SUKA MAKMUE – Perusahaan Listrik Negara kembali menggelapgulitakan sebagian besar wilayah Nagan Raya dan sekitarnya menjelang berbuka puasa, Senin, 29 Mei 2017.
Pemadaman tersebut membuat masyarakat berang karena tak hanya menganggu persiapan berbuka, tapi juga menyebabkan pelaksanaan ibadah tarawih menjadi tak maksimal.
Heran kita akan sikap PLN, sudah tahu ini bulan Ramadan setidaknya ya jangan buat masyarakat susah. Ini bertambah susah akibat perbuatan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), kata Firdaus NB, warga Gampông Babah Dua, Kecamatan Tadu Raya, Nagan Raya kepada portalsatu.com.
Warga lainnya, Manaf Baihaqi, menilai PLN 'kurang iman' hingga harus memadamkan listrik di waktu-waktu yang penting bagi umat Islam seperti bulan Ramadan.
Kita itu dibuat tanda tanya, ada apa dengan PLN? Kenapa selalu pemadaman dilakukan saat bulan Ramadan, apa petugas PLN tidak ada yang muslim, bukan itu saja dipadamkannya listrik tepat saat berbuka, tarawih dan makan sahur, kan kita bingung di sini, ujarnya.
Dengan ulah PLN ini katanya justru membuat pahala puasa masyarakat berkurang karena mengumpat dan lain sebagainya. Seharusnya kata dia, masyarakat bisa fokus memperbaiki ibadah.
ini gara-gara PLN (roh tameuseurapa sabé) jadi kan pahala puasa kita berkurang karena itu, katanya.
Sejumlah warga Nagan Raya lain yang dimintai tanggapannya mengungkapkan kekecewaannya dan menilai PLN tidak prorakyat.
Selain itu, masyarakat juga meminta ada perbaikan kinerja dari PLN untuk pelayanan yang lebih baik.
Meunyoe han, bèk na lékeuh lampu, bah lagèe jameun (kalau begitu, jangan ada lagi listrik biar seperti zaman dulu),” kata salah satu warga.[] (*sar)




