Untuk melemahkan sebuah bangsa, sejarahnya dikaburkan. Kegigihan pejuang masa dahulu tidak diajarkan dalam buku-buku sejarah di sekolah.

Salah satu upaya melawan “program penghapusan” sejarah kegemilangan bangsa Aceh, secara berkala kami sekeluarga mengunjungi atau ziarah batin ke makam-makam ulama dan pejuang Aceh.

Senin, 26 Juni 2023, saya mengajak anak-anak mengunjungi Kompleks Makam Tengku Syekh Tuan di Bitay, dekat Gampong Emperom, yang bernama asli Muthalib Ghazi bin Mustafa Ghazi.

Ghazi berasal dari bahasa Arab yang digunakan juga di masa Ottoman untuk menyebut seorang pejuang petempur hebat atau warrior.

Bitay sendiri berasal dari nama Ma’had Baitul Maqdis, Kompleks Akademi Militer Kerajaan Aceh. Dari akademi itu lahir pahlawan-pahlawan besar Aceh yang menjadi benteng pertahanan Islam di Nusantara dari serbuan bangsa Eropa khususnya Portugis. Menurut sejarah, Laksamana Keumala Hayati bersama suaminya, merupakan hasil gemblengan akademi tersebut.

Emperom, berasal dari kata Imperium, nama yang diberikan pejuang Turki untuk mengingat ibukota khilafah di Konstantinopel. Gampong Emperom pada zaman itu menjadi gudang penyimpanan senjata dan alat militer.

Akademi Militer Ma’had Baitul Maqdis di Gampong Bitay merupakan tanda cinta bangsa Turkiye kepada bangsa Aceh. Khalifah Ottoman, Ḳānūnī Sulṭān Süleymān dan anaknya Sultan Selim II, tidak hanya mengirimkan ahli militer, teknisi meriam dan senjata, juga ulama-ulama pejuang hebat seperti Tengku Syekh Tuan di Bitay ke Aceh.

Akademi ini di masa Sultan `Ala ad-Din Ri’ayat Syah al-Kahhar memerintah, mempunyai cadet dan instruktur dari berbagai bangsa yang berada di bawah Kesultanan Ottoman seperti Turkiye, Mesir, Swahili, Somali, Sindhi, Gujarati, pelaut Malabar dan Janjira.

Pascatsunami, kompleks kuburan ini direhab oleh pemerintah Turkiye.

Tidak jauh dari makam Tengku Syekh Tuan di Bitay, ada juga kompleks kuburan ulama yang dikenal dengan julukan Tuan Maqdum, bernama asli Sayyid Muhammad Ibnu Sayyid Al Kadir. Beliau ulama pendakwah yang juga seorang pejuang.

Perjuangan tidak pernah berhenti. Kalau kita mengikuti geunareh endatu, insya Allah tidak akan tersesat.[]

Penulis: Munawar Liza Zainal