Ramlah akrab disapa Wakram (51 tahun), sudah lebih dua bulan bekerja sebagai pengantar roti ke puluhan warung/kios di kawasan pusat Kota Lhokseumawe, Aceh. Wakram saban hari memakai masker saat menjalani pekerjaan itu di masa pandemi Covid-19.
Wakram mengaku tiap hari berangkat dari rumahnya di Desa Paya Punteuet, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, mengendarai sepeda motor ke home industry (industri rumahan/) milik Anto (33 tahun), di Desa Meunasah Alue, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, sekitar pukul 11.00 WIB.
Setelah mengambil 300 potong lebih roti gulung yang diproduksi home industry itu, Wakram mengantar ke warung-warung atau kios di kawasan pusat kota Lhokseumawe.
“Kalau sudah tiba waktu Zuhur saya pulang dulu ke rumah. Sampai di rumah baru buka masker dan sarung tangan. Setelah shalat dan makan siang, istirahat sebentar, kemudian berangkat lagi antar roti sampai waktu Ashar. Saya punya beberapa masker kain dan sarung tangan, jadi satu hari bisa pakai dua masker berbeda. Ketika yang satu dipakai, yang lain dijemur setelah dicuci. Begitu sarung tangan, biar selalu bersih dan terhindar dari wabah korona,” ujar Wakram saat ditemui di Warung Tejo Jus, Jalan Samudera Lama, Lhokseumawe, 3 November 2020.
Wakram memperoleh pengetahuan dari pemberitaan media cetak dan televisi tentang pentingnya menerapkan protokol kesehatan saat beraktivitas di luar rumah untuk mencegah penularan wabah Covid-19. “Pemerintah kan sosialisasi 3M seperti berita di koran dan nonton di tivi. Di kota juga banyak baliho cegah korona, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun atau air mengalir, dan menjaga jarak,” tuturnya.
Namun, sebagian masyarakat masih abai dengan protokol kesehatan. Di sejumlah warung yang menjadi tempat Wakram menaruh roti, pemilik maupun pelanggan warung tidak memakai masker dan menjaga jarak. “Kadang-kadang saya kasih saran juga. Kenapa kok enggak pakai masker, sebaiknya pakai supaya tidak kena korona,” ucap Wakram.
Menurut Wakram, selain mengikuti protokol kesehatan, menjaga kesehatan juga penting. “Pekerjaan seperti saya ini juga ada olahraganya karena banyak gerak. Jadi saya harus istirahat yang cukup biar fisik tetap bugar,” katanya.
Wakram mengaku hasil pekerjaan sebagai pengantar roti mencukupi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Suami Wakram, Abdul Hamid (53 tahun), merupakan bilang ojek. Namun, sudah lebih sebulan Abdul Hamid tidak dapat bekerja lantaran menderita batu ginjal.
“Alhamdulillah, kerja antar roti ini sangat menolong untuk kebutuhan keluarga, apalagi keadaan kekgini suami enggak sehat,” ucap Wakram.[Irm]



