BerandaBerita AcehWH Lepas Terduga Pelaku Khalwat di Bulan Ramadan, Mengapa?

WH Lepas Terduga Pelaku Khalwat di Bulan Ramadan, Mengapa?

Populer

SIGLI – Setelah sempat dikurung empat hari di kamar pembinaan Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hibah (Satpol PP-WH) Kabupaten Pidie, seorang pemuda dan wanita masih di bawah umur yang digerebek warga di sebuah toko karena diduga berkhalwat, Ahad (24/3), akhirnya dilepas kepada keluarganya.

Pemuda itu berinisial AF (24), warga Kecamatan Delima, Pidie. AF dan wanita masih di bawah umur diserahkan kepada keluarga dan perangkat gampong masing-masing. Saat penyerahan tersebut, Kabid Penegakan Perundang-undangan Daerah dan Syariat Islam Satpol PP-WH Pidie, Razali Yusmar, bertindak sebagai mediator di ruang penyidik Satpol PP-WH, Kamis (28/3), pukul 16:30 hingga 18:20 WIB.

Sebelumnya kepada portalsatu.com, Razali Yusmar mengaku pasangan pelanggar syariat tersebut belum bisa ditangani Satpol PP-WH karena pihak penggerebek dan penangkap belum membuat surat penyerahan yang ditandatangani perangkat gampong.

“Kita belum bisa melakukan penanganan terhadap pelaku yang diduga melanggar Qanun Aceh tentang Jinayat. Karena bukan kita yang menangkap. Mereka ditangkap warga, lalu kita amankan setelah ditelepon warga. Jadi, kita sudah meminta surat serah terima dari Keuchik Blok Bengkel, namun belum dibuat sampai saat ini,” kata Razali Yusmar, Rabu (27/3).

Disinggung si wanita yang diamankan itu masih di bawah umur sehingga perlu ada pendampingan sebagai korban dugaan pelecehan seksual, Razali mengaku pihaknya sudah menghubungi Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Pidie untuk koordinasi, namun Kadis tidak mengangkat Hp. Setelah itu dirinya tidak menghubungi lagi termasuk Kabid dan petugas lain.

“Kita pun tidak berani menangani, jangan sampai dituduh melanggar undang-undang perlindungan anak. Kita sudah coba telepon langsung ke Kadisnya, tetapi tidak diangkat Hpnya. Ya, tidak kita hubungi lagi,” ujar Razali Yusmar.

Sementara dari Bidang Perlindungan Anak DP3AKB Pidie, baik Sekretaris Nurmadani, Kabid Perlindungan Anak, Faltha Yunis kepada portalsatu.com, Rabu (27/3), mengaku belum menerima laporan adanya penahanan perempuan di bawah umur di Satpol PP WH.

“Kita tidak masuk laporan tentang koordinasi dari Satpol PP-WH terkait penangkapan anak di bawah umur yang menjadi korban pelecehan seksual. Bahkan sudah kami tanya kepada Kasi, juga belum ada laporan,” ujar Faltha Yunis.

Perempuan di bawah umur digerebek warga lalu dikurung di kamar pembinaan mirip penjara di Kantor Satpol PP-WH, tanpa diberikan pendampingan sebagai korban pelecehan dan juga trauma saat dilakukan penggerebekan oleh warga. Dari kejadian itu diduga ada hak anak yang sudah terebut, yang semestinya wajib dilindungi dan diobati, termasuk psikologis akibat ketakutan berlebihan. Akan tetapi pihak Satpol PP WH menyerahkan kepada keluarga begitu saja tanpa pendampingan baik lembaga pemerintah maupun LSM perlindungan anak.

Keanehan lain dalam proses pelepasan terduga pelaku khalwat kepada keluarga tanpa dihadiri pihak penangkap dari Gampong Blok Bengkel. Menurut Razali, pihaknya sudah menghubungi perangkat Gampong Blok Bengkel, tetapi tidak ada yang datang. Sehingga proses perundingan dan penyerahan kepada keluarga terus dilangsungkan.

Dalam memimpin musyawarah, Razali mengaku dirinya hanya menjalankan instruksi dari pimpinan setelah pihak keluarga pelaku mengajukan surat kepada pimpinan. Dasar surat persetujuan itulah, dirinya berani melaksanakan musyawarah antarkedua belah pihak.

Adapun surat serah terima yang ditandatangani penerima dari Delima diwakili Tuha Puet Gampong dan dari Batee diwakil Sekdes. Sedangkan yang menyerahkan Gabaruddin, Kasi Bimbingan, Pengawasan dan Penyuluhan (Binwasluh) Satpol PP-WH. Surat tersebut juga ikut ditandatangani Razali Yusmar selaku Kabid.

Sejumlah kalangan menilai penegakan syariat Islam di Pidie terkesan “tebang pilih”. Ada kasus pelakunya dicambuk puluhan kali bahkan sampai seratus, tetapi ada juga kasus yang bisa “dinego” sehingga dikembalikan kepada masyarakat dengan berbagai alasan. Salah satu alasan tidak ada serah terima dari penangkap kepada pihak Satpol PP-WH.

“Masa ditangkap khalwat di bulan Ramadan, dilepas begitu saja. Bukankah itu hukum syariat dipermainkan atau bisa dinego,” ungkap Syukur, salah seorang warga Pidie.

Sebelumnya diberitakan sepasang nonmuhrim digerebek warga Gampong Blok Bengkel, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, di dalam toko Jalan Iskandar Muda, Ahad, 24 Maret 2024, sekira pukul 10:00 WIB. Terduga pelaku khalwat tersebut diserahkan kepada Wilayatul Hisbah (WH) untuk proses lebih lanjut.

Pasangan itu sempat tidak membukakan pintu saat digerebek sejumlah warga setempat. Sehingga warga terpaksa melempar batu ke atap kanopi toko dan akhirnya pintu dibuka.

Cut Lem, warga Gampong Blok Bengkel mengatakan sepasang terduga pelaku khalwat itu berinisial AF (24), warga Kecamatan Delima yang bekerja sebagai penjaga toko penyedia makanan kucing. Sedangkan pelaku perempuan berusia 15 tahun.

Hal itu dibenarkan Kasatpol PP-WH Kabupaten Pidie melalui Kabid Penegakan Perundang-undangan Daerah dan Syariat Islam, Razali Yusmar, Senin (25/3), saat dikonfirmasi portalsatu.com.

“Benar, kemarin sekitar pukul 12:00 WIB, tokoh masyarakat Gampong Blok Bengkel menyerahkan sepasang pelaku kepada kita untuk diamankan,” kata Razali di Ruang Penyidik Satpol PP-WH.[](Zamahsari)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya