ACCRA – ELVA dan Acehnese Civil Society Task Force (ACSTF) mendapatkan penghargaan pada kompetisi global yang dikemas dalam Making All Voices Count atas gagasannya “Inovasi advokasi untuk kebenaran dan keadilan di Aceh”. Penghargaan ini diserahkan di Accra, Ghana, Jumat, 26 Februari 2016 lalu.

”Gagasannya itu diawali oleh kompetisi yang diadakan oleh MAVC di tahun 2015,” ujar aktivis ACSTF, Juanda Djamal, melalui siaran persnya kepada portalsatu.com, Minggu, 28 Februari 2016.

Dia mengatakan ELVA bersama ACSTF mengambil inisiatif untuk berpartisipasi pada kompetisi ini. Menurutnya kompetisi Making All Voices Count sangat menantang dalam mengemas advokasi atas transisi keadilan, melalui sistem inovasi teknologi informasi yang saat ini sedang gencarnya dilakukan di tingkat global.

Selain itu, kata dia, kesempatan ini juga dapat mempromosi kembali Aceh di internasional.

“Kita ingin kembali bersanding dengan masyarakat global bahwa Aceh memiliki pengetahuan dan persaudaraan yang kuat, tentunya sebuah tantangan besar ketika gagasan kita dikompetisikan dengan gagasan lainnya dari seluruh Afrika dan Asia,” kata Juanda Djamal.

Selanjutnya, Agantaranansa Juanda yang mewakili ELVA mengatakan, pendekatan advokasi inovatif ini dapat mempermudah mereka melakukan advokasi. Terutama memobilisasi semua pihak untuk menjadikan teknologi informasi sebagai cara yang lebih efektif.

“ELVA yang berkantor utama di Georgia berharap, gagasan ini dapat berkontribusi positif bagi Aceh, terutama mendukung upaya pemerintah Aceh yang sedang mempersiapkan pemenuhan hak-hak korban dan keadilan,” kata Agantaranansa.

Pria yang akrab dipanggil Agan, mengatakan gagasan mereka masuk dalam 15 finalis dari 320 gagasan yang diseleksi. “Tentunya ini luar biasa, dukungan masyarakat Aceh dalam voting gagasan ini telah mengantarkan Aceh untuk berkompetisi dengan 14 finalis lainnya mewakili Afrika dan Asia, kami mengucapkan terima kasih atas semua dukungan,” katanya.

Juanda Djamal mengatakan ke-15 finalis diberikan mentoring selama seminggu di Accra, Ghana. Mereka diharuskan mempresentasikannya dalam waktu yang terbatas yaitu tiga menit.

“Tentunya itu tantangan besar. Alhamdulillah, akhirnya juri memutuskan gagasan ini masuk 9 terbaik dari 15 finalis dan berhak mengikuti tahapan selanjutnya, yaitu mempersiapkan rencana aksi selama setahun ke depan,” ujar Juanda.

Dia mengatakan ACSTF akan membangun program ini dengan prinsip kepentingan bersama dalam satu bulan ke depan. Kepentingan tersebut adalah bagaimana  mewujudkan kebenaran dan keadilan di Aceh.

“Makanya MAVC mengharapkan kita untuk melibatkan banyak pihak sejak awal, terutama organisasi korban, masyarakat sipil, jurnalis, perempuan dan paling utama adalah pemerintah,” kata Juanda.

Menurut Juanda, MAVC sangat menginginkan gagasan dan tools yang akan dikembangkan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat Aceh. Terutama mempermudah kerja pemerintah dalam memulihkan luka konflik, trauma dan memberikan kebenaran dan keadilan.

“Sehingga rakyat Aceh dapat melangkah ke masa depan yang lebih,” kata Juanda.[](bna)