Kamis, Juli 25, 2024

Capella Honda Gandeng Jurnalis...

BANDA ACEH - Dalam rangka kampanye Sinergi Bagi Negeri, PT Astra Honda Motor...

Kejari Gayo Lues Eksekusi...

BLANGKEJEREN - Kejaksaan Negeri Kabupaten Gayo Lues kembali mengeksekusi uqubat cambuk terhadap delapan...

Pj Bupati Gayo Lues...

 BLANGKEJEREN - Askab PSSI Kabupaten Gayo Lues mulai mengelar pertandingan sepak bola Antar...

Bank Indonesia Aceh Ajarkan...

BANDA ACEH - Bank Indonesia Provinsi Aceh, melaksanakan kegiatan Kick Off serentak implementasi...
BerandaNewsNasionalUsman Hamid Luncurkan...

Usman Hamid Luncurkan Lagu Rock “Sa Kong Sa” Kritisi Kebobrokan Penegak Hukum dan HAM

JAKARTA – Aktivis Hak Asasi Manusia dan advokat Usman Hamid merilis lagu solo pertamanya bergenre rock “Sa Kong Sa” sebagai bentuk kritik terhadap tunggang-langgangnya situasi hukum di tanah air belakangan ini.

“Sa Kong Sa” memuat kritik seputar perilaku kehidupan pejabat yang kerap berfoya-foya dari uang pajak, pungutan dan setoran ilegal di kalangan aparat pemerintahan dan pelaku bisnis hingga kekerasan aparat dalam Tragedi Kanjuruhan dan pembunuhan polisi junior secara sadis di luar hukum.

“Karya musik ini adalah ekspresi resah saya atas situasi hukum dan politik negara. Di luar itu, saya mencoba menuangkan hasrat musik rock yang tumbuh sejak masih sekolah,” kata Usman saat acara peluncuran lagu di Bentara Budaya Jakarta, Kamis, 30 Maret 2023, sore.

Dalam acara rilis lagu solonya, Usman ditemani oleh mantan vokalis Dewa19 Once Mekel dan Fajar Merah, musisi muda yang merupakan putra dari penyair Wiji Thukul yang diculik dan dihilangkan pada tahun 1997/1998.

Lagu ini, yang banyak dipengaruhi musik rock alternatif seperti Guns and Roses dan Rage Against The Machine, digarap sendiri oleh Usman sejak November 2022. Dengan bantuan sahabat-sahabatnya, Usman membuat video klip sederhana untuk melengkapi peluncuran “Sa Kong Sa” dengan konsep hitam putih tanpa menampilkan sang pencipta lagu.

Uniknya video clip tersebut dibuat menggunakan ponsel Usman sendiri.

“Saya memilih genre rock karena musik ini berpengaruh besar dalam hidup saya. Sekalian melepaskan energi dan emosi atas realitas,” kata Usman.

“Sa Kong Sa” adalah istilah berbahasa Mandarin yang artinya 303. Ini merupakan sebutan untuk sebuah konsorsium praktik judi yang masih ilegal di Indonesia. Isu ini sempat mencuat dalam kasus Nofryansah Joshua Hutabarat yang kematiannya menyimpan misteri terkait sebab musababnya.

“Proses penulisan lagu ini berawal ketika saya sulit tidur karena pikiran terus tertuju pada bahan-bahan informasi yang saya terima di luar berita. Ini bukan sekadar skenario bohong atas tewasnya Joshua. Tapi potret besar rusaknya institusi negara,” katanya.

“Mulanya saya rekam di telepon selular saat main gitar akustik. Lalu direkam di sebuah kamar milik seorang kawan musisi. Insya Allah ada lagu-lagu susulan yang bercerita isu lingkungan hidup, seperti nasib penggembala kerbau di Lombok. Lagu kedua mengangkat Tragedi Kanjuruhan, yang mencerminkan kecamuk hati saya begitu mengetahui 135 nyawa penonton terenggut akibat kesewenang-wenangan dan hingga kini kasusnya tidak diusut secara adil. Lewat lagu ini, saya juga ingin mengusik di mana rasa kemanusiaan pihak-pihak berwenang atas tragedi ini? Mohon simak lagunya, ya,” tambah Usman.[](*/ril)

Baca juga: