Kamis, Juli 25, 2024

Capella Honda Gandeng Jurnalis...

BANDA ACEH - Dalam rangka kampanye Sinergi Bagi Negeri, PT Astra Honda Motor...

Kejari Gayo Lues Eksekusi...

BLANGKEJEREN - Kejaksaan Negeri Kabupaten Gayo Lues kembali mengeksekusi uqubat cambuk terhadap delapan...

Pj Bupati Gayo Lues...

 BLANGKEJEREN - Askab PSSI Kabupaten Gayo Lues mulai mengelar pertandingan sepak bola Antar...

Bank Indonesia Aceh Ajarkan...

BANDA ACEH - Bank Indonesia Provinsi Aceh, melaksanakan kegiatan Kick Off serentak implementasi...
BerandaBerita AcehYayasan HAkA Minta...

Yayasan HAkA Minta APH Tindak Pelaku Perusakan Kawasan Hutan Lindung di Subulussalam

BANDA ACEH – Berdasarkan pemantauan yang dilakukan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (Yayasan HAkA) melalui interpretasi secara visual manual citra satelit Landsat 8 dan 9, Sentinel 2, dan Planetscope serta alat bantu lainnya, ditemukan adanya aktivitas pembukaan lahan sehingga menyebabkan kehilangan tutupan hutan seluas kurang lebih 14 hektar pada kawasan hutan lindung di sekitar Desa Cipar-pari Timur, Namo Buaya, Singgersing Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh.

Yayasan HAkA melalui Manager Legal & Advokasinya Fahmi Muhammad mengatakan pembukaan lahan dalam kawasan hutan lindung tersebut diduga dilakukan oleh PT. SPT tanpa izin. Karena itu, ia meminta agar pelaku pembukaan lahan dalam kawasan hutan lindung ini segera ditindak oleh Aparat Penegak Hukum.

“Sebelumnya Yayasan HAkA juga telah menyampaikan informasi tentang adanya pembukaan lahan dalam kawasan hutan lindung ini kepada pihak kepolisian,” kata Fahmi Muhammad dalam keterangan pers rilisnya diterima portalsatu.com, Selasa, 25 Juni 2024.

“Pembukaan lahan dalam kawasan hutan lindung ini jelas merupakan perbuatan ilegal kehutanan. Oleh karena itu, kami meminta Aparat Penegak Hukum untuk segera melakukan penindakan tegas terhadap pihak-pihak yang terlibat,” tegas Fahmi Muhammad.

Menurut Fahmi pembukaan lahan dalam kawasan hutan lindung bukan hanya persoalan pelanggaran hukum, tapi juga merusak ekosistem hutan yang sangat penting bagi keberlanjutan lingkungan.

Sejauh ini masyarakat mengeluhkan kondisi air sungai yang berubah menjadi keruh, diduga akibat aktivitas pembukaan lahan. Fahmi mengkhawatirkan jika pembukaan lahan terus berlanjut, kedepan akan timbul dampak-dampak lain yang lebih besar.

“Sekarang kita dengar keluhan masyarakat soal air keruh, jika ini tidak dihentikan, tidak tertutup kemungkinan dampak lebih besar akan terjadi,” paparnya.

Yayasan HAkA menegaskan komitmennya dan mengajak seluruh masyarakat untuk terus memantau penindakan terhadap kasus ini. “Kami berkomitmen untuk terus memantau kasus ini, kami juga mengajak masyarakat ikut bersama-sama memantau, untuk memastikan kasus ini ditindak,” ucapnya.[]

Baca juga: