan tempat tinggal sekitarnya,” kata Christian.
Sementara itu, bagi siswa, simulasi kesiapsiagaan gempa dan tsunami ini menjadi edukasi tersendiri bagi mereka. Seperti yang dirasakan oleh Izawa Jaissya Ramzani dan Yana Ikhwana, siswa Kelas XI SMA.
Bagi Izawa yang baru merasakan simulasi tersebut, mengungkapkan bahwa mereka merasa mendapatkan wawasan baru jika sewaktu-waktu terjadi gempa maupun tsunami.
“Kami dapat mengetahui secara rinci dan bagaimana ketika terjadinya tsunami, apa yang harus kami lakukan dan apa yang harus kita persiapkan. Hingga kami mendapatkan bagaimana cara menangani korban yang mendapat luka,” ujarnya.
“Ini adalah simulasi yang pertama, khususnya simulasi gempa dan tsunami. Jadi kami sebelumnya, belum pernah mengikuti simulasi, namun hanya banyak diberikan sosialisasi bagaimana yang dilakukan pada saat terjadinya gempa dan tsunami,” ujarnya lagi.
Hal senada juga disampaikan oleh Yana. Baginya, dia menjadi lebih mengetahui apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa. “Sebelum mengetahui bagaimana cara mengevakuasi pada simulasi, kami hanya melakukan lari ke lapangan terbuka apabila terjadi gampa agar terhindar dari bangunan,” ungkapnya.
“Setelah kami mengikuti simulasi ini, kami sudah tahu bagaimana penanganan yang tepat terutama korban dan ke mana lari pertama, itu kami sudah tahu semua. Padahal sebenarnya kalau gempa tidak boleh panik,” kata Yana.[]






