DUA tahun silam, tepatnya 9 Maret 2015, Presiden Jokowi meresmikan pengoperasian Terminal Penerima dan Regasifikasi LNG Arun di Blang Lancang, Lhokseumawe. Apa manfaat untuk rakyat terutama di lingkungan PT. Perta Arun Gas (PAG), perusahaan pengelola proyek regas tersebut?

PAG merupakan anak perusahaan PT. Pertamina Gas (Pertagas). Proyek regas itu berada di kompleks eks-Kilang LNG Arun. Di lokasi tersebut, sebelumnya PT Arun selama puluhan tahun mengolah gas menjadi gas alam cair (LNG) untuk diekspor ke Jepang dan Korea Selatan. Ekspor LNG—dari gas bumi yang dieksploitasi perusahaan raksasa Amerika Serikat Mobil Oil Indonesia (ExxonMobil) di Aceh Utara—berakhir tahun 2014.

Menjelang berakhirnya ekspor LNG itu, Pertagas yang adalah anak perusahaan PT. Pertamina mulai membangun Terminal Penerima dan Regasifikasi LNG. Pekerjaan konstruksi proyek tersebut ditandai dengan ground breaking dan peletakan batu pertama oleh Direktur Gas Pertamina Hari Karyuliarto di Plantsite LNG Arun, 9 November 2013.

Itulah proyek konversi Kilang LNG menjadi Regasifikasi pertama di dunia. “Selain prestisius dan menantang karena merupakan yang pertama di dunia, proyek ini juga sangat ditunggu peranannya dalam menjamin pasokan gas untuk pembangkit listrik dan kebutuhan industri di Aceh dan Sumatera Utara,” kata Hari Karyuliarto saat itu.

Proyek regas tersebut diintegrasikan dengan pipa transmisi gas “open access” Arun, Lhokseumawe-Belawan, Sumatera Utara sepanjang 340 km lebih, yang dibangun dalam waktu hampir bersamaan. Integrasi tersebut terwujud karena adanya sinergi dari tujuh BUMN yaitu Pertamina, PT. PLN, PT. Pupuk Iskandar Muda (PIM), PT. Rekayasa Industri, PTPN 1, PTPN 2, PTPN 3 dan 1 BUMD atau Badan Usaha Milik Aceh (BUMA).

“Hal ini tentunya menunjukkan bahwa sinergi positif antara BUMN dan BUMD akan melahirkan hasil positif bagi semua pihak yang terlibat, dan pada akhirnya masyarakat juga yang akan merasakan dampak positif dari keberadaan proyek ini,” demikian dikutip portalsatu.com dari pertamina.com.

Presiden Jokowi kemudian meresmikan Terminal Penerima dan Regasifikasi LNG Arun, 9 Maret 2015. Peresmian itu merupakan proses regasifikasi awal satu kargo LNG yang diterima pada 19 Februari 2015 dari fasilitas Tangguh LNG di Papua.

Jokowi meminta agar proyek regas itu bermanfaat untuk masyarakat Aceh dan Sumatera Utara. “Aset ini dapat mendorong industri untuk masuk ke Lhokseumawe, karena lahannya siap dan energinya telah tersedia. Sehingga masalah pengangguran dan kemiskinan dapat diatasi dengan pengembangan kawasan industri,” kata presiden.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan, Terminal Penerima dan Regasifikasi LNG Arun selain melakukan regas, diharapkan dapat mengelola bisnis LNG Hub. Untuk memenuhi target itu, terminal tersebut dirancang dengan kapasitas penyimpanan tanki LNG mencapai 12 juta ton per tahun dan produksi 400 MMSCFD.

“Kelak pemanfaatannya tidak hanya untuk mendukung pengurangan penggunaan BBM bersubsidi sebagai bahan bakar pembangkit listrik PLN yang terkoneksi di pulau Sumatera, tetapi juga dapat memenuhi kebutuhan gas untuk industri di Aceh dan Sumatera Utara,” ujar Dwi dalam siaran pers.

Dirut Pertagas Hendra Jaya saat itu mengatakan total kebutuhan gas yang akan disalurkan ke pembangkit PLN sebesar 135 MMSCFD. Rinciannya, 40 MMSCFD untuk pembangkit listrik Arun dan 95 MMSCFD ke pembangkit listrik Belawan. Sementara untuk industri, berdasarkan hasil pemetaan potensi penggunaan gas, kebutuhan di wilayah Sumatera Utara diperkirakan mencapai 250 MMSCFD. Selain itu, Pertagas membuka peluang bagi pemerintah di Aceh untuk mengembangkan kawasan industri yang kebutuhan energinya berbasis gas.

Gubenur Aceh Zaini Abdullah ketika itu berharap peran baru Terminal Penerima dan Regasifikasi LNG Arun akan menjadi pilar penting yang mendukung peningkatan ekonomi Aceh.

Setelah PT. Arun resmi dibubarkan, PAG pun menempati kantor eks-perusahaan itu untuk mengelola proyek regas yang pengoperasiannya kini mencapai dua tahun. “Ya, Alhamdulillah, sangat pesat. Jika dulu saat pertama kali (serapan gas ke konsumen) sekitar 90 MMSCFD (Juta Kaki Kubik Gas per Hari), sekarang rata-rata 110-115 MMSCDF. Dulu hanya ke (pembangkit listrik) Belawan, sekarang juga sudah ada di Lhokseumawe,” kata Dirut PAG Teuku Khaidir menjawab portalsatu.com, 8 Maret 2017.

Khaidir menyebut PAG turut menyuplai gas melalui pipa Arun-Belawan ke Kawasan Industri Medan (KIM) sekitar 4 MMSCDF. “Yang dikirim pakai truk (LNG Trucking) juga ada ke remote area di Sumatera Utara, tapi masih kecil. (Konsumen yang dikirim LNG dengan truk) di Aceh sampai sekarang belum ada. Kita doakan kalau ada di Aceh lebih baik. Kita sudah sosialisasikan itu sampai ke Aceh Selatan dan Nagan Raya tahun 2016 lalu,” ujar putra Aceh ini dihubungi melalui telpon seluler.

Soal penyerapan tenaga kerja dengan keberadaan proyek regas itu, Khaidir mengaku tidak ingat angka pasti. Jika memakai istilah PT. Arun, kata dia, ada tiga kategori karyawan/pegawai: M1, M2, dan M3. Pegawai tetap atau M1 sekitar 20 orang yang rata-rata dari Pertamina. “Dari PAG sendiri, yang pegawai tetap baru tiga orang. Namun, nantinya akan bertambah,” katanya.

Pegawai M2 mantan karyawan PT. Arun lebih 100 orang, sedangkan M3 atau karyawan kontrak (outsourcing) sekitar 700 orang yang direkrut perusahaan lokal sebagai mitra PAG. “Angka persisnya saya tidak hafal, sekitar 700 orang, PAG kontrak ke perusahaan lokal, semuanya dari lokal. Meski mereka pegawai outsourcing, dia punya skill juga. Gaji yang punya skill lebih gedek (besar),” ujar Khaidir.

“Di atas 10 juta, bisa 20 juta, bisa 30 juta,” kata Khaidir saat ditanya berapa gaji pegawai outsourcing yang punya keahlian. “(Tenaga kontrak biasa seperti pemotong rumput) itu kita mengikuti UMR, mungkin di PAG agak lebih sedikit,” ujarnya.

Soal manfaat untuk masyarakat lingkungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), Khaidir mengklaim perkembangannya sangat pesat. Ia menyebut PAG sudah merekrut dan melatih 24 orang dari 12 gampong di lingkungan proyek regas itu (2 orang per gampong).

“Mereka diterjunkan untuk mendidik masyarakat. Di 12 gampong itu sudah ada beberapa kebun dibuka seperti buah naga dan durian. Ada juga produksi ikan bandeng, dan kerajinan tangan. Baru beberapa bulan ini berjalan, nantinya akan berkembang ke gampong-gampong lainnya. Saya mencoba (program CSR) betul-betul bermanfaat untuk masyarakat,” kata Khaidir.

Sementara terkait saham Terminal Penerima dan Regasifikasi LNG Arun itu 100 persen masih milik Pertamina. “(Yang sudah dikucurkan Pertamina) sekitar 110 juta dolar, mungkin akan berkembang jadi 118 juta dolar,” ujar Khaidir.

Itu artinya sampai dua tahun proyek regas beroperasi, Pemerintah Aceh melalui Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA) belum memanfaatkan peluang kepemilikan saham. Padahal, berdasarkan perjanjian awal, Pertamina berhak memiliki saham 70 persen, dan sisanya (30 persen) dapat dimiliki Pemerintah Aceh melalui PDPA sebagai BUMA.

Soal mengapa Aceh belum menyetor 30 persen saham untuk proyek regas itu, Asisten II (Bidang Perekonomian) Setda Aceh Zulkifli HS yang juga Ketua Badan Pengawas PDPA mengatakan BUMA ini baru bangkit dengan manajemen baru. “Ini kan masih berproses. Mereka itu baru bangkit,” kata Zulkifli ditemui portalsatu.com di kompleks Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, 13 Februari 2017, malam.

Khaidir yang memimpin PAG berkomitmen agar proyek regas dapat terus meningkatkan serapan gas kepada konsumen setelah melewati usia dua tahun ini. “Kita harus lebih baik dari sebelumnya. Trennya (serapan gas) kita lihat lebih baik dari tahun lalu,” ujarnya.[] Laporan Muhammad Saifullah