“ACEH harus menjadi leader di bidang kultur kebudayaan dan adat di dunia Melayu.”

Demikian pengalaman dari salah seorang Tour Guide Aceh, Founder CV Buanasmesta Group, Fadhlan Amini, ketika bersama orang Melayu di Malaysia.

Ungkapan itu didengarnya saat mengunjungi makam cucu Nabi Muhammad SAW yang ke sebelas, Sultan Arifin. Kepada Fadhlan mereka mengatakan, “Tuan Fadhlan, kami inginkan Aceh mengambil posisi sebagai leader bagi kekuatan kultur budaya, dan adat di dunia Melayu.”

Lon teukeujet wate jipeugah nyan, long teu-im, tidak mampu menjawab,” kata Fadhlan kepada portalsatu.com/, di Banda Aceh, Kamis, 2 Agustus 2018.

Kenangan tersebut, katanya, terjadi pada tahun 2015 ketika mengadakan pertemuan di sebuah pulau di depan bandar Kota Malaka, negara bagian Malaka, Malaysia. Kunjungan tersebut dipimpin Himpunan Kedaulatan Melayu Islam Akhir Zaman (HIKMAH) pimpinan Muhammad Syafi’i.

“Muhammad Syafi’i adalah mantan jurnalis New Straits Time (NST) di Kuala Lumpur, seorang lulusan matematika di London, saat ia sedang mencapai kesuksesan, namun tiba-tiba muncul keinginan di hati untuk berziarah dan bermalam di kuburan untuk meninggalkan dunia gemerlap,” kata Fadhlan.

Untuk mewujudkan keinginananya tersebut, kata Fadhlan, Syafi’i kemudian meninggalkan dunia musik, matematika, dan jurnalis, menjadi seorang pecinta sejarah sampai sekarang.

“Di pulau itu ada makam cucu Nabi Muhammad SAW generasi yang ke sebelas bernama Sultan Arifin, dan detik-detik momen bersejarah itu terjadi tepat pada pukul tiga malam. Di malam itu semua peserta keluar dari kamar hotel masing-masing karena tak bisa tidur. Kemudian pergi ke tepi pantai dan bercerita tentang kondisi Kota Malaka,” katanya.

Peserta yang hadir berasal dari Indonesia cuma Fadhlan, sedangkan yang lainnya dari Malaysia, Singapura, dan Thailand. Rapat yang terjalin tidak secara resmi tersebut, kata Fadhlan, terlaksana karena tidak bisa tidur. Di bawah langit terang, rembulan sangat terang saat tengah malam tersebut maka keluarlah ucapan harapan tersebut dari mereka yang meninggalkan dunia gemerlap.

“Bagi mereka, Aceh masih solid, kukuh, dan belum terpengaruh dengan datangnya budaya-budaya asing seperti Cina atau lainnya dalam jumlah yang besar,” katanya.

Dengan sebab itu, kepada Aceh mereka berharap untuk bisa memberikan arahan, menjadi pemimpin di dunia Melayu. Sebab Aceh adalah orang yang menerima diri disebut Melayu. Aceh tidak sama dengan pulau lainnya. Aceh wilayah yang memiliki jumlah penduduk 98.5 persen muslim, dan yang mempunyai keterikatan hati yang kuat terhadap Melayu.

“Dengan kekuatan ketinggian nilai tadi, dan kekuatan Aceh dalam memelihara adat yang kaffah berdasarkan kesungguhan kepada tauhid, akidah kuat, walaupun syariah kadang bolong-bolong tapi jangan ganggu agamaku, maka dengan itu Aceh diharapkan menjadi leader,” kata Fadhlan ketika menjelaskan prinsip beragama di Aceh.

Terkait hal persaudaraan tamaddun Islam, kepada portalsatu.com/ ia sempat mengutip kata-kata Presiden Erdogan yang mengatakan pengikat dirinya dengan dunia adalah pada soal akidah.

“Kata Erdogan, 'Tanah saya tinggali memang tanah Turki tapi di mana saja azan itu dikumandangkan, itulah negeri saya,” kata Fadhlan.

Dalam salah satu agenda perjalanan tour guide-nya, Fadhlan telah menyaksikan bagaimana kuatnya kecintaan rakyat Malaysia pada syariat Islam di Aceh, satu kisah persahabatan telah dilihatnya ketika salah satu dari grup turis Malaysia mengunjungi Aceh.

“Ketika di Aceh, misalnya suatu malam ada yang mengunjungi salah satu balai pengajian di Banda Aceh dan mereka patungan ‘meuripee’ menyumbang untuk balai tersebut dan ketika terkumpul ternyata sebanyak dua puluh lima juta,” katanya.

Fadhlan membenarkan bahwa fakta dari data kedatangan turis Malysia ke Aceh yang dikumpulkan Badan Statistik Aceh sejak setelah tsunami hingga kini, angka kunjungan tertinggi adalah berasal dari Malaysia, itu benar.

“Saya yang berprofesi sebagai tour guide turis akan menjaga nama Aceh supaya on the track dengan sejarahnya, dengan Islamnya, hingga Aceh bermartabat dari sudut pariwisata. Membentengi Aceh dalam konsep wisata halal. Dan sekarang juga sedang berusaha untuk bisa mempromosikan pariwisata Aceh ke Turki, mengajak orang-orang Turki mau datang ke Aceh,” kata Fadhlan.[]