Sayyidina Ali Ra (Ali bin Abi Thalib, sahahat Nabi Mihammad SAW, suami daripada Sayyidah Fathimah Az-Zahra puteri Nabi Muhammad SAW). pernah berkata, sebagaimana yang disebut dalam kitab Nashaihul ‘ibad,

“Jadilah kamu di sisi Allah akan sebaik-baik manusia.”

Kita harus menjadi manusia terbaik di sisi Allah karena beberapa hal. di antaranya:

Pertama, Allah telah menciptakan manusia dari tiada kepada ada. Kedua, Allah menciptakan manusia dengan bentuk yang paling bagus. Ketiga, Allah memberikan manusia nikmat terbaik pakaian terbaik makanan terbaik tempat terbaik.

Ngat bek rugoe got tuboh bek rugoe got teumpat bek rugoe got pakaian bek rugoe got makanan, maka harus beugot ate, beugot penilaian geutanyoe di sisi Allah. (Supaya jangan rugi baik tempat tinggal, jangan rugi baik pakaian, jangan rugi baik makanan, maka harus baik hati, baik penilaian kita di sisi Allah).

Tetapi apabila nilai geutanyoe got, ate got, walaupun bentuk geutanyoe hana got tapi geutanyoe berharga di sisi Allah. (Tetapi, apabila nilai kita baik, hati baik. Walaupun tidak baik rupa, kita berharga di sisi Allah).

Allah tidak melihat kepada tubuh hambanya, tetapi Allah melihat kepada hatinya. Apabila di hati ada taqwa, walaupun tubuh cacat dan lemah, tapi penilaian Allah jauh lebih baik padanya daripada orang yang sehat tubuh tegap, kulitnya indah, tapi tidak ada taqwa kepada Allah pada dirinya.

Untuk mendapatkan takwa manusia harus menjalankan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya, baik itu larangan kecil atau itu larangan besar. Apapun yang dilarang Allah jangan dilakukan, karena itu adalah larangan dari Allah.

Yang dituntut oleh Allah pada hambanya adalah nilai taqwa. Ada 4 hal yang menjadi penggalang seseorang menuju taqwa.

Pertama, Penghalang Makhluk

Ureueng tinggai ibadah gara-gara peuturot heut aneuk, gara-gara peuturot heut purumoh. (Orang yang meninggalkan ibahah gara-gara memperturutkan keinginan anak-anak dan memperturutkan keinginan istri).

Kedua Penghalang Dunia

Orang yang terlalu cinta kepada dunia sehingga melupakan kepentingan akhirat.

Tinggai, tinggai laju di donya hana masalah. Allah geuciptakan geutanyoe sit lam Donya, tetapi yang han geubi le Allah, donya nyan le geutanyoe tapasoe lam ate. Tinggai lam ie hana masalah, peuraho tinggai lam ie hana masalah. Baro jeuet keu masaalah meunyoe ie jitamong lam peuraho, jitamong ie lam boat. Boat, tinggai lam ie, tapi keu ie hana galak jih le boat, na tempat geupeugot pembuangan ie. Apabila hana geupeugot tempat pembuangan ie, maka ie taboh ate ditamong lam boat nyan.

(Tinggal di dunia tidak masalah. Allah menciptakan kita memang dalam dunia, tapapi yang dilarang adalah kita memasukkan dunia ke dalam hati. Tinggai di dalam air tida masaalah, perahu tingggal di dalam air tidak masalah. Baru menjadi masaalah, apabila air masuk ke dalam perahu, dalam boat. Boat tinggal di dalam air, tetapi air tidak disukai oleh boat. Ada tempat pembuangan air. Apabila pembuangan air tidak dibuat, maka air yang masuk ke dalam boat dibuang).

Bot tinggai lam ie, hana masaalah, tetapi apabila ie ka jitamong lam boat, baro jeuet keu sumber masaalah.

(Perahu tinggal dalam air tidak masaalah, tetapi apabila air sudah masuk ke dalam perahu, maka baru menjadi masaalah).

Ketiga Penghalang Syetan (Tidak diceritakan terlalu detail oleh khatib)

Penghalang ke Empat, Nafsu

Nafsu adalah penghalang paling kuat di antara ketiga lainnya.

Nafsu nyan umpama pancuri lam rumoh. Apaila pancuri di luar rumoh, tagunci pinto, tagunci jendela, nyan ka aman, tetapi pinto tagunci, jendela tagunci, tetapi jih sit na di dalam rumoh. 

(Nafsu itu ibarat pencuri di dalam rumah. Apabila pencuri di luar rumah, kita kunci pintu, kita kunci jendala, itu sudah aman. Namun, pintu kita kunci, jendela kita kunci, tetapi dia ada di dalam rumah).

Apabila nafsu yang terletak di dalam benar-benar dikawal ketat, dibina betul-betul, dididik, maka tiga penghalang lainnya makhluk dunia dan syaitan (setan) akan mudah dikendalikan karena yang tiga itu penghalang dari luar.

Bulan suci Ramadan hadir untuk mendidik dan menetralkan nafsu, tetapi apabila tidak dimanfaatkan dengan baik, maka kehadirannya tidak berfungsi sama sekali. Misalnya, biaya untuk takjil di bulan Ramadan lebih besar dari biaya makanan bulan biasa, ketika lebaran nafsu masih belum terkendali.

Kebanyakan geutanyoe lam buleun Ramadan tapajoh yang hana tapajoh barokon, tabloe yang hana tabloe barokon, tapeuabeh peng keu buka puasa, kon lage yang tapeuabeh buleuen barokon.

(Kebanyakan kita, di dalam bulan Ramadan, yang tidak kita makan pada bulan lain kita makan, kita beli yang tidak kita beli di bulan lain, kita habiskan uang untuk berbuka puasa bukan seperti kita habiskan di bulan sebelumnya).

Sehingga, rata-rata le ureung yang geupeugah, le that beh peng lam buleuen Ramadan. Padahal sit syariat Ramadan untuk tapeudit makanan dan minuman. Sehingga, hana berhasil tadidik nafsu menjadi nafsu yang patuh kepada geutanyoe, sehingga lheuh Ramadan mantong lage sot tanyoe yang seutot nafsu, kon nafsu yang seutot geutanyoe.

(Sehingga, rata-rata, banyak orang yang menatkan, banyak habis uang dalam bulan Ramadan. Padahal syariat Ramadan memang untuk mengurangi makanan dan minuman. Sehingga, tidak berhasil kita didik nafsu menjadi nafsu yang patuh kepada kita, sehingga setelah Ramadan masih sama seperti bulan sebelumnya, kita yang ikut nafsu bukan nafsu yang ikut kita).

Selain itu khatib juga menerangkan bahwa Saiydina Ali Ra mengajak manusia untuk bersikap rendah hati supaya jauh dari sifat ujub dan takabur, supaya menjadi manusia yang dicintai oleh Allah.[]

Ringkasan dari khutbah Jum’at yang dibawakan oleh Tgk: Tu Rahmadan M. Ag dari Buloh, Aceh Utara, di Masjid Asssa’adah Tgk Chik di Paloh, Jumat, 11 April 2025.

Rangkuman: Jamaluddin bin Sulaiman.