Zaskia kini sedang dihujat habis-habisan. Katanya gara-gara pemilik goyang itik ini menghina lambang negara, sila kelima Pancasila. Entah apa alasannya. Namun, menurut kabar yang tersiar ia melakukan itu karena tidak tahu. Katanya, si Eneng tidak tamat SD, pendidikannya rendah. Begitu kabar yang saya baca melalui media online.

Ada pula yang mengatakan bahwa itu setting-an penyelenggara Dahsyat. Namun, kabar selanjutnya saya baca di media, hal itu dibantah oleh pihak Dahsyat. Mereka mengaku, setelah kejadian itu, Zaskia ditegur agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

Terlepas dari apa pun alasannya, saya tidak ingin membahas perkara itu. Yang ingin saya katakan bahwa ucapan si Eneng itu menurut saya adalah asbun (asal bunyi).

Asbun sering ditujukan untuk orang yang asal berbicara tanpa memikirkan efek bagi dirinya, orang lain, bahkan juga negara. Asbun berangkat dari ketidaktahuan seseorang terhadap sesuatu. Dia berbicara sekenanya saja agar suasana lebih meriah.

Begitulah barangkali Zaskia Gotik. Dia berbicara sekenanya saja, tanpa memikirkan akibatnya, tujuannya supaya orang lain tertawa mungkin.

Bahasa Aceh juga punya padanan kata untuk asbun ini. Namanya, asai ka jihah. Meski bukan akronim seperti asbun, maknanya tak jauh berbeda dengan itu. Secara terminologi, asai berarti asal, ka berarti sudah, ji merupakan persesuaian kata ganti orang dari jih, dan hah berarti membuka (mulut). Dengan makna secara keseluruhan adalah asal berbicara, asal bunyi atau asbun.

Seperti halnya asbun, asai kajihah ini juga ditujukan kepada orang yang berbicara sekenanya saja, tanpa memikirkan benar atau tidak, baik atau tidak, dan mengacuhkan akibatnya untuk diri sendiri atau pun orang lain.

Meski ada kesamaan dengan asbun, nuansa makna asai kajihah berbeda dengan asbun. Ungkapan bahasa Aceh itu berangkat dari kekesalan atau bahkan kemarahan pihak pendengar kepada pembicara. Pihak yang menjadi sasaran ungkapan itu kemungkinan besar tersinggung sehingga memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan percakapan.

Tak jauh berbeda dengan asai ka jihah, ada juga ungkapan lain yang maknanya hampir sama, yaitu asai ka meujungkat keung.Jungkat berarti ‘dinaikkan’, sedangkan keung berarti dagu. Ungkapan ini juga digunakan untuk tujuan yang sama seperti asai ka jihah. Bedanya, asai kajihah lebih bermakna kias atau perumpamaan karena tidak semua orang bericara meujungkat keung.

Maka, dalam bahasa Aceh, candaan Eneng Zaskia Gotik itu disebut asai ka jihah atau asai ka meujungkat keung.[]