BIREUEN – Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) Bireuen membuka Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan di bawah Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP).
Program studi (prodi) ke-11 tersebut diserahkan langsung izinnya oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL-Dikti) XIII Aceh, Dr. Ir Rizal Munadi, M.M., M.T., di kantornya, Jalan Sukarno Hatta, Banda Aceh, kepada Rektor Uniki, Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si., Kamis, 26 Januari 2023.
Saat menerima izin pembukaan prodi baru tersebut, Prof. Apridar menyatakan Aceh yang dahulunya kaya budaya dan seni dengan peradaban begitu tinggi, sekarang ini mulai redup dalam kehidupan masyarakat. Kesan yang mengemuka dan dirasakan saat ini, masyarakat Aceh pada umumnya kaku serta kering terhadap seni dan budaya. Padahal, dari dahulu secara turun temurun masyarakat Aceh begitu baik dan tinggi tingkat karakter budayanya.
“Keperkasaan kalangan pemuda masa lampau, khususnya dalam menampilkan Tari Sedati misalnya, yang mampu memerankan rangkaian cerita inspiratif dengan pertunjukan begitu dinamis serta tangguh, sekarang mulai langka. Begitu juga terhadap berbagai hikayat yang diadopsi dari Alquran dan Hadis sehingga mampu membangkitkan semangat untuk berjuang, juga mulai hilang dalam kehidupan masyarakat Aceh,” ujar Apridar.
Apridar menilai dengan semakin hilangnya budaya penuh edukasi tersebut, membuat budaya asing yang belum tentu sesuai karakter masyarakat Aceh yang islami mulai menggerogoti pola sikap masyarakat. Tingginya intensitas tayangan budaya asing di media sosial misalnya, dapat menghilangkan budaya Aceh yang memiliki seni begitu tinggi, serta mempunyai nilai-nilai edukasi.
“Untuk mengembalikan marwah Aceh ke depan, maka sangat diperlukan Pendidikan Seni Pertunjukan yang sejalan dengan kondisi masyarakat Aceh yang menerapkan Syarit Islam. Untuk mengurangi penggerogotan nilai-nilai seni yang bersumber sejalan dengan ketentuan syariat, maka kehadiran para pendidik di bidang seni pertunjukan sangat diperlukan,” tutur Apridar.
Apridar menjelaskan seni pertunjukan merupakan sebuah rumpun seni berfungsi sebagai sarana ritual, hiburan pribadi, dan presentasi estetis yang mengajarkan bagaimana selayaknya manusia berprilaku sosial. Dengan ungkapan budaya dan wahana untuk menyampaikan nilai-nilai budaya dan perwujudan norma-norma estetik-artistik yang berkembang sesuai zaman, dan wilayah di mana bentuk seni pertunjukan itu tumbuh dan berkembang.
“Seni pertunjukan merupakan cabang seni memiliki tiga unsur, yakni sutradara, pemain, dan penonton, yang mulai langka dalam kehidupan masyarakat, sangat perlu ditingkatkan melalui media untuk mengekspresikan rasa dan karsa manusia. Semoga ke depan Aceh akan memiliki lumbung seni sebagai cara efektif dalam membangkitkan produktivitas masyarakat,” ujar Apridar.
Ketua Pembina Uniki Bireuen, Dr. Amiruddin Idris, M.Si., yang juga Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) membidangi pendidikan, sangat bersyukur dengan terbitnya Izin Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan. Prodi yang masih langka tersebut merupakan jawaban terhadap kondisi masyarakat Aceh yang dipandang pihak luar begitu kaku dalam melakukan berbagai negosiasi.
Menurut Amiruddin, untuk meningkatnya keluwesan masyarakat, maka sangat diperlukan pelatihan dan pendidikan yang terstruktur dengan baik. “Semoga pada tahun 2030, sesuai visi yang telah ditetap, menjadikan Universitas Islam Kebangsaan Indonesia yang profesional, unggul, entrepreneur, islami, dan memiliki daya saing dapat diwujudkan serta mampu meningkatkan nilai seni secara proporsional”.
“Kehadiran Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan ini juga nantinya diharapkan dapat mendukung terhadap kebutuhan mentor untuk pendidikan vokasi di bidang seni pertunjukan khususnya,” pungkas Amiruddin.[](rilis)





