BANDA ACEH – Dunia memperingati Hari Talasemia Internasional pada 8 Mei 2026, yang setiap tahunnya digaungkan oleh Thalassemia International Federation (TIF). Tahun ini, tema yang diusung secara global adalah “Hidden No More: Finding the Undiagnosed. Supporting the Unseen.” Sebuah seruan untuk menemukan mereka yang belum terdiagnosis dan mendukung mereka yang selama ini tak terlihat.
Di Aceh, peringatan ini membawa makna yang jauh lebih dalam. Yayasan Darah Untuk Aceh (YDUA), yang pada 24 April lalu baru saja merayakan hari jadinya ke-14, menjadikan momentum ini sebagai refleksi sekaligus panggilan aksi.
Selama 14 tahun, yayasan yang didirikan pada 2012 ini telah mendampingi anak-anak pejuang talasemia, memenuhi kebutuhan darah pasien, serta membangun kepedulian kemanusiaan di Aceh dengan semangat yang tidak pernah padam: “Darah Sehat untuk Semua.”
Ketua YDUA, Nurjannah Husien, menegaskan bahwa perjuangan melawan talasemia bukan semata soal transfusi darah. “Selama 14 tahun, kami belajar bahwa harapan bisa lahir dari kepedulian sederhana. Dari satu kantong darah, dari satu tangan yang membantu, hingga dari satu komunitas yang memilih untuk peduli,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (8/5/2026).
Aceh menjadi salah satu wilayah paling terdampak di Indonesia. Provinsi ini mencatat prevalensi carrier (pembawa gen) talasemia tertinggi secara nasional, mencapai 13,4% dari total populasi, jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 6–10%. Artinya, hampir satu dari tujuh warga Aceh membawa gen talasemia, dan sebagian besar dari mereka tidak mengetahuinya.
Kondisi ini diperparah oleh minimnya edukasi di tingkat masyarakat, keterbatasan akses pemeriksaan di daerah terpencil, serta masih kuatnya stigma sosial yang membuat banyak keluarga enggan membuka kondisi anak mereka.
“Kami menyadari masih sangat banyak anak dan keluarga yang belum terdiagnosis serta belum terakses dengan pengetahuan tentang talasemia. Karena itu dibutuhkan kolaborasi semua pihak: pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, media, komunitas, hingga masyarakat luas,” tambah Nurjannah.

[Para pasien talasemia terima transfusi. Foto: YDUA]
Di lapangan, tantangannya nyata. Banyak anak penyandang talasemia mayor di Aceh harus menjalani transfusi darah rutin setiap dua hingga empat minggu sepanjang hidupnya. Sebagian keluarga terpaksa menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan satu kantong darah, sementara ketersediaan darah sehat dan dukungan layanan kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Dalam peringatan tahun ini, YDUA menyerukan lima agenda mendesak: peningkatan kesadaran masyarakat tentang talasemia, penguatan program donor darah sukarela, perluasan skrining dan deteksi dini khususnya bagi pasangan yang akan menikah, penghapusan stigma terhadap penyintas, serta penguatan kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
YDUA juga menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pendonor darah sukarela yang selama ini menjadi tulang punggung kehidupan para pejuang talasemia. Tak lupa, apresiasi diberikan kepada Palang Merah Indonesia (PMI), para dokter, perawat, petugas donor darah, serta seluruh rumah sakit yang tak henti mendukung pelayanan bagi pasien talasemia di Aceh.
Kepada para penyintas dan keluarga yang berjuang dalam diam, YDUA menyampaikan satu pesan: “Suara kalian penting. Semakin banyak keluarga yang bersuara, semakin banyak anak yang bisa terdiagnosis lebih awal dan mendapat pelayanan yang layak.”
Menutup peringatan ini, YDUA menggaungkan pesan kampanye yang menjadi inti dari seluruh gerakannya tahun ini: “Tak Terlihat Bukan Berarti Tak Membutuhkan.”
Peringatan Hari Talasemia Internasional 2026 akan diisi dengan berbagai kegiatan edukasi publik, kampanye media sosial, donor darah, dan penguatan solidaritas masyarakat terhadap anak-anak pejuang talasemia di Aceh.
YDUA mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, dan media untuk bersama-sama memastikan bahwa tidak ada satu pun penyandang talasemia yang terus tersembunyi dan terlupakan.[]







