Minggu, Juli 14, 2024

Tanggapan Ketua DPRK Aceh...

ACEH UTARA - Mendagri Tito Karnavian memperpanjang masa jabatan Pj. Bupati Aceh Utara...

Selamat! 2 Siswa Kota...

SUBULUSSALAM - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Balai Pengembangan Talenta...

Besok, Mahyuzar akan Terima...

ACEH UTARA - Dr. Mahyuzar, M.Si., akan menerima Surat Keputusan (SK) Mendagri tentang...

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...
BerandaInspirasiSejarahAceh Hari Ini:...

Aceh Hari Ini: Pejuang Republiken Keluar dari Sabang

Pada 24 Maret 1947 sebanyak 42 orang rakyat Aceh pro kemerdekaan Republik Indonesia keluar dari Pulau Weh, Sabang yang sudah diduduki Sekutu/NICA sejak 25 Agustus 1945. Mereka diantara dengan kapal Jansen milik Belanda ke Belawan, kemudian diserahkan ke Residen Aceh di perbatasan Aceh dengan Sumatera Timur.

Meski jarak Sabang dengan pelabuhan Uleelheu hanya satu jam perjalanan kapal laut, tapi Belanda tidak berani mengantar 42 rakyat Aceh itu ke daratan Aceh, tapi membawanya ke Belawan, karena sejak Sekutu/NICA menduduki Sabang, setiap kapal Belanda yang mendekati perairan Aceh selalu ditembaki dengan meriam, begitu juga dengan pesawat Belanda yang melakukan provokasi di udara Aceh, dua pesawat Belanda ditembak jatuh oleh pejuang Aceh dengan meriam sisa-sisa peninggalan tentara Jepang.

Serah terima 42 rakyat Aceh di perbatasan itu dilakukan oleh pejabat militer Belanda kepada Residen Aceh yang diwakili oleh pimpinan beberapa badan dan laskar pejuang. Mereka disembut dengan penuh haru dan disebut sebagai “Republiken Sejati” yang tidak tunduk kepada kekuasaan Sekutu/NICA di Sabang.

Baca Juga: Komando Divisi V TRI Dipindahkan ke Bireuen.

Anwar, salah satu dari 42 rakyat Aceh yang meninggalkan Sabang itu mengatakan, mereka rela meninggalkan keluarganya di Sabang karena tidak mau hidup di bawah kekuasaan Sekutu/NICA. Kehidupan di Sabang saat itu sangat terbelenggu, apa lagi setelah orang-orang pro republik dicatat dan didata oleh Belanda.

Anwar mengatakan setiap hari menyaksikan kesibukan di pangkalan angkatan udara di Cot Bak U, Sabang, kegiatan kapal-kapal perang Belanda menyiapkan serangan ke daratan Aceh dan memburu tongkang-tongkang pengangkut barang ke Aceh.

“Jika keadaan itu kami saksikan terus-menerus tanpa mencari jalan keluar untuk menyatukan diri dengan saudara-saudara di Aceh, berarti kami tidak setia. Oleh karena itulah maka kami beramai-ramai meminta kepada penguasa Belanda di Sabang supaya dibenarkan pindah ke Aceh. Syukurlah permintaan kami dipenuhi dan sekarang kami telah berada di tengah saudara-saudara,” kata Awar.

Anwar bersama rekan-rekannya yang baru pindah dari Sabang itu juga meminta diberi tugas dalam laskar dan badan perjuangan, untuk ikut serta dan dilibatkan dalam perjuangan di Aceh. Lebih jelas tentang itu bisa dibaca dalam buku Modal Perjuangan Kemerdekaan yang ditulis oleh Teuku Alibasjah Talsya, terbitan Lembaga Sejarah Aceh (LSA) tahun 1990.[]

Baca juga: