BANDA ACEH – Netizen di Aceh heboh usai muncul artikel berjudul “Mengolok-olok” yang diposting Teuku Fachrul Rizal di laman Facebook miliknya, Sabtu, 14 Oktober 2017. Dalam tulisan tersebut, Teuku Fachrul Rizal mempertanyakan klaim gelar sultan dan sultanah Kerajaan Aceh Darussalam oleh seseorang beberapa hari terakhir.

“Tuanku Muhammad Daudsyah adalah sultan terakhir Kesultanan Aceh yang mangkat di pembuangan beliau di Batavia. Anak beliau tertua adalah Tuanku Raja Ibrahim dan anak Tuanku Raja Ibrahim tertua adalah YM Teungku Putroe Shafiatuddin Cahya Nur Alam. Beliaulah zuriat yang syah dan berhak menyandang gelar Sultanah,” tulis Teuku Fachrul Rizal dalam laman Facebook-nya. Dalam tulisan itu, Teuku Fachrul Rizal juga menyayangkan jika ada para pihak kemudian mengakui sebagai sultan dan sultanah Aceh.

Tulisan ini kemudian mendapat respon dari netizen, terutama para pecinta sejarah Aceh dan keluarga besar Silaturahmi Nasional (Silatnas) Raja dan Sultan Nusantara. Adi Fa, salah satu pengguna Facebook yang selama ini kerap menulis status-status terkait sejarah Aceh turut membagikan tulisan Teuku Fachrul Rizal tersebut.

Tulisan ini kemudian menimbulkan ragam komentar dari netizen. Tidak sedikit yang menyayangkan sikap klaim sepihak tersebut karena dinilai menghina nasab keturunan pewaris Sultan Aceh. Namun, ada juga yang memandang positif penabalan sepihak ini demi perjuangan menghentikan proyek Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) di Gampong Jawa, Banda Aceh.

Merujuk perdebatan tersebut, portalsatu.com kemudian mengetahui objek tulisan ini ditujukan kepada sosok Muammar Alfarisi dan Cut Putri. Kedua nama ini disebut-sebut sebagai pihak yang memperjuangkan penghentian proyek IPAL di Gampong Jawa bersama komunitas Peusaba.

“Pertanyaannya siapa yang mengolok-olok,” tulis Fadhli Abdullah menanggapi postingan artikel yang dibagikan Adi Fa.

Pertanyaan Fadhli ini kemudian ditanggapi Arhas Pirada dengan mencantumkan link yang memperlihatkan postingan beberapa foto oleh Muammar Al Farisi. sumber: Facebook Adi Fa

 

Dalam postingan tersebut, terlihat aktivitas sekelompok anak-anak sedang berziarah di makam seseorang. Mereka didampingi seorang perempuan, berkostum merah hitam. Masih dalam postingan ini, Muammar Al Farisi turut membubuhkan keterangan terkait sosok perempuan yang dimaksud.

“Pangeran Keshvar Ajam-e-Bozorg Perkasa Alam Muammar Al  Farisi Seljuqi Turkistani Wal Maqduni dan Malikah Al Asyi Tuan Putri Mehran Mumtaz Mahal Mirattut Zamani Amytis Shahbanu Begum. Tuan Putri Mehran dengan semangat menceritakan kisah pahlawan Turki dari Baitul maqdis yang membantu Kesultanan Aceh melawan kafir Portugis. Anak-anak senang dan bersemangat mendengar penjelasan Tuan Putri Mehran. Tuan Putri Mehran ingin anak-anak tahu sejarah Aceh karena kelaklah mereka yang akan memimpin negeri Ini. Tuan Putri ingin anak Aceh Sejak usia dini telah mengenal Sejarah Aceh dan bisa meneladani kebesaran Nenek Moyangnya dalam membela kehormatan Islam.” Tulis Muammar Al Farisi.

Diduga, klaim “Pangeran” dan “Malikah Al Asyi” inilah yang kemudian menuai perdebatan sejumlah pihak. Lagipula, dalam diskusi panjang akun Adi Fa, gelar-gelar tersebut merujuk kepada trah kesultanan Aceh. Padahal, menurut Adi Fa, keturunan sah Tuanku Muhammad Daud Syah, selaku Sultan Aceh terakhir yang ditangkap dan dibuang ke Jawa oleh Belanda bukan pihak yang bersangkutan.

Adi Fa mengatakan, “cucu Sultan Aceh yang terakhir YM Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam binti Tuanku Pangeran Ibrahim bin Sultan Muhammad Daodsyah zilullah fil Alam Johan Berdaulat.”

Penegasan trah keturunan Sultan Aceh ini kemudian dibarengi dengan foto Adi Fa bersama seorang perempuan berumur lanjut, yang diduga sebagai sosok asli cucu Sultan Aceh terakhir.

Ingin tahu apa isi lengkap tulisan berjudul “Mengolok-olok” ini? Berikut kutipan lengkap tulisan Teuku Fachrul Rizal yang disalin portalsatu.com:

MENGOLOK OLOK

Tuanku Muhammad Daudsyah adalah sultan terakhir kesultanan aceh yang mangkat di pembuangan beliau di Batavia.

Anak beliau tertua adalah Tuanku Raja Ibrahim dan anak Tuanku Raja Ibrahim tertua adalah YM Teungku Putroe Shafiatuddin Cahya Nur Alam.
Beliau lah zuriat yang syah dan berhak menyandang gelar Sultanah.

Tiba2 muncul sosok perempuan yang disebut oleh pendukungnya dan diberitakan media online sebagai Sultanah Aceh. Dan adapula yang mengaku sebagai Sultan Aceh.
Ini adalah olok olok yang melecehkan marwah Kesultanan dan keturunan sultan.

Sultan Muhammad Daudsyah adalah sosok yang tidak mau kedaulatan Aceh berada di bawah penjajah dan rela kehilangan mahkota dan mangkat di negeri asing (semoga Allah memberikan tempat terbaik bagi arwah beliau).

Memperjuangkan makam ulama dan pemuka kesultanan di masa lalu adalah perbuatan terpuji namun mengolok-olok nasab adalah perbuatan hina.

Semoga saja orang yang tidak bernasab kepada sultan diberi kesadaran dan insaf.

(Bek sampoe peugah haba ngon binteh).[]

sumber: Facebook Teuku Fachrul Rizal