ACEH BARAT – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat, berinisial S, dikabarkan melaporkan anaknya sendiri ke polisi. Pasalnya, sang anak, RS (19), diduga memecahkan kaca mobil ayahnya tersebut.
RS memecahkan kaca mobil S pada Sabtu, 14 Juli 2018, sekira pukul 22.00 WIB, di rumah S, Gampong Suak Pante Breuh, Kecamatan Samatiga. RS mengaku kesal terhadap ayahnya yang dituding tidak memenuhi tanggung jawab setelah bercerai dengan ibu RS, akhir 2017 lalu.
Menurut F, ibu kandung RS, berdasarkan putusan Mahkamah Syariah (MS) Aceh Barat, mantan suaminya itu harus bertanggung jawab menanggung biaya hidup anak mereka, hingga mereka mandiri kelak.
F mengaku tidak menyangka, mantan suaminya itu tega melaporkan anaknya sendiri, gara-gara hal yang sepele. “Padahal sebagai ayah dia (seharusnya) melindungi anaknya. Wajar dia marah karena ayahnya tidak menanggung biaya anaknya,” kata F, kepada sejumlah wartawan di Sekretariat Bersama Wartawan Aceh Barat, Kami, 19 Juli 2018.
Bantahan S
Sementara itu, S, dihubungi portalsatu.com/, Kamis malam, membantah dirinya tidak memenuhi tanggung jawab sebagai seorang ayah. Meskipun sebulan ini dirinya tidak memberikan biaya untuk anak-anaknya, tapi ia mengaku punya alasan tersendiri, termasuk soal mengapa tega melaporkan RS ke polisi.
“Anak itu (RS), di doktrin oleh ibunya (F) agar melawan ayahnya sendiri. Saya tidak berniat memenjarakan dia, itu hanya untuk efek jera. Saya hanya ingin dia minta maaf ke saya, datang ke saya, kembali ke saya,” tegas politikus Partai Nasdem tersebut.
S menceritakan, anaknya itu berang karena dirinya sebulan belakang ini tidak memberikan biaya untuk kebutuhan RS dan adik perempuan RS, yakni P (17), yang sejak bercerai tinggal dengan ibu mereka, F. Alasan S karena dirinya merasa kesal dengan sikap F. Mantan istrinya itu, menurutnya, selalu bersikap seenaknya, dan tidak memedulikan pendidikan terhadap kedua anaknya.
“P yang perempuan, saya pesantrenkan di Banda Aceh. RS juga tidak kurang, di Jawa, di pesantren terkenal. Saya biayai mereka untuk belajar agama. Karena betul-betul saya tekankan agama ke mereka. Agama selalu saya kedepankan. Ini, ketika saya janjikan mereka saya hadiahkan mobil, tapi berhasil dulu di pesantren, ibunya malah ajar mereka bawa mobil hingga mereka lalai,” ujar S.
Menurut S, ketika RS dan P sedang fokus belajar di pesantren, belakangan F menyuruh anak-anaknya itu pulang untuk tinggal bersamanya. Saat ini P dimasukkan ibunya ke salah satu pesantren di Aceh Barat.
“Itu tanpa musyawarah. Padahal, P dalam tanggungan saya. Sengaja saya sekolahkan agama. P itu di Banda Aceh sudah hafal tujuh juz Alquran. Bulan puasa lalu saya uji, ‘amma yatasaa aluun’ saja cukup terbata-bata. Saya kesal. Rencananya, saya pending sementara menafkahi. Saya ingin mereka kembali ke pesantren. RS juga, dari Jawa saya sekolahkan, juga disuruh pulang,” kata S.
Menurutnya, pada malam kejadian ketika RS memecahkan kaca mobilnya, anaknya itu sempat mengancam. “Sambil memukul mobil, dia bilang, ‘keluar kamu! Adik saya pergi mengaji kenapa tidak kamu beri uang’. Saat itu, ia juga memukul kaca mobil. Dia bilang, ‘kamu harus kasih dalam dua hari ini, uang Rp10 juta. Kalau tidak, rumah kamu saya bakar, mobil kamu saya bakar, kamu juga akan saya bakar’,” ungkap S.
Menurut S, bukan sekali anaknya itu melakukan hal serupa. Bulan puasa lalu, RS sempat diminta bertemu oleh S. Saat itu, RS beralasan tidak bisa bertemu karena sepeda motornya sedang rusak. S kemudian menawarkan RS uang sebanyak Rp500 ribu. Namun RS menolak karena jumlahnya dianggap terlalu sedikit.
“Dia mengatakan, uang segitu celana dalam saja tidak dapat. Padahal saya sudah bilang, saat itu lagi kurang uang, bahkan saya sempat berutang ke orang lain, namun dia tidak peduli. Saat itu dia menolak diberi segitu. Tidak usah katanya, saya bilang ya sudah terima kasih kalau begitu,” ujar S.
Setelah menolak uang yang hendak diberikan itu, menurut S, anaknya sempat mengancam dengan mengatakan, “Tapi, awas saya akan berbuat sesuatu!” Lalu, S menjawab, “Oh, silakan”.
“Kemudian malamnya, dia tusuk ban mobil saya hingga bocor,” kata S.
Tidak hanya itu, menurut.S, tiga bulan sebelumnya, dirinya juga pernah diancam oleh RS. “Pernah diancam kira-kira tiga bulan yang lalu, kalau saya tidak kasih uang Rp5 juta akan bakar rumah atau bakar kaca mobil, atau saya akan dipukul,” ujar S.
S mengatakan, sikap anaknya, RS, menjadi seperti itu karena pengaruh ibunya, F. Mantan istrinya itu, kata S, sengaja menjadikan anak-anaknya sebagai tameng setelah perceraian. S mengaku sudah berkonsultasi dengan ahli agama soal sikap anak-anaknya itu.
“Karena saya sudah menikah lagi. Itu menjadi alasan yang dibangun oleh F kepada anak-anak saya. Sehingga anak-anak saya kesal sama saya. Padahal, perlu diketahui, saya menceraikannya karena ia yang minta. Itu juga terjadi sebelum saya menikah lagi,” kata S yang mengaku sedang dalam proses membangun pesantren di desanya ini.[]






