Ketika Umar sudah berkuasa beberapa waktu, Ali bin Abu Thalib dan sejumlah sahabat sepakat untuk menaikkan gaji Umar yang sudah menjadi khalifah. Namun, mereka enggan menyampaikan langsung ke Umar karena sungkan dan takut Umar marah. Akhirnya, Ali dan para sahabat menemui putri Umar, Hafsah, yang juga salah satu istri Rasulullah SAW. Mereka memintanya untuk memberitahukan ke ayahnya.
Hafsah setuju. Namun usulan naik gaji itu ditolak mentah-mentah oleh Umar. Umar dengan marah meminta Hafsah untuk memberitahu siapa yang mengusulkan dia menerima kenaikan gaji. Ia ingin memberi pelajaran kepada pengusul kenaikan gaji itu.
Umar kemudian meminta Hafsah menceritakan bagaimana Nabi Muhammad SAW sewaktu menjadi khalifah. Kata Hafsah, Rasulullah hanya mempunyai dua pasang baju, selembar kain kasar untuk alas tidur, makan roti dengan tepung kasar yang dicampur garam.
Umar berkata pada Hafsah, bahwa Rasulullah dan Abu Bakar RA telah memberi contoh bagaimana hidup sederhana seorang khalifah. Maka Umar akan mengikuti contoh kedua tokoh tersebut.
“Seugolom tapimpin gob, tapimpin droe dilee”.
Kisah di atas mungkin bisa memberi kita sedikit inspirasi. Kecuali hati kita bebal dan tertutup. Umar punya inspirasi dari Rasul dan Abubakar. Sebab beliau sadar menjadi pemimpin artinya mengemban amanah publik. Jangankan mengambil yang bathil, yang hak saja bila menurut beliau tak pantas, beliau akan menolak dengan tegas. Kita tentu tidak berharap pemimpin kita se ekstrim itu. Tapi kita berharap spirit itu dipunyai pemimpin kita. Spirit untuk menjauhkan diri mengedepankan kepentingan pribadi dan kluarga. Konon lagi bicara fasilitas. Pemimpin kita mendapat yang amat pantas. Bukan hanya berkecukupan tapi mewah.
Namun apakah para pemimpin kita taat atas amanah? Tidak memanfaatkan jabatan untuk diri, kroni dan keluarganya? Silahkan nilai sendiri dengan mata hati. Walaupun hari ini pemerintah Aceh misalnya sudah mendapat predikat WTP dari BPK. Ini memang membuat sejarah. Kali pertama terjadi untuk pemerintah Aceh. Tentu membanggakan. Layak kita apresiasi kerja keras gubernur dan timnya. Administrsi pemerintah Aceh sudah tertip. Pemasukan dan pengeluaran pemerintah Aceh sudah dapat dipertanggungjawabkan secara administratif. Neraca pemerintah Aceh sudah balance.
Kembali pada cerita di awal, bahwa soal kepemimpinan bukan sebatas administratif saja. Bukan soal legal formal saja. Bukan soal neraca. Tapi yang paling pokok adalah amanah. Pemimpin adalah orang yang dapat mandat atau amanah dari yang dipimpin. Pasti mereka menginginkan kebaikan dari pemimpin. Menginginkan urusannya dipermudah. Bukan “dijok parang bak ureung koh takue teuh”.
Saat ini Aceh begitu berlimpah uang. Tapi angka angka menunjukkan pengangguran tinggi. Kemiskinan tinggi. Mengapa bisa begitu? Nah inilah korelasi WTP dengan kepemimpinan. WTP tidak menjamin program pemerintah berdaya guna dan berhasil guna. WTP hanya menjelaskan alur administrasi benar. Tidak menyebutkan bahwa tidak ada kongkalingkong di sana. BPK tidak bisa mendeteksi bahwa orang di sekeliling kekuasaan menggarong anggaran . Tidak mampu mendeteksi mafia proyek. Tidak mampu mendeteksi tingkat kemanfaatan anggaran itu.
Adakah yang berani menjamin di pemerintah Aceh saat ini KKN tidak tumbuh subur? Adakah yang menjamin pemimpin,keluarga, dan kroninya tidak memanfaatkan situasi dan kondisi. Lihat saja kehidupan mereka yang mendadak jadi orang kaya baru. Hanya orang buta,tuli dan tidak waras yang berani menyatakan pemerintah ini bersih. Pemerintah ini sudah menjalankan amanah. Sudah memenuhi janji kampanye mereka. Maka WTP hanya menjelaskan cara yang baik untuk menpertanggungjawabkan kebohongan. Adakah pemimpin kita yang mengaku muslim, kemudian meneladani Umar?
Pemimpin hari ini begitu membanggakan WTP sehingga dengan bangga “menerima tepuk tangan” dengan iklan yang banyak dan panjang. Urusan rakyat yang tidak berubah itu bukan urusan mereka. Urusan mereka bagaiamana menjaga kobohongan. Bagaimana ini menjadi kredit poin untuk terpilih kembali. Bila Umar menganggap jabatan sebagai musibahm maka pemimpin kita melihat jabatan sebagai kesempatan. Kesempatan untuk menyuburkan KKN. Kesempatan menelikung rakyat. Maka biarpun telah gagal, tapi tidak malu untuk menyatakan sukses, dan tetap merasa pantas untuk dipilih lagi.
Bila bagi Umar perut rakyat lebih penting ketimbang perut pribadi dan keluarganya. Peminpin kita sebaliknya. Semoga mereka sadar jabatan itu bukan hanya mereka pertanggungjawabkan kepada BPK tapi juga kepada Allah pemilik dan pemberi segala jabatan. Amin.[]




