Oleh Yulia Erni*
Malang benar nasib Inggris dalam pertarungan ke-5 di Liga A Grup 3 kala menghadapi timnas Italia di stadion San Siro kota Milan usai menelan kekalahan pada pergelaran ajang UEFA Nations League (UNL).
Bersama Italia penderitaan terakhir anak asuh Gareth Southgate tuntas. Mari kita mengenang sesaat petualangan jejak Inggris dan Italia di partai final Euro 2020/2021.
Masih segar dalam ingatan saya, musim lalu keduanya tercatat sebagai finalis Euro 2020/2021 yang berjamaah tuan rumah dalam rangka menyambut ulang tahun ke-60 turnamen kasta tertinggi benua Eropa tak kecuali tribun kedua timnas tersebut juga memainkan peran. Ada Stadion Olympico Roma untuk open ceremony dan Wembley sebagai penutup laga. Unik.
Lebih dari 60 ribu penonton yang memadati stadion Wembley menjadi saksi karier Inggris tuan rumah final tamat di stadion keramat. Status Italia yang bertandang sukses membuat The Three Lions terkapar dalam drama adu penalti.
Gianluigi Donnarumma bertanggung jawab atas kelalaiannya di bawah mistar gawang saat Luke Shaw menghadiahi gol cepat ke gawang Gli Azzurri di awal babak. Memang semua tak akan berlaku jika bek Leonardo Bonucci tidak menyamakan angka di papan skor lebih dulu.
Sepertinya menghadapi Italia akan menjadi momok menakutkan tersendiri bagi timnas Inggris. Bagaimana tidak, jangankan bertandang ke San Siro di UNL, dijamu ke Wembley saat final Euro pun laskar Roberto Mancini tak gentar. Yel-yel “It’s Coming Home” ala tuan rumah, sekejap berubah jadi “It’s Coming Rome” oleh sang tamu. Trofi yang diidamkan pulang ke rumah, terpaksa pulang ke Roma.
Apa mungkin Inggris kena teror mental pascagagal juara Euro yang sekian lama ditunggu di rumah sendiri? Padahal mereka digadangkan unggul oleh publik yang berasumsi skuad La Nazionale berkualitas rendah.
Tifosi aliran Milanisti yang tengah muaknya menatap wajah kiper jangkung lantaran hengkang dari Milan penuh sandiwara itu seketika menawar damai. Meski kelak murka datang kedua kali karena tersingkir lagi dari Piala Dunia Qatar. Ini terdengar seperti berita baik bagi tim berjuluk Tiga Singa yang lolos Piala Dunia tanpa beban.
Sejarah berulang. Kedua kubu baru saja reuni kembali. Italia yang datang usai merana di Piala Dunia mewariskan tahta tersebut kepada timnas Inggris di ajang UEFA Nations League, Sabtu, 24 September 2022. Kini keduanya pun imbang menyandang status tim pesakitan dengan luka yang sama. Italia terdepak dari Piala Dunia. Di sisi lain, Inggris terdampar ke Liga B. Poin terakhir tak hanya terdengar ironi namun mengerikan. Bagaimana mungkin negara liga terbaik dunia didegradasi? Ya, di dunia sepak bola apa yang tidak mungkin!
Masih ingatkah tim debutan Senegal dengan pemain entah berantah membanting juara bertahan Prancis di Piala Dunia 2002 babak fase grup yang dihuni pemain sekelas Zinadine Zidane dan Fabien Barthez? Apa ini tidak terdengar lucu? Andai saja di Qatar nanti keduanya bertemu satu grup lagi, bukan mustahil Prancis pemilik juara bertahan edisi dua bakal trauma lagi menjamu wakil Afrika tersebut. Akan menambah deretan panjang catatan kutukan juara bertahan.
Tak hanya itu, Italia yang berada di peringkat tiga juara dunia sulit dipercaya dua kali berturut absen pada turnamen sepak bola bergengsi seantero benua apalagi sedang menyemat status juara bertahan Euro. Tak hanya kehilangan jati diri di hadapan publik dunia, penulis sendiri mendefinisikan Italia sebagai aib terbesar dalam sejarah sepak bola.
Statistik sepak bola tak ada yang statis. Selalu dinamis mengikuti musim. Tak perlu heran. Justru permainan benda berkulit bundar selalu indah dinikmati saat naik turunnya grafik performa pemain yang memberi sinyal bahwa permainan masih hidup namun masih dalam proses perjuangan yang belum usai. Dalam hal ini, saya sering memberi contoh seorang pasien di ruang ICU yang mana dokter akan memberi vonis mati jika garis pada layar monitor berjalan lurus.
Nasib pahit juga dialami Inggris. Giacomo Raspadori wujud nyata mimpi buruk skuad berlatar mubazir pemain papan atas tersebut. Gol mahakarya penyerang belia wakil Napoli, akhir kalam sukses membenam negara Ratu Elizabeth ka dasar klasemen.
Apa benar keunggulan Italia tak lepas dari gerak bebas mereka yang tak perlu repot-repot dan lelah menguras tenaga serta pikiran dalam mempersiapkan diri berangkat ke Piala Dunia berbasis di Timur Tengah?
Bersanding dengan tim bendera sama warna (Hongaria) sebagai pemuncak, apakah akan bertukar posisi karena Italia hanya mencetak gol tunggal saat menyingkir Inggris setelah sebelumnya menelan kekalahan 5-2 skor atas Jerman yang membuat konsistensi Manchio, sebutan lain perancang strategi timnas sempat oleng dan dipertanyakan. Inggris sendiri menempati peringkat paling bawah atau rangking empat sesudah Der Panzer yang berada di urutan ketiga. Dengan kata lain, sejalan regulasi, nasib Harry Kane Cs sebagai penghuni terakhir grup otomatis dilempar ke Liga B.
Melihat hasil buruk tersebut terlintas tanya besar, masih layakkah Gareth Southgate dipertahankan sebagai juru racik Inggris di Piala Dunia Qatar akhir musim ini? Jika tidak, lantas siapa orang yang tepat duduk di kursi pelatih Tiga Singa nanti? Mengapa tumbangnya skuad selalu berdampak pada pemecatan pelatih? Apa benar Harry Maguire penyebab flop-nya tampilan timnas selayak dalih loyonya Manchester United?
Sejatinya, sepak bola tak serta merta bisa dilihat dari celah ruang demikian. Beberapa fakta tak bisa dikaitkan satu konteks. Jika memainkan cara kerja algoritma, Italia juara bertahan Euro tak mungkin dipecundangi timnas yang pernah dipecundangi Indonesia yaitu medioker Makedonia Utara di babak play off pertengahan Maret lalu. Bakal sulit juga mendepak Inggris yang bermodal tim super mahal dengan status Leonardo Bonucci dan kawan-kawan aktif dua kali beruntun absen Piala Dunia.
Melihat lebih jauh ke belakang, Inggris dengan background segudang aktor lapangan mentereng hanya mampu satu kali angkat trofi Piala Dunia saat berperan tuan rumah. Konon, itu pun penuh kontroversi yang membawa timnas retak hubungan bilateral dengan beberapa negara Eropa. Entah benar atau sebaliknya.
Selama ini, apa kontribusi David Beckham, Paul Scholes, Frank Lampard, Steven Gerrard, John Terry, David Seaman, Michael Owen, Alan Sharer, Ryan Giggs, Gary Lineker dan petinggi lainnya di timnas atau Harry Kane sendiri pemilik sepatu emas Piala Dunia 2018 dengan nilai beli mewah? (Pahami lagi secara detail sepak bola, jangan lupa sisipkan sedikit ruang untuk pelajari politik di dalamnya).
Tim besar sering tergelincir tak menentu. Jika dikuak lebih lebar lagi, ada Belanda yang tak kalah gacor era trio Ruud Gullid, Frank Riijkard, dan Marco van Basten, namun hanya jago juara dua mewakili ribuan generasi “Van-Van” sebelumnya hingga era Robin van Persie pun mati gaya di hadapan Spanyol finalis pertama Piala Dunia 2010 silam di Afrika Selatan.
Selalu hadir fakta berbalik 360 derajat di lapangan hijau. Sepak bola ibarat mati, selamanya misteri, tiada titik temu. Begitu pun Raspadori, bocah 22 tahun sekaligus pahlawan tunggal negeri Pizza sukses mengirim tiket degradasi kepada rival sejak menit ke-68 berlangsung laga. Sungguh, banyak fenomena di luar duga.
Satu lagi, ada kuda hitam Hongaria pemilik juara di atas grup neraka. Saya tidak salah menulis, benar, Hongaria. Meski jauh dari sebutan andalan, namun tak bisa dipungkiri faktanya merekalah sang brilian saat ini, bukan Italia, Jerman, Inggris yang tak lebih dari tim beken gaya lama berpengalaman putus asa namun terus mengenakan topeng optimisme.
Sepak bola sulit ditebak yang selalu tersaji pemandangan arena togel. Rentan percaya nama besar, prediksi, serta menggantungkan sedikit kemenangan lewat jalur mimpi di balik keberuntungan angka-angka tanpa peran logika yang berujung kecewa juga bahagia. Namun demikian, selalu ada yang mati-matian jatuh bangun setia di sana. Anda tak percaya? Inggris dan Italia jawabannya.
Meminjam kata-kata manajer sepak bola Britania Raya, Bill Shankly “Orang-orang berpikir sepak bola perkara hidup mati, percayalah ini jauh lebih serius dari itu.”[]
*Yulia Erni adalah pengurus aktif PBSI Kabupaten Pidie dan bermukim di Lampoh Saka, Kecamatan Peukan Baro, Pidie.






