TUJUH lelaki terlihat sibuk membenarkan pukat. Menarik jaring-jaring yang dirajut dari sebuah boat berwarna biru dan menumpuknya di pasir pantai. Sementara matahari nyaris berlalu ke ufuk barat. Pantulan sinarnya menguning di perairan Teluk Aceh. Sesekali memantul di lambung kapal nelayan yang hendak masuk ke Kuala.

Aktivitas nelayan ini saya rekam di pantai Kuala Gampong Jawa, Banda Aceh, Jumat, 10 November 2017 petang. Sebelumnya saya bersama ahli Epigraf Aceh, Tgk Taqiyuddin Muhammad, kolektor manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid atau Cek Midi, serta aktivis Mapesa Irfan M Nur dan Yusri Ramli, sempat menjajal kawasan Krueng Arosan, yang terpaut 500 meter ke arah barat dari proyek Intalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Gampong Jawa-Gampong Pande, Banda Aceh.

Selain pantai Kuala dan Krueng Arosan, di kawasan ini juga terdapat Benteng Kuta Meugat dan ratusan nisan kuno masa Kesultanan Aceh. Struktur benteng dan nisan-nisan itu kini tersembunyi di balik rimbunnya hutan bakau. Di kawasan ini pula ratusan koin emas pernah menampakkan wujudnya.

Kolektor Manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid menyebutkan kawasan ini merupakan kawasan peninggalan sejarah Aceh yang menjadi areal inti dari berbagai peristiwa sejarah. Lokasinya berada di tepi laut dan di bagian muara atau hilir Krueng Aceh. 

“Ini adalah salah satu panggung utama sejarah Aceh dan telah merekam jejak-jejak sejarah yang cukup banyak. Dulu, kawasan ini termasuk dalam Mukim Masjid Raya di mana Daruddunya, istana dan kuta para Sultan Aceh juga berada di mukim ini,” ujar Cek Midi.

Krueng Aceh sendiri, kata Cek Midi, mulai hulu sampai hilirnya merupakan nadi kebudayaan dan peradaban orang Aceh. Dari kawasan di dua tepi Krueng Aceh, orang Aceh telah menyebar ke berbagai tempat di Asia Tenggara. 

“Sungai atau Krueng Aceh ini harus mendapatkan penghormatan yang layak. Aliran sungai di bagian muaranya adalah jalur vital menuju ke Kuta Sultan dengan melewati Gampong Jawa,” katanya lagi. 

Informasi yang dihimpun menyebutkan, di Gampong Jawa terdapat makam Kepala Pelabuhan atau Syahbandar Aceh yang pernah hidup di abad ke 12 Hijriah. Namanya Syahbandar Mu'tabar Khan. 

Semua hal ini menunjukkan kepentingan dan nilai yang tinggi, yang dimiliki kawasan ini. “Karena itu, saya pikir, kawasan ini sama sekali tidak layak untuk menjadi tempat buangan sampah dan limbah apalagi lumpur tinja. Itu sama sekali tidak logis dan tidak masuk ke cita rasa,” kata Cek Midi yang juga aktif di Majelis Adat Aceh (MAA). 

Dia menilai, seluruh masyarakat Aceh akan sependapat dengan dirinya dalam hal ini. Pasalnya, penempatan lokasi buang sampah dan lain-lain di pinggir Krueng Aceh–yang melegenda dan juga di bekas kawasan paling penting dalam sejarah Aceh–tidak dapat diterima, baik dari segi adat dan kearifan orang Aceh, atau dari segi cita rasa keindahan. 

“Jadi, rencana penghentian IPAl, bahkan relokasi TPA dan IPLT, ini sudah seharusnya dilakukan oleh pemerintah, dan ini sudah merupakan sikap yang sangat bijak,” ujarnya lagi.

Dia menyarankan agar daerah ini digunakan untuk kawasan peninggalan sejarah. Tentu saja kawasan tersebut harus didukung dengan berbagai sarana edukasi masyarakat dan generasi muda. Cek Midi mencontohkan seperti museum kemaritiman, perpustakaan bahkan pengajian-pengajian keagamaan, dan terutama lagi sebagai pusat kajian sejarah Aceh. 

“Sehingga, kawasan ini juga menjadi kawasan tujuan wisata yang mengesankan, dan tidak menjadi kawasan wisata tutup mulut dan hidung oleh karena bau busuknya. Perlu diingat sekali lagi ini adalah kawasan utama dari kota Islam, Bandar Aceh Darussalam,” kata Cek Midi.[]