Jumat, Juli 19, 2024

Rekomendasi HUDA Berisi 22...

BANDA ACEH - Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh (PB HUDA) mengeluarkan rekomendasi...

Lebih 170 Bangunan Rusak...

ACEH UTARA - Sebanyak 173 bangunan dilaporkan rusak akibat diterjang badai (hujan deras...

Inilah Struktur Lengkap Kepengurusan...

BANDA ACEH - Ketua Umum Majelis Syuriah Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh...

Samsul Azhar Dilantik sebagai...

BANDA ACEH - Pj. Gubernur Aceh, Bustami Hamzah, melantik Samsul Azhar sebagai Pj....
BerandaNewsYDSF dan ACT...

YDSF dan ACT Latih Menjahit Pengungsi Rohingya dan Warga Blang Adoe

LHOKSUKON – Yayasan Dana Sosial al-Falah (YDSF) bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengeglar pelatihan menjaht bagi 35 peserta yang terdiri dari pengungsi Rohingya dan warga Gampong Blang Adoe, Aceh Utara.

Pelatihan untuk pengungsi dan warga sekitar yang bertempat tinggal di sekitar Integrated Community Shelter (ICS) yang akan berlangsung selama empat bulan ke depan tersebut dimulai hari Sabtu 9 Januari 2016.

Koordinator ICS, Zulkarnaen menyebutkan, pihaknya sengaja memilih program ini dijalankan berbarengan antara warga sekitar dengan pengungsi Rohingya, agar pelatihan tersebut menajdi media bagi interaksi langsung antara pengungsi dengan warga Desa Blang Adoe.

“Kami sengaja membuat satu kelas. Tujuannya supaya warga dan pengungsi bisa saling berkomunikasi secara langsung,” katanya dalam siaran pers.

Rukiah Begum, 20 tahun, salah seorang pengungsi Rohingya mengaku sangat gembira terpilih untuk mengikuti program menjahit tersebut. “Saya senang mengikuti program ini karena waktu di Burma tidak ada kesempatan untuk belajar. Meski saya bisa sedikit  menjahit dari melihat orang lain menjahit saat masih berada di Burma,” katanya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh salah seorang pengungsi lainnya, Raihana Begum, 15 tahun.  

“Di Burma, kami tidak diberi kesempatan untuk belajar apa pun. Alhamdulillah di sini kami mulai diajarkan menjahit. Pelatihan seperti ini sudah lama kami nantikan. Semoga nanti saya bisa jahit jilbab, baju dan lain lain untuk dijual agar punya uang,” katanya dengan penuh semangat.

Salah seorang peserta dari Gampong Blang Adoe, Aceh Utara, Nilawati M Taeb, 28 tahun, mengaku sudah bisa sedikit menjahit namun belum pintar membuat pola.

“Karena itu saya berharap nanti setelah mengikuti program ini saya sudah bisa membuat pola sendiri. Jadi dengan begitu saya bisa menjahit baju untuk saya sendiri dan anak anak,” ujarnya.

Geuchik Blang Adoe, Zulkifli, menyampaikan apresiasi kepada lembaga donor YDSF yang telah menyumbang mesin jahit. Ia juga berterimakasih pada ACT yang telah memilih warganya untuk ikut ambil bagian bersama warga Rohingya guna mengikuti pelatihan keterampilan menjahit. 

“Program pelatihan selama empat bulan ini saya yakini akan berhasil. Warga yang tadinya tidak punya keterampilan menjahit, hari ini akan dilatih untuk bisa menjahit. Kalau sebelumnya cuma bisa memperbaiki baju yang robek, insya Allah nanti sudah bisa menjahit baju baru,” katanya.

Nila Anggraini, (35) dari Krueng Geukueh, Aceh Utara, dipilih sebagai instruktur untuk melatih peserta selama empat bulan ke depan. Nila merupakan salah satu pemilik butik, yang sudah memiliki pengalaman sekitar 12 tahun dalam bidang konveksi.[]

Baca juga: