Telah sepakat para ulama bahwa rujukan kedua setelah Alquran adalah Hadis Nabi Muhammad SAW. Adapun hadis adalah semua yang disandarkan kepada Baginda, baik ucapan, tindakan, putusan ataupun diamnya.

Imam Bukhari termasuk perawi hadis yang paling mashur dan valid, karena prosedurnya yang ketat dalam mempelajari hadis. Ia menghafal sekitar 600 ribu hadis. 

Namun suatu malam ia bermimpi tentang lalat. Dalam mimpinya ia menepis-nepiskan lalat di sekitar dirinya. Lalu ia pun menyampaikan perihal mimpi itu pada gurunya.

Dengan penuh yakin gurunya mentakwilkan bahwa mimpi Imam Bukhari berkaitan dengan hadis hadis yang ia kumpulkan, dan tentunya akan dijadikan sebagai pedoman kedua setelah Alquran. Maka, kata gurunya, Imam Bukhari mesti memastikan kesahihan hadis hadisnya, agar tak bercampur dengan yang palsu. Artinya, lewat mimpi itu gurunya berpendapat agar Imam Bukhari menyeleksi ulang hadis hadis yang telah ia hafal dan kumpulkan. 

Akhirnya Imam Bukhari pun mengikuti saran gurunya, hanya sekitar 300 ribu hadis yang dianggapnya sahih atau valid.

Demikianlah sekelumit usaha sang Imam hadis, melalu ilham dalam mimpi yang shadiq, sebagai bentuk usaha agar kita terselamat dari sandaran yang  palsu. Besarnya usaha sang Imam mestilah menjadi motivasi bagi setiap muslim untuk semakin mencintai hadis, (sebagai lafazh nabawi )dan mengamalkannya dalam keseharian.[]

Oleh Taufik sentana dinukil dari Chanel UAS Official, saat mengisi kajian di Malaysia.