LHOKSEUMAWE – Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak pengungsi Rohingya di tempat penampungan sementara di bekas Kantor Imigrasi Kota Lhokseumawe, Selasa, 23 Juli 2024.

Hari Anak Nasional (HAN) diselenggarakan setiap 23 Juli sesuai dengan Keputusan Presiden No 44 Tahun 1984, merupakan sebuah peringatan dan juga momentum bagi segenap elemen bangsa dalam mewujudkan dan memenuhi hak-hak anak. HAN diperingati sebagai wadah untuk kampanye tentang pemenuhan hak anak atas hidup, tumbuh kembang, dan berpartisipasi secara wajar dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Menurut UNHCR, pengungsi Rohingya terus mencari keselamatan dengan menempuh perjalanan kapal yang berbahaya di laut meskipun telah mengetahui risikonya. 2022 adalah salah satu tahun paling mematikan dalam sejarah pergerakan maritim pengungsi Rohingya di Asia Tenggara. Sebanyak 348 orang secara tragis dipastikan tewas atau hilang, termasuk anak-anak.

Pengungsi Rohingya tidak hanya mencari keselamatan di Indonesia. Mayoritas pengungsi Rohingya telah melarikan diri dan diberi status pengungsi di Bangladesh (lebih 960.000), Malaysia (lebih 107.000), dan India (lebih 22.000).

Lebih dari 70% pengungsi Rohingya yang mendarat di Indonesia selama sebulan terakhir adalah perempuan dan anak-anak.

“Di tempat penampungan sementara pengungsi di eks-Kantor Imigrasi Kota Lhokseumawe, hak anak-anak yang paling nyata tidak terpenuhi adalah hak atas pendidikan dan hak untuk bermain bagi anak-anak yang berada dalam di penampungan,” ujar Hanum A. Rahman, Officer Yayasan Geutanyoe, dalam keterangannya, Rabu (24/7).

Untuk memenuhi salah satu hak anak yaitu hak tumbuh kembang, pada Hari Anak Nasional tahun 2024, Yayasan Geutanyoe melaksanakan beberapa kegiatan yang melibatkan 227 anak pengungsi. Semua kegiatan ini didanai CLFI – Canada.

[Foto: Yayasan Geutanyoe]

Kegiatan tersebut antara lain lomba makan kerupuk, lomba bawa bola pakai sendok, dan lomba melempar bola.

Selain perlombaan tersebut, dalam keseharian anak-anak pengungsi juga diajarkan literasi seperti bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Sehingga mereka bisa merasakan pendidikan walaupun bukan pendidikan formal.

Kegiatan literasi ini dilaksanakan Yayasan Geutanyoe sebagai bentuk pemenuhan hak anak untuk bisa menerima pendidikan dan tumbuh kembang.

Untuk mendukung hak anak sehat, Yayasan Geutanyoe juga menginisiasi dokter spesialis untuk melakukan kunjungan ke pengungsian secara mandiri setiap sebulan dan pengungsi bisa mengakses melalui klinik yang tersedia di tempat penampungan.

“Total jumlah pengungsi di eks-Imigrasi Lhokseumawe 407 orang dan kapasitas penampungan yang tidak mencukupi ditambah perlakukan yang pernah didapat dari pengungsian di Cox Bazar membuat mereka butuh perlindungan. Ini sangat mempengaruhi tumbuh kembang dari anak-anak pengungsi,” ujar Hanum.

Untuk mengetahui tentang Yayasan Geutanyoe, kunjungi www.geutanyoe.id.[](ril)