TAPAKTUAN – Pencarian terhadap korban terseret arus Sungai Alue Buloh sudah memasuki hari kedelapan, tetapi korban bernama Muktar Yuli, asal Desa Jambo Papeun, Kecamatan Meukek, Aceh Selatan, belum ditemukan.
Diberitakan sebelumnya, dari sebanyak 22 anggota tim studi survei PLTA (lima orang berasal dari PT. Trinusa Energy Indonesia dan 17 warga Desa Jambo Papeun), tiga di antaranya menjadi korban tenggelam akibat terseret arus sungai. Dari tiga korban tersebut, jenazah dua anggota tim survei, Syarif Basarah dan Testa Muhammad Abduh asal Bandung, Jawa Barat, telah dievakuasi.
Karena sudah diupayakan selama delapan hari, tetapi tidak berhasil ditemukan, akhirnya tim gabungan secara resmi menghentikan pencarian terhadap Muktar Yuli mulai Kamis, 5 Januari 2017. Tim gabungan tersebut ialah Basarnas Provinsi Aceh enam personel, Basarnas Pos Meulaboh delapan personel, Satgas SAR Abdya dua personel, Satgas SAR Tapaktuan 10 personel, anggota Polres Aceh Selatan 10 personel, dan TNI Kompi C Sawang 10 personel. Selama ini, tim gabungan melakukan pencarian terhadap korban bersama masyarakat Jambo Papeun.
Pencarian korban sudah kami hentikan sementara sambil menunggu perkembangan informasi selanjutnya. Jika ke depan ada petunjuk baru maka pencarian tidak tertutup kemungkinan akan dimulai kembali, kata Ketua Satgas SAR Tapaktuan Mayfendri, 5 Januari 2017.
Mayfendri mengaku baru turun dari gunung bersama tim gabungan dan ratusan warga. Ia menceritakan, untuk menuju lokasi kejadian di Sungai Alue Buloh dari pemukiman penduduk Desa Jambo Papeun, mereka harus menempuh perjalanan kaki mendaki dan menyusuri lereng gunung yang terjal dan menjulang tinggi selama tujuh jam.
Karena lokasi tersebut tergolong jauh apalagi harus melewati medan cukup berat, kata dia, tim gabungan harus membawa perlengkapan yang cukup mulai dari bahan makanan, peralatan memasak serta tenda untuk penginapan.
Selama melakukan pencarian terhadap korban, kami telah melakukan penyisiran di sepanjang muara Sungai Alue Buloh yang berjarak belasan kilometer. Namun, sejauh ini belum berhasil menemukan jasad korban (Muktar Yuli). Berat dugaan kami, korban telah tertimbun pohon-pohon kayu berukuran besar yang tampak menutupi sungai itu. Keberadaan pohon kayu berukuran besar tersebut tidak mampu diangkat oleh manusia karena harus menggunakan alat berat excavator. Sementara untuk membawa alat berat ke lokasi tersebut sangat sulit, bahkan dipastikan tidak bisa, ungkap Mayfendri.
Melihat banyak pohon kayu berukuran besar menutupi Sungai Alue Buloh, pihaknya memperkirakan banjir bandang disertai luapan air sungai setelah wilayah hutan belantara itu diguyur hujan lebat sejak Rabu hingga Kamis lalu tergolong cukup besar. Menurut keterangan masyarakat setempat yang biasa melintas di sungai itu, sepengetahuan mereka belum pernah air Sungai Alue Buloh sebesar itu apalagi turut hanyut sejumlah bongkahan kayu berukuran besar yang menutupi badan sungai.
Bahkan menurut keterangan para saksi yang selamat, ketiga korban hilang akibat terseret arus Sungai Alue Boluh, sebelum terseret arus sempat menyelamatkan diri ke atas batu besar yang tingginya mencapai 10 meter. Namun, berdasarkan bekas terjangan banjir bandang tersebut, air melampaui batu, bahkan ketinggian air hingga menyapu ranting-ranting pohon yang menjulang tinggi di sepanjang bantaran sungai itu, ujarnya.
Selain telah melakukan penyisiran di sepanjang Sungai Alue Buloh, lanjut Mayfendri, sebagian tim juga menyisir sepanjang Sungai Sarah Baro hingga Sungai Pucuk Sibom-bom di atas Sarah Baro, Kemukiman Menggamat, Kecamatan Kluet Tengah.
Penyisiran ke wilayah tersebut, menurut Mayfendri, karena muara Sungai Alue Buloh yang berhulu dari Gunung Leuser hilirnya ke Sungai Pucuk Sibom-bom hingga Sarah Baro, kemudian menyatu dengan Sungai Krueng Kluet yang muaranya ke pesisir laut Kandang, Kecamatan Kluet Selatan.
Di sepanjang sungai tersebut mulai dari Pucuk Sibom-bom hingga pesisir laut Kandang, Kecamatan Kluet Selatan sudah dilakukan penyisiran oleh sebagian tim pencari yang khusus dikerahkan ke wilayah Kluet Raya. Namun belum berhasil menemukan korban satu lagi atas nama Muktar Yuli, ujar Mayfendri.
Ia menyebutkan selama berlangsungnya pencarian korban, pihak PT Trinusa Energy Indonesia, perusahaan skala nasional yang sedang mengerjakan proyek PLTA Kluet 1 di pucuk Gunung Jampo Papeun dan pucuk Gunung Kluet membantu dana Rp50 juta sebagai bentuk tanggung jawab terhadap pekerja yang menjadi korban dalam musibah tersebut.[]
Laporan Hendrik

