Senin, Juli 22, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaApa yang Berubah...

Apa yang Berubah dari Budaya Kita? 

Penulis: Taufik Sentana
Peminat studi sosial, kebudayaan dan kreativitas. 

Sependapatkah anda bahwa kita menampakkan watak dari kebudayaan? Mengisi hari-hari, belajar, berbelanja, menyaksikan program favorit lewat televisi dan mengamalkan ritus religi. Dari rangkaian aktivitas lainnya kitapun berproses dari mengenal, menduplikat, mensintesa ke mencipta dan melestarikan. 

Selalu ada ruang untuk diskusi, sebagian besar pendapat mengedepankan faktor eksternal dalam membangun sikap nilai personal kita, selebihnya adalah pilihan (sadar ataupun tidak)  dari keterkondisian kita yang akan berlangsung terus dan saling memengaruhi. 

Ibnu Khaldun memandang pentingnya sistem nilai komunitas dalam membentuk kebudayaan secara umum, hingga kebudayaan itu menjadi kekuatan pembeda dan pembanding yang akhirnya diikuti oleh komunitas (masyarakat) lain. Maka masyarakat dengan inferioritas kebudayaan akan tunduk pada hegemoni kebudayaan tertentu. Masyarakat dengan dengan komponen kebudayaan yang lemah akan mengikuti arus kebudayaan yang lebih kuat. 

Pada capaian kebudayaan tertentu, dalam pandangan Huntington,  kebudayaan itu dapat beralih wujud menjadi peradaban saat ia telah melintasi sekat suku, agama, wilayah dan sebagainya. Hingga jama' kita dengar sebutan perdaban barat, peradaban timur dan perdaban Islam. Dalam paragraf ini dapat ditilik bahwa kebudayaan sebagai identitas yang tumbuh, mewarnai zaman atau punah. 

Kebudayaan sebagai Identitas

Adalah wajar dan fitrawi bila dalam konteks lokal, kebudayaan Aceh dinisbahkan pada syariat (menjadi tema PKA 2018) sebagaimana nusantara “menjadi identitas untuk kebudayaan Indonesia. Hanya saja, Ibnu Khaldun menekankan bahwa kebudayaan bisa saja mengandung unsur agresifitas, atau justeru egaliter dan penuh solidaritas, dalam hal ini (yang menjadi trend wacana” nasional), entitas kenusantaraan tidak menjadi hambatan bagi identitas Islam di wilayah manapun di Indonesia atau sebaliknya, Islam tidak menjadi hambatan untuk kenusantaraan. Inilah arah kebudayaan yang sejalan dengan sifat luhur kemanusiaan. 

Wujud kebudayaan yang terindentifikasi dari prilaku dan gaya hidup masyarakat setempat maupun instrumen antropologisnya bermuara dari daya nalar dan capain inderawi ,hingga dapat berfungsi sebagai pemudah dan pemenuh kebutuhan keseharian kita, baik itu bersifat intelektual, emosional, pekerjaan atau hiburan semata, dari kesenian, sastra hingga teknologi tinggi.

Menangkal Serbuan Budaya Pop 

Hanya saja vitalitas kebudayaan kita tidak hanya didapat dari sistem nilai syariat, misalnya, tetapi dari proses berfikir dan mengelaborasi ragam sumber daya agar bermetaforma menjadi wujud baru yang perlu dilestarikan. Sedangkan syariat menjadi ruh dari vitalitas tadi.

Kelemahan kita akan hal ini, (berfikir dan mencipta) akan menjerumuskan kita pada arus kebudayaan instan yang lebih ringan, mudah dan menghibur secara dangkal (melalaikan akal), inilah yang disebut dengan budaya pop yang mulai berkembang sejak era 60-an lewat hegemoni Amerika dan beberapa negara Eropa, dan akan terus berlangsung dengan menyasar anak-anak muda khususnya dengan tawaran produk budaya trend, simpel, penuh imitasi dan menghibur: Dari makanan ringan, sea food, pewangi badan, pakaian dan tempat nongkrong yang wah. Apalagi dengan mudahnya akses digital dan perkembangan informasi, akan menyisakan ruang ketidak-berdayaan bila semata bersikap konsumtif. 

Serbuan budaya pop inipun akan membangun ruang ketimpangan dan kemunduran bila tanpa sikap konstruktif dan progressif,  yang berkembang malah prilaku hedonis dan konsumeris(me), yang hanya mengedepankan persepsi massal: apa yang disukai orang banyak layak kita sukai juga (?).

Kontribusi Kita

Dalam menjawab judul di atas, tentang yang berubah dari kebudayaan kita, maka ianya sangat tergantung dari kontribusi kita selaku makhluk yang berbudaya” secara alami. Dengan arti bahwa kita senantiasa mendaya-gunakan potensi akal dan rasa kita secara sadar dan mengombinasikan wujud budaya hari ini dengan capaian paling mutakhir. Karena faktanya, kebudayaan memang berdampak pada perubahan sosial dan bahkan perubahan nilai. Sebagaimana dulu kita sangat agraris, lalu kini industrialis-mekanis berbasis teknologi tinggi yang sedang dikepung dalam fase digitalisasi dan perkembangan informasi.

Sehingga sangat penting pula agar semua perangkat sosial berpadu dalam melestarikan kebudayaan kita, baik secara formal di sekolah dan pemerintahan. Di sekolah, warganya bisa mempertajam semangat berfikir dan kreatifitas,  sedangkan di rumah, sebagai pranata non formal dapat mengawalinya dari tradisi musyawarah, bercerita, menanam,  berkebun dan bergotong-royong tanpa mengesampingkan nilai-nilai populer yang bisa menjadi lahan industri kreatif yang berdampak pada kesejahteraan secara umum, itulah kiranya makna lain dari perhelatan PKA 7 tahun ini.[]

Baca juga: