LHOKSEUMAWE – Ratusan anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Kuta PaseKota Lhokseumawe ziarah makam mantan Komandan Operasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) almarhum Ahmad Kandang di Gampong Leuhong, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, Rabu, 28 Juni 2017.
Mereka umumnya mantan anggota pasukan pimpinan langsung almarhum Ahmad Kandang. Turut hadir dalam acara ziarah tersebut kerabat dan keluarganya, mantan istrinya Fitriani, dan putra Ahmad Kandang bernama Ramadhan, yang segaja pulang dari Denmark dalam rangka hari raya Idulfitri.
Rombongan penziarah berdatangan ke lokasi makam di sebuah desa terpencil di Aceh Utara dengan menggunakan berbagai jenis mobil dan kendaraan roda dua sejak pukul 10.00 WIB.
Jarak ke lokasi kuburan Ahmad Kandang dari pusat Kota Lhokseumawe sekitar 40 KM. Meski terpencil, ke lokasi makam dapat ditempuh dengan mudah menggunakan berbagai jenis kendaraan karena kondisi jalan sudah mulai bagus dan beraspal.
Saban tahun, makam Ahmad Kandang ramai diziarahi oleh mantan kombatan GAM dan masyarakat Aceh umumnya terutama di hari raya Idulfitri.
Ini sudah menjadi agenda rutin bagi kami setiap tahun, dari sini kami berdoa untuk segala arwah para syuhada yang telah almarhum berjuang untuk Aceh. Juga sebagai ajang mempererat silaturahmi sesama anggota (KPA) dalam rangka Idulfitri, ujar Muzakir Thaher alias Pakeh yang juga koordinator ziarah.
Setiap 3 atau 4 Syawal, kami berusaha untuk selalu bisa hadir guna menziarahi makam Ahmad Kandang, kata Pakeh.
Ini bukan tempat rahasia lagi, siapa pun boleh datang kemari berziarah ataupun untuk sekadar menyaksikan sebuah bukti sejarah, bahwa ada anak dari bangsa ini di kubur di tengah hutan, jauh dari handai taulannya sebab berkorban mempertaruhkan harta, darah dan nyawanya demi masa depan dan kemuliaan Aceh. Semoga kita semua generasi ke depannya tidak menyia-nyiakan pengorbanannya, ucap Pakeh dengan nada bergetar.
Ahmad Kandang adalah seorang tokoh pejuang GAM didikan langsung Dr. Hasan Muhammad Di Tiro di Tripoli Libya. Meski keberadaannya pernah dianggap misterius, tetapi perbuatannya dianggap nyata.
Kiprah Ahmad Kandang di masa hidupnya sempat menjadi berita utama di berbagai media massa nasional maupun internasional. Pernah menjadi orang nomor satu paling diburu oleh TNI/Polri ketika itu. Awal tahun 2.000 di Aceh, sosok Ahmad Kandang begitu populer, sehingga para bocah di Pulau Nasi pun banyak berlagak seperti dirinya ketika main perang-perangan.
Kehadiran Ahmad Kandang saat itu sangat dieluk-elukan oleh pendukungnya, perintahnya paling dituruti. Ahmad dikenal piawai menciutkan nyali para musuhnya. Kabar kematiannya pun menjadi ratapan kepiluan bagi yang mencintainya di seantero Aceh.
Bagi kami, almarhum adalah seorang kanda, pemimpin, guru, komandan dan sahabat dalam perjuangan. Banyak hal yang belum bisa kami lupakan, banyak romantika perjuangan yang kami lalui bersama beliau. Kami masih mengenangnya, hari ini kami berdoa semoga amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah SWT dan diampunkan segala dosa-dosanya, ujar Pakeh.[]
Penulis: Yon Musa di Lhokseumawe





