BANDA ACEH Wali Kota Banda Aceh, Illiza sa`aduddin Djamal, menyinggung pola asuh anak yang sangat memprihatinkan saat ini. Menurutnya, penyebab nakalnya anak adalah karena salah pola asuh dan kurangnya waktu orangtua bersama anaknya.
Hal itu disampaikan Wali Kota, dalam saat menutup acara Dakwah Daiyah Ramadhan di Aula Balaikota, Sabtu 25 Juni 2016. Acara tersebut telah berlangsung dari 1 Ramadhan lalu yang dibuka di Masjid Baitul Musyahadah.
Dalam sambutannya Illiza mengatakan bahwa wanita merupakan tiang negara. Oleh karena itu, ia mengajak wanita untuk kuat, membangun fondasi kekuatan wanita itu adalah dengan iman dan taqwa.
Saya salut dengan perubahan dakwah daiyah setelah tujuh tahun. Pertama kita buat acara ini dulu hanya dihadiri oleh bebrapa orang saja bahkan tidak ada satu pun. Namun sekarang sudah ribuan ibu-ibu yang sangat antusias mengikuti pengajian ini, bahkan pakaian ibu-ibu sudah mulai syar`i sesuai tuntunan Rasulullah, ujar Illiza.
Dengan antusiasnya kaum hawa mengikuti pengajian ini, Illiza berharap semakin bertambahnya ilmu yang didapat dan semakin baiknya akhlak dalam pergaulan sehari-hari.
Cermin seseorang semakin berilmu itu adalah semakin baik akhlaknya, imbuhnya.
Banyak anak-anak yang sudah yatim sebelum waktunya. Artinya apa? Tidak hadirnya ayah untuk mengenalkan Allah dan Rasul kepada anak sehingga kelak akan cenderung hubbud dunya, cinta dunia, jelas Illiza, dalam siaran pers.
Dalam acara penutupan ini Kecamatan Banda Raya diberi penghargaan sebagai kecamatan terbaik yang mampu menghadirkan 2.000 jamaah pengajian. Sementara itu Kecamatan Baiturrahman dengan jamaah berjumlah 125 orang. Dan Kuta Alam meraih juara 3 yang mampu menghadirkan 100 jamaah.
Ibu Mariana dinobatkan sebagai jamaah terbaik karena selalu rutin setiap harinya menghadiri Dakwah Daiyah Ramadhan ini. Saat ditanya apa motivasi beliau, ia mengatakan karena punya niat untuk terus belajar dan menambah ilmu.
Sebenarnya saya ingin jadi Da`iyah juga, tapi belum berani dan terbiasa, tapi saya akan terus belajar, mohon doa dari semuanya, ujar Mariana.
Menariknya, Mariana tidak mempunyai kendaraan untuk menghadiri pengajian. Ia selalu menumpang sama siapa saja yang mau membantunya. Bahkan, ia sering menggunakan jasa Trans Kutaraja untuk mendalami keislaman pada Dakwah Daiyah Ramadhan tersebut.[]




