BANDA ACEH – Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) harus benar-benar menjadi penghela perbaikan ekonomi masyarakat Aceh yang terdampak wabah Covid-19. Program pemulihan ekonomi harus dilakukan secara komprehensif, proyek APBA tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertetu saja, pengusaha lokal perlu dilibatkan agar uang beredar dalam masyarakat.

Hal itu disampaikan Mantan Ketua Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) Aceh, Muhammad Furqan Firmandez, Rabu, 5 Mei 2021. Menurutnya, keberpihakan APBA kepada program pemulihan ekonomi rakyat Aceh secara komprehensif di tengah pandemi sangat penting.

“Pengusaha lokal harus dilibatkan dalam pemulihan ekonomi masyarakat. Pemerinah Aceh perlu memberikan pemerataan pekerjaan ke banyak pengusaha lokal,tidak hanya kepada satu kelompok saja, sehingga pundi-pundi APBA mengalir dan beredar dalam masyarakat banyak, yang nantinya akan berdampak pada meningkatnya daya beli dan pemulihan ekonomi bisa berjalan,” jelasnya.

Furqan menambahkan, setiap program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dilakukan oleh Pemerintah Aceh melalui instansi dan dinas terkait juga harus adanya pendampingan yang baik, terutama untuk para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), dengan adanya pendampingan maka dampak yang ditimbulkan juga akan lebih baik.

“Masyarakat Aceh masih banyak yang belum sejahtera, pandemi menyebabkan banyak pelaku usaha yang gulung tikar. Pemerintah Aceh perlu hadir memberi stimulus dan pendampingan, sehingga pelaku usaha di Aceh tidak tambah terpuruk, APBA yang besar harus menjadi pendongkrak ekonomi rakyat secara komprehensif,” tambahnya.

Furqan juga berharap praktek-praktek monopoli pekerjaan dari proyek APBA oleh kelompok tertentu juga harus dihentikan, agar sebaran pekerjaan bisa merata kepada para pengusaha lokal. Distribusi pekerjaan yang merata akan sangat membantu pengusaha lokal bertahan di tengah pandemik.

“Pengusaha lokal itu mempekerjakan pekerja-pekerja lokal, ketika mereka mendapat pekerjaan, uangnya akan beredar dalam masyarakat lokal juga. Artinya, dengan adanya uang dalam masyarakat daya beli naik, roda ekonomi berputar. Jika tidak, maka ekonomi Aceh akan terus lesu,” pungkasnya.[]