BANDA ACEH — Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, memperkenalkan berbagai potensi yang dapat dikembangkan di Aceh pada delegasi Yayasan Ilmuwan Malaysia, Kamis, 25 Januari 2018. Di antara potensi yang diperkenalkan adalah ekonomi, wisata, budaya, pendidikan, dan kesehatan.
“Kami mengharapkan ini menjadi awal baik untuk mengenal potensi Aceh lebih dalam sehingga banyak kerja sama ekonomi yang bisa kita lakukan,” kata Wagub saat menjamu rombongan para ilmuwan tersebut.
Selain potensi ekonomi, Nova Iriansyah juga menjelaskan penerapan syariat Islam di Aceh. Persoalan syariat Islam, ujar Nova, merupakan salah satu fokus pembangunan yang sedang dipacu di bawah kepemimpinannya bersama Gubernur Irwandi Yusuf.
Hingga kini, telah 16 tahun syariat Islam diterapkan di Aceh. Tercatat ada 15 qanun yang telah disahkan, di samping juga instruksi serta peraturan gubernur terkait dengan penguatan pelaksanaan syariat Islam.
“Tak hanya pembangunan fisik, kita juga gencar mengupayakan syiar Islam bagi seluruh masyarakat,” kata Wagub Nova.
Wagub Nova menjelaskan, syariat Islam di Aceh tak hanya sebatas pada pelaksanan hudud, atau pidana. Meski pidana menjadi salah satu unsur penting, masyarakat tetap dibina dengan ilmu-ilmu Islam.
Pemerintah Aceh bahkan ikut memberikan perhatian khusus pada perekonomian Islam. Di antara langkah yang dilakukan adalah mengkonversi Bank Aceh, bank milik pemerintah yang semula adalah bank konvensional menjadi bank dengan sistem syariah.
“Kita tengah merancang grand desain syariat Islam Aceh. Harapan kita nantinya grand desain itu bisa jadi rujukan pemerintah dalam menjalankan aktivitas di bawah naungan syariah,” kata Wagub.
Rombongan ilmuwan Malaysia dipimpin langsung oleh Dato Sri Dr. Muhammad Khirtoyo. Ia merupakan mantan Menteri Besar Negeri Selangor, yang juga Pimpinan Yayasan Kepemimpinan Ilmuwan Negara Malaysia. Dato Muhammad Khiryoto ke Aceh dalam rangka mencari informasi terkait pelaksanaan pembangunan Aceh dan penerapan syariat Islam.
Kedatangan mereka disambut unsur pimpinan daerah Aceh dan juga para pimpinan SKPA. Di antara yang hadir adalah para asisten pemerintahan, Wakil Rektor UIN Ar-Raniry, Kepala Dinas Syariat Islam serta Kepala Biro Humas Setda Aceh.
Dato Muhammad Khiryoto mengatakan, kedatangannya ke Aceh bukanlah yang perdana. Ia merupakan salah satu rombongan relawan pertama yang tiba ke Aceh saat tsunami 2004 lalu. Ia yakin Aceh akan menjadi daerah maju karena fondasi pembangunan dinilai telah kokoh.
Fondasi yang dimaksud adalah penerapan syariat Islam, yang menjadi dasar dari segala pembangunan di Aceh. “Kesadaran masyarakat Aceh dalam memuliakan agama Islam sangat kuat,” kata Muhammad Khirtoyo.
Penerapan syariat Islam di Aceh, ujar Dato Muhammad Khirtoyo, tidak mampu digugat oleh siapa pun bahkan oleh bangsa mana pun. Hal tersebut didasarkan atas penerapan syariat Islam atas kehendak seluruh masyarakat. “Kita ingin belajar dari Aceh,” kata Muhammad Khirtoyo.
Di Aceh, Dato Muhammad Khirtoyo bersama rombongan akan melihat beberapa pelaksanaan syariat Islam. Salah satunya adalah hukuman cambuk bagi pelanggar yang akan dilangsungkan besok di Jantho. Bukan hanya di Aceh, mereka juga akan melihat hukuman serupa di Brunai Darussalam. “Doakan kami sehingga hal serupa bisa kamu terapkan di Malaysia.”[] (*sar)





