BLANGKEJEREN – Dinas Perhubungan Kabupaten Gayo Lues menanggapi terkait parkirnya 10 unit bus sekolah di Terminal Blangkejeren, Selasa, 9 Februari 2021. Kadishub, Noval, S.P., mengatakan bus sekolah tersebut diparkir di terminal lantaran tidak ada tempat parkir lain yang layak.

Noval juga menjelaskan pada tahun 2021 ini Dishub Gayo Lues tidak memiliki anggaran operasional bus sekolah, sehingga terpaksa harus diparkir di Terminal Blangkejeren setelah bus tersebut ditarik dari masing-masing kecamatan di Gayo Lues.

“Sebelumnya bus sekolah itu berada di masing-masing kecamatan, tetapi mengigat tahun 2020 lalu sedang masa Covid-19 dan anak sekolah diliburkan atau belajar jarak jauh, kami berinisiatif menarik semua bus untuk dikumpulkan, hal ini kami lakukan guna menghindari hilangnya peralatan bus jika terlalu lama diparkir di desa,” kata Noval di ruang kerjanya.

Baca Juga:10 Bus Sekolah Telantar di Terminal Blangkejeren, Ini Kata Wabup

Ia menambahkan, tidak masuknya anggaran operasional bus sekolah kedalam APBD tahun 2021 lantaran sedang masa Covid-19 dibaringi pendapatan daerah yang menurun. Apabilan sekolah kembali aktif belajar tatap muka di sekolah, anggaran operasional bus kembali diajukan.

“Saat ini kami sudah mengajukan anggaran Rp 1,6 miliar untuk operasional dan gaji sopir, untuk satu bus operasionalnya mencapai Rp 60 juta/tahun, itu hanya minyak, oli dan ban, ditambah lagi gaji sopir berkisar Rp 2 juta/bulan. Sedangkan pendapatan atau ongkos anak sekolah masuk ke kas daerah atau Pendapatan Asli Daerah (PAD),” katanya sembari menjelaskan, bus sekolah di Gayo Lues berjumlah 15 unit, 12 bus masih layak pakai, dan 3 unit sudah tidak layak pakai.

“Saat ini dua permohonan pengaktifan bus sekolah sudah masuk ke Dishub, satu dari Desa Akul, Kecamatan Blangjerango, dan satu lagi dari Kecamatan Terangun, dan untuk mengoperasikan bus sekolah ini, kami sedang menunggu persetujuan TAPK, apakah boleh mendahului perubahan anggaran atau tidak,” terangnya.

Kadishub menghimbau wali murid di Gayo Lues untuk sementara menggunakan kendaraan umum atau pribadi untuk mengantar anak-anaknya ke sekolah. Ia berharap, jangan sampai gara-gara bus tidak aktif anak-anak tidak sekolah. Pihaknya, tambah Noval, akan terus berupaya agar 12 bus sekolah di Gayo Lues kembali bisa dijalankan.

Sebelumnya diberitakan, sebanyak 10 bus sekolah milik Pemerintah Kabupaten Gayo Lues yang seharusnya melayani siswa ke sekolah, tapi justru telantar atau tidak terawat di Terminal Blangkejeren. Kondisinya saat ini sangat memprihatinkan lantaran diparkirkan di tempat umum beratap langit.

Salihin, salah satu wali murid di Blangkejeren, Senin, 8 Februari 2021, mengatakan akibat tidak beroperasinya bus sekolah itu menyebabkan orang tua kerepotan. Selain mengeluarkan biaya, wali murid juga harus mengawasi anaknya saat pergi dan pulang sekolah.

“Biasa kalau ada bus, anak kami naik bus ke sekolah, pulangnya juga begitu, dan ongkos sangat terjangkau. Ketika bus sekolah tidak beroperasi, kami harus antar jemput anak ke sekolah, atau dengan terpaksa memberikan kendaraan untuk dia ke sekolah yang biayanya lebih tinggi,” kata Salihin.

Salihin meminta Pemerintah Gayo Lues segera mengoperasikan bus sekolah itu, sehingga orang tua tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk kebutuhan anak membeli bahan bakar minyak (BBM) di tengah pandemi Covid-19 ini. [-]