Banda Aceh – Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, secara resmi membuka Program “AI Goes to School Offline Tahap 2” di Aula Tekkomdik Banda Aceh, Rabu (8/4/2026). Kegiatan ini menjadi langkah lanjutan dalam mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di lingkungan pendidikan.

Program tersebut merupakan inisiasi MAFINDO dengan dukungan Asian Venture Philanthropy Network (AVPN), serta berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh.

Sebanyak 65 guru Sekolah Dasar (SD) se-Kota Banda Aceh mengikuti pelatihan yang berfokus pada pemanfaatan teknologi AI dalam proses belajar-mengajar. Para peserta dibekali keterampilan untuk menciptakan metode pembelajaran yang lebih interaktif, inovatif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Dalam sambutannya, Illiza menyampaikan dukungan penuh Pemerintah Kota Banda Aceh terhadap program tersebut. Ia menilai, pelatihan ini menjadi bagian penting dalam menyiapkan tenaga pendidik yang adaptif terhadap transformasi digital.

“Program ‘AI Goes to School’ yang didukung AVPN ini sudah pernah kita laksanakan tahun lalu, dan tahun ini memasuki tahap kedua. Kita berharap para guru terus menjadi pionir dalam pemanfaatan teknologi, terutama yang berbasis AI,” ujarnya.

Illiza juga menegaskan bahwa program ini sejalan dengan visi “Banda Aceh Kota Kolaborasi”, khususnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memperkuat sektor pendidikan.

Menurutnya, penguasaan teknologi harus diimbangi dengan penguatan nilai-nilai lokal yang menjadi identitas daerah.

“Mari kita jadikan momentum ini sebagai langkah awal membangun ekosistem pendidikan yang inovatif, berdaya saing, sekaligus tetap berakar pada nilai keislaman dan budaya kita,” ajaknya.

Ia menambahkan, pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan diharapkan mampu membantu guru menciptakan pembelajaran yang lebih efektif tanpa meninggalkan karakter dan kearifan lokal.

“Dengan demikian, para guru mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan era digital, tanpa mengesampingkan nilai-nilai keislaman dan budaya Aceh,” tambahnya.

Kegiatan ini diharapkan menjadi katalisator bagi transformasi pendidikan di Banda Aceh, sekaligus memperkuat peran guru sebagai garda terdepan dalam membentuk generasi yang siap menghadapi tantangan era digital. [adv]