Oleh Muhajir Ibnu Marzuki
Meninggal adalah peristiwa yang pasti akan terjadi. Tidak ada yang tahu pasti kapan maut akan menjemput kita. Semestinya kita ummat Islam yang meyakini “harus ta udep, wajeb ta mate” untuk mempersiapkan diri untuk melangkah ke alam selanjutnya. Melakukan perbuatan yang baik dan bermanfaat yang akan menjadi kenangan bagi teman, kolega dan keluarga yang akan kita tinggalkan.
Sabtu, 2 Rajab 1446 H atau 1 Februari 2025, status di facebook tokoh politisi senior Aceh, Mukhlis Mukhtar, mantan anggota DPRD Aceh, menuliskan:
“Innalillahi Wainna Ilaihi Raji’un … Telah Berpulang ke Rahmatullah Rekan Sejawat Kami Sdr. H. Abdullah Saleh, SH., Semoga Husnul Khatimah …”
Penulis saat membaca status terhenyak, seakan tak percaya. Apakah kabar kehilangan ini benar adanya?
Penulis mencoba cari tahu di status para tokoh politisi lainnya. Terpantau di status mantan Wali Kota Sabang, Munawar Liza Zainal juga menulis perihal kabar ini. Munawar Liza menulis lebih panjang di status perihal sosok almarhum.
“Kami sering berdebat, berbeda pendapat, bahkan dalam wawancara baik di TV atau radio, sering berbalas pantun dengan keras dalam memegang pendapat masing-masing.
Namun setelah acara, kami bersalaman, dan jiwa ke-ayahannya selalu bersinar dari mukanya yang penuh senyum.
Mudah dipancing emosinya, pernah dalam sebuah wawancara, sampai meledak-ledak membela kandidat cagub partainya, tetapi selepas acara kami berpelukan.
Pascadamai Aceh, sebagai anggota DPRA, berdiri paling depan dalam memperjuangkan UUPA (UU No. 11/2006). Dalam pertemuan di Aceh atau Jakarta, tegas selalu menyampaikan pendapat untuk kebaikan Aceh tanpa takut kepada siapapun.
Beberapa hari yang lalu, kami bertemu dalam sebuah acara, sempat berbicara dan bertegur sapa.
Tadi mendapatkan informasi, bahwa pejuang UUPA, seorang anggota parlemen yang fenomenal dari Partai Aceh, Tengku Abdullah Saleh, telah berpulang ke Rahmatullah.
Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun.
Semoga Allah mengampuni segala dosanya, diberikan tempat yang mulia di jannatunna’im..”
Status serupa juga terpantau di akun Abu kuala, seorang praktisi Ru’yah Syar’iyah di Nagan Raya. Abu Kuala dengan nama asli Tgk Basri Ishak, pimpinan Dayah Babul Asfar Madinatuddin Suak Jok, pengurus Pejasus “pejuang jamaa’ah Subuh” Nagan Raya dan Sekretaris MPW PAS “Partai Adil Sejahtera” Aceh kabupaten Nagan Raya.
“Innalillahi wainna ilaihi rojiuun. Telah berpulang ke rahmatullah Tgk. H. Abdullah Saleh. SH (Mantan anggota DPRA Fraksi PA) di Banda Aceh. Hari ini Sabtu, 2 Rajab 1446 H./1 Februari 2025 M.. Semoga Allah SWT… Mengampuni segala kesalahan beliau dan Husnul Khatimah, Aso Syurga Jannatunnaim.. Aamiin” tulis Abu Kuala di status cerita facebook akunnya.
Abdullah Saleh, politisi Aceh yang berjiwa merdeka itu telah berpulang menemui rabb-nya. Namun kenangan, tindakan dan perbuatan menjadi pelajaran bagi kita yang masih bernafas ini.
Tahun 2016, politisi ini hadir dalam pertemuan akbar Duek Pakat Alabas “Aceh Leuser Antara barat selatan” yang digagas anak muda, mahasiswa dan berbagai elemen sipil dari barat selatan.
Dalam pertemuan itu ia mengatakan mendukung barat selatan bergabung dengan Leuser antara dalam perjuangan pemekaran Aceh yang diberi nama Alabas.
“Saya dukung Alabas. Tidak ada yang bisa menghadang wakil rakyat untuk memperjuangkan aspirasi rakyat,” ujar politisi yang kala itu menduduki posisi strategis sebagai ketua komisi I DPRA dari fraksi Partai Aceh.
Tindakan ia saat itu menjadi berita hangat seantero Aceh. Betapa tidak, ia yang merupakan politisi dari Partai Aceh, partai yang sangat anti pemekaran provinsi Aceh, malah ikut memperjuangkan provinsi baru yang dinamai Alabas.
Bukan saat itu saja ia melawan arus, Abdullah Saleh, saat pilpres 2024 ia termasuk politisi Aceh yang mendukung Anies Rasyied Baswedan sebagai capres.
Terpantau di akun facebook almarhum, tahun 2023 ia membagikan link grup facebook Anis Rasyid Baswedan dan beberapa link lainnya terkait Anies Baswedan. Pada hal tahun 2019 ia termasuk caleg DPR RI dari partai Gerindra, partainya Prabowo Subianto.
Di sisi lain ia dikenal sebagai politisi yang berideologi dan setia pada perjuangan. Hingga meninggalnya ia masih setia kepada Partai Aceh. Di mana pada pilgub Aceh 2024 ia mendukung penuh Mualem – Dek Fad sebagai calon Pemimpin Aceh yang akan menahkodai 5 juta lebih rakyat Aceh menuju negeri Aceh yang Islami, Maju, Bermartabat, dan Berkelanjutan.
Lain hal, sosok almarhum juga termasuk salah seorang pejuang lahirnya Qanun LKS (Lembaga Keuangan Syariah) Aceh yang mengharuskan bank konvensional harus angkat kaki dari bumi Aceh.
Bahkan ia juga ikut mengawal proses berjalannya qanun LKS Aceh yang telah ia perjuangkan itu.
Tahun 2023 dengan lantang ia memposting di facebook mengkritisi salah seorang ulama Aceh yang terkesan menyalahkan satu pihak persoalan terdamparnya bank konvensional dari Aceh, yang kemudian ada permasalahan teknis perihal bank syariah yang menguasai sebagian besar pasar keuangan dan perbankan Aceh.
“Ust Masrul Aidi di sini komentarnya kurang pas. Beliau bilang DPRA yang usir bank konvensional dan ulama tidak menolaknya. Beliau kurang mengikuti secara seksama proses penggodokan hingga lahir qanun LKS. Waktu itu saya Ketua Badan Legislasi DPRA dan menjadi salah seorang yang terlibat dlm Pansus Pembahasan qanun LKS ini,” tulis almarhum di statusnya yang dikutip penulis sebagian saja.
Sang pejuang yang berjiwa patriot, berideologi, setia dan berkomitmen tinggi kini telah memenuhi janjinya untuk menuju alam keabadian. Semoga kebaikan dan perjuangannya dicatat sebagai amal jariyyah. Dan segala khilaf, dosa dan kesalahanya Allah maafkan ia dan semoga Allah menempatkannya di tempat yang indah sebagai balasan bagi orang yang menyeru dan menegakkan kebenaran. Aamiin ya rabbal ‘alamin.[]








