Pada 18 Februari 1947 di Banda Aceh dibentuk Pasukan Divisi Rencong oleh Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) Aceh, untuk laskar perempuan dinamai Divisi Pocut Baren.
Pelantikan pasukan Divisi Rencong dilakukan di lapangan Blangpadang, Banda Aceh. Mereka yang dilantik adalah Nyak Neh sebagai Panglima Divisi dan M Saleh Rahmany sebagai Kepala Staf.
Sementara resimen-resimen dipimpin oleh: Muhammad ZZ sebagai Komandan Resimen Istimewa Pocut Baren (laskar perempuan), A Gani Adam sebagai Komandan Resimen Aceh Besar, Putih Mauny sebagai Komandan Resimen Pidie, M Sacharuddin sebagai Komandan Resimen Aceh Tengah, Teuku Syamaun Latif sebagai Komandan Resimen Aceh Utara, Teungku Abdul Azis sebagai Komandan Resimen Aceh Timur, H Daud Dariyah sebagai Komandan Resimen Aceh Barat, dan M Salim Hasjmy sebagai Komandan Resimen Aceh Selatan.
Baca Juga: Dewan Perjuangan Daerah Aceh Dibentuk
Pembentukan pasukan Divisi Rencong dan Divisi Pocut Baren itu merupakan hasil koferensi ketiga Pesindo Aceh yang berlangsung sejak 14 Februari 1947 di Banda Aceh. Sebelumnya pasukan Divisi Rencong bernama Kesatria Pesindo.
Konferensi Pesindo saat itu dihadiri oleh pimpinan dan wakil pimpinan markas Pesindo seluruh Aceh. Hasil konferensi mengesahkan kepengurusan Pesindo Aceh yang baru yang terdiri dari: Ali Hasjmy (Ketua Umum), T Muhammad Amin (Ketua I), Moehammad ZZ (Ketua II), A Moenir (Ketua III), Tuanku Hasyim (Setia Usaha Umum), Sulaiman Arsyad (Setia Usaha I), T Muhammad Daoed (Setia Usaha II), Bachtiar Loebis (Setia Usaha III), Haroen Joenoes (Bendahara Umum), Oesman Raliby (Pembantu Umum)
Baca Juga: RI dan GAM Hasilkan Konsultasi Keamanan Aceh.
Selain itu juga dibantu oleh beberapa pengurus lainnya yang terdiri dari: Ibrahim, Zaini Bakri, S Ahmad Dahlan, Tgk Sjeh Mahaban, Sahim Hasjmy, Moeding, Ng Soeratno, Raden Indoen, Najan, R Soekarno dan Moehammad Saleh.
Sementara di Dewan Penasehat ada Tuanku Mahmud sebagai ketua, dengan para anggota yang terdiri dari: Amir Husen Al Mujahid, Kolonel Husein Jusuf, MR SM Amin, Tgk Abdurrachman, dan Nyak Mansoer.
Konferensi Pesindo Aceh juga menghasilkan resolusi yang menuntut pemerintah supaya memperkuat tenaga perjuangan, tidak menerima gencatan senjata yang ditawarkan Belanda, melakukan sapu bersih barisan kolone 5 Belanda, menghindari perselisihan antar partai-partai serta organisasi perjuangan, menyingkirkan orang-orang yang tidak disukai rakyat di badan pemerintah.[]
Baca Juga: Kisah Pertama Kali Komandan GAM dan Komandan TNI Bertemu di Satu Meja.





