25.6 C
Banda Aceh
Jumat, Januari 28, 2022

Aceh Hari Ini: Etnis Tionghoa Minta Perlindungan ke Residen Aceh

Pada 3 Maret 1947, Gabungan Perkumpulan Tionghoa Perantau (GPTP) di Banda Aceh merayakan ulang tahun pertama. Mereka juga melakukan rapat umum yang diikuti oleh berbagai golongan masyarakat Tionghoa, mereka meminta perlindungan kepada tentara Residen Aceh.

Kemudian pada 8 April 1947, GPTP Aceh melakukan pertemuan dan jamuan teh dengan Panglima Tentara Komandemen Sumatera, Letnan Jenderal Soehardjo Hardjowardjono. Dalam pertemuan tersebut Ketua GPTP Aceh, Liong Jaw Hiong meminta kepada TNI untuk memberi perlindungan kepada para pedagang Tionghoa di seluruh Aceh. Liong Jaw Hiong mengakui bahwa berkat pengamanan TNI, orang-orang Tionghoa dapat berusaha mencari nafkah di seluruh Aceh.

Baca Juga: Kolonel Husein Jusuf Kepala Pertahanan Daerah Aceh.

Menjawab permintaan itu, Letnan Jenderal Soehardjo Hardjowardjono menegaskan, TNI akan melindungi segala lapisan masyarakat, termasuk etnis asing, asalkan tidak menghalang-halangi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, seperti yang diakukan kelompok Poh An Tui milisi Cina yang dipersenjatai sekutu untuk melawan pejuang Indonesia.

“Kami berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan tanah air, sebagaimana rakyat dan pemimpin tuan-tuan (Cina) berjuang kebahagiaan bangsa dan tanah airnya. Kami akan membantu setiap orang dan melindungi siapa saja yang memerlukan perlindungan,” tegasnya.

Sehari kemudian, 9 April 1947, GPTP Aceh juga melakukan pertemuan dengan Gubernur Muda Sumatera Utara, MR SM Amin di Banda Aceh. Dalam pertemuan itu hadir juga Residen Aceh TT Muhammad Daodsyah, Staf Gubernur Sumatera Utara MR Teuku Muhammad Hanafiah, Letnan Kolonel M Nazir dari Komando TRI Divisi X, Kepala Polisi Residen Aceh bersama para pejabat dari beberapa jawatan pemerintah di Aceh.

Dalam pertemuan itu Gubernur Muda Sumatera Utara, MR SM Amin, meminta supaya orang-orang Tionghoa di Aceh bisa selalu menyesuaikan diri dengan perjuangan bangsa Indonesia. “Bangsa Indonesia akan terus berjuang sampai berapa lama sekalipun untuk kemerdekaan tanah airnya,” kata MR SM Amin.

Baca Juga: Tentara Perjuangan Rakyat Kudeta Residen Aceh.

Kemudian pada 9 Juni 1948, Liong Jaw Hiong yang berada di Penang, Malaysia diwawancarai oleh jurnalis dari  The Straits Echo dan  The Time of Malaya, dua surat kabar berbahasa Inggris yang terbit di Penang. Ia membantah provokasi Belanda dan Sekutu yang mengatakan masyarakat etnis asing hidup terancam di Aceh.

Menurutnya, kabar yang mengatakan terjadi perselisihan politik dan kekacauan di Indonesia yang sering disiarkan media pro Belanda, sama sekali tidak benar. Etnis Tionghoa, India dan Arab bisa hidup berusaha dan berkembang di Aceh, di bawah pengawasan dan perlindungan Residen Aceh.

Malah kata Liong Jaw Hiong, ketika di daerah lain di Indonesia yang telah diduduki pasukan Sekutu, harga-harga barang menjadi tinggi, barang-barang kebutuhan rakyat jadi langka, tapi tidak di Aceh. “Ketika harga barang di daerah Sekutu melambung tinggi dan langka, di Aceh keadaannya melimpah ruah dan juga murah,” jelas Liong Jaw Hiong.

Selain itu kata Liong Jaw Hiong, roda pemerintahan di Aceh berjalan dengan baik, sejak Residen Aceh yang dipimpin Teuku Muhammad Arief berhasil mengambil alih pemerintahan dari Jepang. Di Residen Aceh juga tidak terjadi perselisihan antara rakyat Aceh dengan etnis minoritas Tionghoa, India dan Arab. Perdagangan dan ekspor impor barang dari Aceh ke Penang dan Singapura juga berjalan dengan baik, meski mendapat blokade dari Belanda di Selat Malaka.

Baca Juga: Perang Idi Rayeuk, GAM Kuasai Kota.

Pada 12 Juli 1947, GPTP Aceh kembali mengadakan konferensi di Peunayong, Banda Aceh. Pembukaan konferensi etnis Tionghoa ini juga dihadiri oleh pejabat sipil dan militer Residen Aceh. Saat pembukaan konferesi selain menyanyikan lagu Indonesia Raya juga dinyanyikan lagu kebangsaan Tiongkok.

Wakil Ketua GPTP Aceh Tjoe Tjau Nam dalam sambutannya menjelaskan tentang kiprah GPTP yang baru berusia setahun dan mengucapkan terimakasih kepada Residen Aceh dan tentara TRI di Aceh yang memberi perlindungan kepada etnis Tionghoa di Aceh. Ucapan yang sama juga disampakan perwakilan GPTP Idi, Tjoeng Tieng Fong mewakili pengusaha Tionghoa dari berbagai daerah di Aceh.

Sementara Residen Aceh menyatakan kegembiraannya atas terjalinnya hubungan baik antara rakyat Aceh dengan etnis Tionghoa dan berharap hubungan baik itu bisa terus berkembang lebih baik di berbagai bidang. Hal yang sama juga disampaikan Kapten Hasbi Wahidy dari Komando TRI Divisi X, ZF Soetikno dan Ali Hasjmy. Tentang semua itu bisa dibaca dalam buku Modal Perjuangan Kemerdekaan yang ditulis oleh Talsya. Buku ini diterbitkan oleh Lambaga Sejarah Aceh pada tahun 1990.[]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA POPULER

Terbaru

Besok Ketua IKA USK Kukuhkan Amal Hasan Sebagai Ketua Ikafensy

BANDA ACEH – Ketua Umum Ikatan Keluarga dan Alumni Universitas Syiah Kuala (IKA USK)...

28 Nelayan Aceh Timur yang Ditahan di Thailand Tiba di Jakarta

JAKARTA - Sebanyak 28 nelayan asal Aceh Timur yang ditahan di Thailand sejak April...

Kunjungi Pasien Tumor Tyroid di RSUD, TP PKK Subulussalam Berikan Bantuan

SUBULUSSALAM - Ketua TP PKK Kota Subulussalam, Hj. Mariani Harahap, S.E mengunjungi pasien tumor...

PT Kencana Produksi 6 Ribu Ton Getah Pinus, Segini Penghasilan Penderes

BLANGKEJEREN - PT Kencana Hijau Bina Lestari yang beroprasi di Desa Pinang Rugub, Kecamatan...

Besok, FISIP Unimal Gelar FGD Pj Kepala Daerah, Ini Tujuannya

LHOKSEUMAWE – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh (FISIP Unimal) akan menggelar...

Ini Kata Amien Rais dan Wali Nanggroe Soal Implementasi MoU Helsinki yang Belum Tuntas

BANDA ACEH – Tokoh politik nasional yang juga dikenal sebagai Bapak Reformasi Indonesia, Amien...

Begini Pandangan Islam Terkait Korupsi

Tindak pidana korupsi tentunya melanggar hukum negara dan agama. Di dalam ajaran Islam, perbuatan...

KONI Pusat Gelar Rakor dengan Aceh-Sumut Kejar Persiapan PON 2024

JAKARTA – KONI Pusat menggelar Rapat koordinasi (Rakor) dengan Pemerintah Aceh, Pemerintah Provinsi Sumut,...

Wali Kota Lhokseumawe ‘Rombak Kabinet’, Ini Nama-Nama Pejabat Dilantik

LHOKSEUMAWE – Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, kembali 'merombak kabinetnya'. Kali ini, sebanyak 13...

Pegawai Kejari Gayo Lues Disuntik Vaksin Moderna

BLANGKEJEREN -- Pegawai Kejaksaan Negeri (Kejari) Gayo Lues mulai disuntik vaksin moderna sesuai surat...

Praktisi Hukum Asal Dewantara Minta Polres Lhokseumawe RJ-kan Perkara Pencurian di PIM

LHOKSEUMAWE - Muhammad Reza Maulana, S.H., praktisi hukum asal Dewantara, Aceh Utara, meminta pihak...

Terdakwa Kasus Korupsi Uang Makan Hafiz Gayo Lues Masih Terima Gaji, Segini Besarannya/Bulan

BLANGKEJEREN – Mantan Kepala Dinas Syariat Islam Gayo Lues berinisial HS yang menjadi terdakwa...

Sembilan Realitas Kematian yang Sering Dilalaikan Manusia, Apa Saja?

Setiap manusia pasti akan mengalami kematian. Maka sebagai Muslim perlu untuk mengetahui tentang kematian...

PNL Raih Peringkat Pertama Realisasi PNBP Terbesar

BANDA ACEH -- Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) berhasil meraih peringkat pertama realisasi Pendapatan Negara...

Begini Kondisi Proyek Lapangan Upacara Aceh Utara Rp1,4 M, tak Tampak Plang

LHOKSUKON – Proyek Penataan Lapangan Upacara Pusat Perkantoran Kabupaten Aceh Utara sumber dana APBK...

Polres Gayo Lues Musnahkan 59,75 Kg Ganja Milik Pelajar

BLANGKEJEREN – Sebanyak 59,755 Kg ganja kering dimusnaskan di halaman Polres Gayo Lues, Selasa,...

PIM Gelar Coastal Cleaning Up di Pantai Bangka Jaya dan Danau Laut Tawar

LHOKSEUMAWE - Karyawan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) menggelar kegiatan coastal clean up atau...

Terdakwa Kasus Korupsi Uang Makan Minum Hafiz Dituntut 7,5 Tahun Penjara

BLANGKEJEREN -- Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Gayo Lues menuntut masing-masing 7,5...

Pertumbuhan Keuntungan BUMA Belum Capai Target, Berapa Pendapatan Asli Aceh Hasil Blok B 2021?

BANDA ACEH – Pertumbuhan keuntungan Badan Usaha Milik Aceh (BUMA) sampai tahun 2020 belum...

Proyek Lapangan Upacara Aceh Utara Tahun 2021 Dikerjakan Hingga 2022, Dananya Diblokir

LHOKSUKON – Proyek Penataan Lapangan Upacara Pusat Perkantoran Kabupaten Aceh Utara sumber dana APBK...