LHOKSEUMAWE – Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Kuta Pase, Mukhtar Hanafiah atau Ableh Kandang, merangkul kembali empat rekannya yang dulu berjuang bersamanya saat Aceh didera konflik senjata.
Keempatnya adalah mantan kombatan GAM. Namun, dalam masa damai sempat berbeda haluan dengan KPA. Di antaranya, pernah bergabung ke salah satu partai lokal selain Partai Aceh, ada juga yang mendukung kandidat gubernur dan wali kota yang bukan diusung Partai Aceh. Namun, sekarang keempatnya telah woe (kembali) dan sudah bersama Ableh lagi. Kembali ke “rumoh droe”, bersatu dalam wadah KPA.
Keempatnya adalah Dekpon Hagu, Gam Puteh dan Pance dari Gampong Panggoi, Lhokseumawe. Satu orang lagi adalah Arabi dari Kampung Jawa, Lhokseumawe.
Ableh bertemu dan duduk bersama Dekpon Hagu dan kawan-kawannya di Cafe 56 Lhokseumawe, Minggu, 22 Januari 2017, sore.
Apa yang mereka bahas?
Pertemuan dengan Dekpon cs tersebut berlangsung akrab. Di sela obrolannya terlihat derai tawa di antara mereka. Suasana begitu cair, tidak ada sedikitpun kecanggungan di antara mereka.
Secara terpisah, Dekpon mengatakan dirinya juga teman-temannya sangat mengapresiasi ajakan Ableh.
“Lon (saya) terharu ketika Ableh mengajak kembali kebarisan. Saya dipanggilnya untuk bertemu, saya sempat was-was, berpikir Ableh akan menguraikan segala kesalahan kami karena meninggalkan jamaah perjuangan beberapa waktu lalu, ternyata tidak. Ableh sekedar untuk beramah tamah dengan kami, tanpa membahas kelakuan yang telah kami lakukan, saya pribadi merasa dimuliakan,” kata Dekpon didampingi Arabi, Gam Puteh dan Pance Panggoi.
Dekpon mengatakan, Ableh berharap kepada dirinya dan rekan-rekan untuk mengimbau kepada rekan-rekan lain supaya kembali bersatu ke dalam jamaah perjuangan.
“Aceh punya pemimpin, yang kita anggap sebagai 'ureung tuha' kita, tentu mereka sungguh bijaksana, mau memaafkan anak-anaknya, meski si anak sedikit batat (nakal). Saya yakin, bila kita mampu bersatu, maka membangun Aceh untuk lebih baik akan semakin mudah,” kata Dekpon.
Sementara Ableh mengatakan, isi pembicaraannya dengan Dekpon cs hanya tentang hal ringan-ringan saja.
“Tidak ada pembahasan yang serius. Paling pertanyaan saya tentang keluarga mereka, anaknya sudah berapa, yang paling besar umur berapa?” kata Ableh seraya tersenyum.
Ableh mengatakan, ia ingin membangun keharmonisan kembali dengan sesama mantan kombatan.
“Kita juga saling memaklumi terhadap kelemahan masing-masing di masa lalu, paling penting kami sudah setujuan lagi. Kita punya kewajiban untuk taat kepada pemimpin, mustahil membangun Aceh bila tanyoe cree bree (cera berai),” kata Ableh.[](rel)





