Minggu, Juli 21, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaAceh Hari Ini:...

Aceh Hari Ini: All India Radio Merelay Berita Perang Aceh

Pada 6 April 1949, berita-berita perjuangan di Aceh yang disiarkan oleh Radio Rimba Raya dalam empat bahasa, Indonesia, Inggris, Arab, dan India di-relay oleh All India Radio.

All India Radio di New Delhi, India, menyiarkan berita Tentara Republik Indonesia (TRI) Divisi Gajah dari Aceh yang berhasil memasuki dan merebut kembali daerah-daerah yang diduduki Belanda di Sumatera Timur.

Para diplomat Indonesia di India mengutip berita tersebut dan menegaskan dalam berbagai konferensi dunia bahwa hingga kini Belanda belum bisa menguasi Sumatera. Padahal Belanda di luar negeri menyatakan bahwa Republik Indonesia tidak ada lagi setelah pusat pemerintahan di Yogyakarta berhasil direbut.

Radio Rimba Raya di pedalaman Gayo, Aceh berulang-ulang membantah klaim Belanda tersebut, sebelum dan sesudah menyiarkan berita para penyira Radio Rimba Raya selalu menegaskannya dengan kalimat: “Republik Indonesia masih ada, karena pemimpin republik masih ada, tentara republik masih ada, wilayah republik masih ada, dan di sini adalah Aceh.”

Salah seorang konseptor di balik siaran Radio Rimba Raya itu adalah Letnan Kolonel Teuku Alibasjah Talsya, mantan redaktur surat kabar Atjeh Sinbun (masa Jepang) dan surat kabar Semangat Merdeka (masa perjuangan memperahankan kemerdekaan). Ia yang menyiapkan setiap berita untuk diketik oleh stafnya sebelum disiarkan Radio Rimba Raya.

Letkol Teuku Alibasjah Talsya bersama rekannya A Gany Mutyara yang juga mantan redaktur di dua surat kabar terbitan Banda Aceh tersebut, dipercayakan sebagai Staf Penerangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Divisi X Komandemen Sumatera. Talsya juga pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Publikasi pada Kementerian Penerangan Republik Indonesia.

Kemudian pada 22 April 1949, Radio Rimba Raya kembali mengirim radiogram Ketua PDRI kepada perwakilan Indonesia di Penang, Singapura dan India. Dalam radiogram No.437/pdri/1949 Ketua PDRI Syafruddin Prawiranegara memberitahukan kepada perwakilan Indonesia di New Delhi, India bahwa pengiriman obat-obatan dari Palang Merah Internasional (Intercross) Asia Tenggara yang dijatuhkan dengan pesawat terbang di Lubuk Sikaping telah diterima dengan baik. Syafruddin Prawiranegara meminta supaya dikirim lagi obat-obatan tambahan seperti obat cacar lengkap dengan glycerin untuk 200.000 orang.

Selanjutnya pada 10 Mei 1949, sebuah radiogram dari Staf Angkatan Perang Bagian Penerangan Mayor Haryono dari Jawa diterima di Banda Aceh melalui Sumatera Selatan. Radiogram itu kemudian disiarkan di Radio Rimba Raya untuk Ketua PDRI dan perwakilan Indonesia di India. Radiogram tersebut berisi tentang protes terhadap aksi Belanda yang menutup kantor Palang Merah Internasional (Intercross) di Yogjakarta. Oleh para diplomat Indonesia di India hal ini kemudian dijadikan bahan untuk mendesak Belanda di mata internasional.

Pada 31 Mei 1949, All India Radio di New Delhi, India kembali me-relay berita Radio Rimba raya tentang rencana kunjungan Wakil Presiden Muhammad Hatta ke Banda Aceh, yang saat itu menjadi ibu kota Provinsi Sumatera Utara dan Keresidenan Aceh.

Hal itu kemudian dijadikan sebagai bahan diplomasi oleh Balai Penerangan Republik Indonesia di New Delhi yang menyatakan bahwa Wakil Presiden Muhammad Hatta bersama rombongan pejabat akan diterbangkan dengan pesawat Komisi Tiga Negara (PBB).

Para diplomat Indonesia di India tersebut menegaskan bahwa Wakil Presiden Muhammad Hatta dan para pemimpin Indonesia akan berada di Aceh, satu-satunya daerah di Indonesia yang Pemerintahan Republik Indonesia tetap berjalan dengan baik, karena tidak pernah bisa dimasuki Belanda saat agresi militer keduanya.

Tentang semua itu bisa dibaca dalam buku Sekali Republiken Tetap Republiken. Buku ini ditulis oleh Teuku Alibajah Talsya, sosok penting di balik siaran Radio Rimba Raya. [**]

Baca juga: