Oleh Yulia Erni*

Gol pembuka Oliver Giroud menit ke-17 ke gawang Sassuolo sontak melapangkan ekspektasi Milanisti tanpa ragu. Kini tiba waktunya jagoan mereka mengantongi juara, bukan pulang membawa tangan hampa.

Tak cukup sekali, pekan terakhir giornata penentu gelar Scudetto, penyerang timnas Prancis tersebut menegaskan pada menit ke-32 lewat gol kedua yang kembali gagal dihalau Andrea Consigli bahwa sebelah kaki sudah berada di podium. Tinggal menunggu juara di depan mata sekaligus menghapus kutukan nomor 9 dikenakannya yang sarat disebut-sebut nomor sial di tubuh klub Setan Merah Serie A warisan Filippo Inzaghi untuk delapan generasi bintang setelahnya. Ada Alexandre Pato hingga striker produktif Argentina, Gonzalo Higuain. Bersama nomor 9, kontribusi mereka sekejap mengering.

Milan hampir permanen dapat vonis bakal sial bersama nomor berlatar penyerang tersebut.

Sial tetaplah sial, akan melekat kental bersamanya. Tapi, Giroud berbeda. Piazza Duomo stadion saksi bagi pemilik piala Puskas Award buah gol cantik kalajengking saat masih berseragam Arsenal itu berhasil menentang mitos-mitos receh. Bahkan sumbangan brace-nya menjadi energi positif untuk menoreh satu keunggulan telak lagi 3-0 hasil tendangan Frank Kessie sebagai gol terakhir pada malam selebrasi bertepatan Minggu, 22 Mei 2022.

Hasil tersebut sudah cukup mengubur dalam-dalam impian rival sekota yang juga tengah bertarung menang. Meski mengakhiri laga dengan skor sama-sama 3-0, kemenangan Inter Milan atas Sampdoria tetap saja kenyataan pahit yang harus diterima atas keunggulan AC Milan dari klub kota barat Italia, Sassuolo. Terpaut dua angka dari anak asuh Stefano Pioli, skuad Simone Inzaghi harus puas menikmati kemenangan tanpa juara karena tak mampu menyalip poin. Sebab kumpulan angka torehan akhir giornata ke-38 jelas tertulis Rossonerri membukukan 86 poin, sedangkan Nerazzurri 84 poin.

Statistik ini cukup jelas menunjukkan gelar Scudetto jatuh ke tangan Milan Merah, bukan Milan Biru. Sebuah kemenangan dengan formasi sama (4-2-3-1), milik kota yang sama, hasil akhirlah pembeda.

Dalam kesempatan sama, kenyataan persis juga dirasakan Liverpool yang terpeleset kala duel bersama Manchester City. Apa mungkin nasib baik sedang menyapa para pelatih plontos? Tunggu dulu, jangan memancing emosi Jose Mourinho, sebab The Special One baru saja mencatat sejarah pertama juara UECL bareng AS Roma usai menyingkir Feyenoord.

Sejak awal menyandang status capolista, sorak gema euforia 18 ribu fans Milan telah membakar semangat laskar Normalizzatore yang kian tak sabar merebut Scudetto ke-19 di hadapan 21 ribu total penghuni tribun malam perburuan gelar setelah 11 musim absen. Sejatinya hanya 10 tahun saja jika musim 2012 indra penglihatan wasit Paolo Tagliavento tidak buram terhadap gol mutlak gelandang AC Milan Sulley Muntary yang ditepis dari tengah gawang dalam pengawasan Buffon, kiper anyar Juventus di bawah asuhan mantan pelatih AC Milan setahun sebelumnya saat meraih Scudetto. Ironis.

Mestinya hari ini kisah serupa terulang demi keadilan. Bola lesatan Ibrahimovich ke jaring Sassuolo berharap tak dapat laporan offside dari Video Assistant Referee (VAR) via pengadil lapangan Daniele Doveri untuk kenangan manis. Bukan semata karena perolehan tambahan hasil akhir 4-0, melainkan rumor gantung sepatu yang menyorot imigran Bosnia itu bakal menjadi penutup karir yang indah.

Kondisi demikian membuat ia tak puas. Terlihat nyata lewat kontrak semusim ke depan masih dikantonginya. Meski telah berulang tahun 41 kali, sangat setuju akan peran pentingnya yang tak boleh diabaikan, setidaknya sebagai mentor di ruang ganti.

Membuka lembaran 11 tahun silam, pemain yang pernah merumput di Malmo tersebut meraih Scudetto pertama berbaju Milan di bawah asuhan Massimiliano Allegri, pelatih yang musim ini bersama Juventus kembali menyandang gelar Zero Tituli (nol gelar). Pascakepergian berbasis tuntutan belas kasihan manajemen dari San Siro menjelang krisis finansial klub transisi rezim Berlusconi-Yong Li, bersama itu pula Milan timbul tenggelam dalam keterpurukan.

Publik sempat penasaran, mengapa muslim bertato itu yang harus dilepas? Sebenarnya sederhana. Zlatan Ibrahimovich dengan segudang talenta adalah alternatif tepat dijual demi mahar yang lebih besar untuk mengamankan bisnis.

Setelah diperkuat isu transfer, kisah serupa mungkin bakal dilakoni Frank Kessie Januari 2023. Untuk mendanai kedatangan bek Belanda, klub terpaksa melepas gelandang Pantai Gading. Jika benar terjadi, pantas kita ucapkan “selamat berlabuh di rumput baru, Hero Kessie, selamat datang di kota fashion, Sven Botman.”

Setelah mencaplok semua liga, Lord Ibra kembali mengukir sejarah serupa bersama mantan, hasil ide cemerlang si juru taktik mentereng. Siapa lagi kalau bukan Stefano Pioli. Bagaimana tidak, cukup belanja murah gaya khas hemat Paul Singer, pelatih 56 tahun itu sukses menggiring pemilik runner up Liga Champions menempati pemuncak Serie A Liga Italia musim 2022.

Perihal kecolongan medali di sela hingar bingar selebrasi, itu cerita lain saking terlena menikmati malam bahagia. Lagi pula kepolisian wilayah Carbinieri telah mengembalikan medali Scudetto Pioli tak lama setelah dicuri oknum.

Diakui atau tidak, hasil tersebut merupakan sebuah capaian fantastis bila ditilik harga semua pemain AC Milan lebih murah dibanding misal Paris Saint-Germain membayar gaji semusim seorang Kylian Mbappe dengan perlakuan spesial namun hasil yang didapat tetap sama yaitu sama-sama mempersembahkan juara kompetisi liga (ke Nasser Al-Khelaifi). Mungkin tak sedikit juga para pecinta bintang lapangan kota Eiffel yang setuju-setuju kesal bahwa Liga Prancis eksistensinya masih di bawah level Liga Italia.

Faktanya memang demikian. Contoh, empat tiket Liga Champions lewat persaingan ketat masih aman diperoleh. Sedangkan Ligue One berkapasitas daya saing domestik biasa-biasa saja hanya bertahan tiga slot.

Belum lagi jika dilihat ke belakang, sebuah masa di mana familiar Lega Calcio dengan sebutan “Beauty of Serie A” yang dihuni para pemain bintang dari penjuru benua menjadi liga paling dinanti dan digemari di seluruh dunia termasuk Indonesia yang sering dikoar-koar di RCTI oleh komentator veteran Bung Rayana Djakasurya dengan dialek Italianya.

Mana mungkin lupa superstar Trio Belanda dan Gre-No-Li Swedia pernah berjersey AC Milan. Duo Prancis Zinadine Zidane dan Michel Platini bersama Juventus. Abel Balbo dalam balutan AS Roma. Marcelo Salas dengan Lazionya. Javier Zanetti Inter Milannya. Atau paling ikonik sejarah terulang baru-baru ini pengabadian Stadion San Paolo disulap menjadi Diego Armando Maradona untuk mengenang mendiang legenda Argentina sebagai ikon klub kota Naples, Napoli. Dan seterusya.

Benarkah Scudetto Milan 2022 tak lepas dari tuah seorang Ibrahimovich? Santer terdengar dari semua laga yang dilakoni, Lord Ibra hanya tertambat hati sepenuhnya bersama klub pernah berjaya lama di Liga Eropa. Atau memang Hakan Calhanoglu yang kurang beruntung memilih sebrang klub se-Della Madonnina? Sebab setelah mematapkan diri hengkang, Dewi Fortuna pun belum berpihak. Lagi-lagi kedua klub kota Milan langsung angkat trofi sesaat setelah ia pergi. Tak ingin berkata “bisa jadi.”

Sepertinya lebih damai berasumsi bahwa di balik pesta Scudetto, mental konsisten klub adalah modal besar Romagnoli-CS tiba di panggung juara. Memang ada Krunic dengan pertahanan nyaris tanpa celah. Kekaleman Mike Maignan juru kunci utama pengantar klub ke kasta tertinggi negeri Pizza setelah membuat lawan mati gaya, di sana tak sekali pun bola pernah dipungut dari gawangnya. Wajar mendapat penobatan penghargaan pemain terbaik untuk pertama kali dalam sejarah Serie A kategori penjaga gawang.

Tak berlebihan mengistimewakan Rafael Leao yang berhasil membuat lawan minta ampun. Sangat masuk akal, kini Milan pun melakukan proses pembaruan nilai klausul pelepasannya sebesar 150 juta euro dan memastikan penyerang 22 tahun tersebut tidak bisa pergi dengan harga kurang dari itu. Jangan lupa ada Daniel Maldini pelengkap cerita juara berlabel gen tiga generasi yang makin kental menerjemahkan Milan sebagai “Home of Maldini’s Dynasty.”

Mewakili pertama dan terakhir, kebangkitan Milan di bawah jajaran Elliott Management Corporation semua tak lepas dari peran Ivan Gazidis, Paolo Maldini, Ricky Massara, serta Moncada. Sebagai tambahan, turut andil Alessandro Nesta, mantan bek mata sayu AC Milan dengan mantap menemani sepanjang laga. Dukungan jarak jauh juga mengalir dari Carlo Ancelotti. Ia meyakinkan reputasi karir mantan agar tetap bertahan di peringkat kedua dengan cara menghentikan langkah Liverpool di final Liga Champions 2022 yang tinggal menghitung hari melalui skuad Real Madrid-nya sebentuk motivasi diri serta penghormatan terhadap klub yang pernah dibidiknya 2005 silam kala ditakluk Liverpool dalam laga penuh drama di stadion Attaturk, Turki.

Kini di bawah tata kelola pengusaha New Jersey, Milan labil mendekati stabil. Diavollo Rosso terlihat mending dari sebelumnya.

Apa betul kemenangan AC Milan sebagai pemucak liga pertanda sebentar lagi klub bakal berpindah tangan? Trauma 11 tahun masih menghantui Milanisti. Perkara bukan terletak pada pengalihan kepemilikan klub ke pengusaha baru, melainkan kekhawatiran muncul bila klub dilepas salah alamat. Sekali salah melangkah, bukan mustahil Milan menjelma sebagai Parma nomor dua. Mengerikan.

Kata-kata mutiara Silvio Berlusconi edisi akhir “saya akan menjual klub kepada orang yang tepat” serta slogan pria berjuluk Mister Misteri (Yonghong Li) edisi awal “We Are So Rich” untuk meninabobokan Milanisti sungguh momok paling menakutkan.

Saat ini respons posistif satu dari dua mantan bos Milan masih diwakilkan oleh eks Perdana Menteri Italia. Ya, paling tidak ucapan selamat atas kembalinya kejayaan Milan langsung diunggah via akun Instagram lengkap emotikon hati merah hitam sebagai lambang warna abadi.
Pertanyaannya, mau dibawa ke mana nasib AC Milan setelah memboyong juara perisai Scudetto? Perisai kecil bergengsi mirip kejuaraan balap sepeda Tour de France itu.

Sudah mapankah Elliott Management melepas klub pemilik tujuh kali trofi Liga Champions ke bos baru? Siapa sesungguhnya pilihan tepat ala Paul Singer? Investcorp dari Bahrain? Atau perusahaan RedBird Capital Partners pemilik sebagian saham pebasket terkaya jebolan NBA LA Lakers yang menerima tudingan perusak negosiasi sang sultan? Mari kita lihat nanti siapa lebih unggul track record sebagai modal tikung-menikung. Lebron James dari Amerika atau Ahmed Al-Ardhi konglomerat Timur Tengah?

* Yulia Erni adalah Guru Olahraga. Alamat: Jalan Banda Aceh-Medan kilometer 121, Lampoih Saka, Pidie, Aceh. Hobi: Nonton sepak bola, membaca, menulis, bermusik. Organisasi: Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonseia sektor Pidie.