SUBULUSSALAM – Lembaga Wildlife Concervation Society – Indonesia Program (WCS-IP) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh menurunkan tim ke Subulussalam untuk meninjau lokasi kebun warga yang menjadi amukan gajah liar di Desa Subulussalam Timur, Kecamatan Simpang Kiri.

Kedatangan mereka untuk merespons laporan warga terkait keberadaan gajah liar yang selama seminggu terakhir semakin meresahkan warga setempat.

“Kemarin kami cek untuk merespons bagaimana karakteristik dampak dari gajah yang selama ini melintasi daerah itu,” kata anggota tim WCS-IP, Sukardi, Senin, 21 Maret 2016.

Mereka kata Sukardi juga bekerjasama dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser. Ia menjelaskan, WCS-IP bukan untuk menangkap tetapi mengusir, antisipasi, menangani dan mendampingi masyarakat dalam penanganan gangguan satwa (harimau, gajah atau orang hutan).

Phaknya kata Sukardi juga bertugas mendeteksi kemungkinan/potensi konflik antara gajah dengan manusia, sehingga langkah-langkah penanggulangan dini dapat dilakukan.

Strategi pengusiran binatang berbelalai panjang di sana diakui cukup sulit karena lokasinya berada di tengah perkampungan, seperti di sebelah timur (Desa Lae Mbersih), barat (Desa Tangga Besi), utara jurang dan selatan (Desa Subulussalam Timur).

Sementara luas hutan yang diperkirakan aman untuk gajah di sana menurut Sukardi tidak lebih dari 5 hektar sehingga sewaktu-waktu gajah bisa saja turun ke kemukiman warga.

Dilaporkan puluhan hektar tanaman perkebunan milik warga hancur akibat amukan gajah liar seperti kelapa sawit, kelapa, sayuran dan pertanian lainnya membuat petani merug. Warga berharap persoalan ini cepat diatasi.[](ihn)

Laporan Wahda di Subulussalam