KAPTEN LET PANDE
Episode 10 – Cerita Bersambung – Novel Serial

Karya: Thayeb Loh Angen

Sultan Aceh memerintahkan sebagian angkatan perang turun dari kapal dan mendarat, menduduki Benteng A Famosa yang telah ditinggalkan oleh Portugis. Kapten Let Pande bersama seribu orang pasukannya memilih tetap di kapal.

“Ini kesempatan mengail lagi,” Adib menarik kailnya.

“Kapten, kita hanya memiliki seribu butir meriam lagi,” Keurani Tapa datang seraya memegang piring nasi berisi dendeng.

“Bagikan sama jumlah setiap meriam.”

“Kapten, apa kira-kira Portugis mendatangkan bantuannya?” Keurani Tapa duduk di geladak dan mengunyah-ngunyah kemamah. Angin laut menerpa bendera Angkatan Laut Turki Usmaniyah di kapal-kapal.

“Saat ini, mereka tidak punya sumber daya. Sampai enam bulan ke depan, mereka tidak akan dapat mendatangkan bantuan yang berarti. Tentara mereka di Goa hanya ada tiga puluh ribu. Mereka harus mendatangkan bantuan dari pengkalan militer mereka di Mozambik, di sana ada empat puluh ribu orang tentara. Ini musim angin timur. Pengiriman tentara melalui Samudra Hindia dari barat ke timur tidak dapat dilakukan, kapal mereka tidak akan tahan badai.”

“Berarti Melaka telah jatuh di bawah Aceh Kembali. Kita berhasil mencegah pemurtadan?”
“Begitulah sementara ini.”

“Kudengar, Paduka Yang Mulia Sultan Aceh akan menghukum Raja Melayu yang membela kafir Portugis,” Adib melempar kail ke laut.

“Pengkhianat pengecut itu seharusnya dihukum pancung. Kita mati-matian menjaga tanah Melayu supaya tidak dijajah oleh kafir, dia malah membela mereka,” Keurani Tapa mengepal tinju ke udara.

“Engkau turun saja, pancung dia!” teriak Adib.

“Paduka Yang Mulia Sultan Aceh yang menghukumnya, bukan kita,” Keurani Tapa melihat Adib.

“Jangan beritahukan kepada Baginda Sultan, datanglah sendiri secara bersembunyi-sembunyi, lalu bunuh pengkhianat itu.”

“Kenapa bukan engkau saja yang membunuhnya.”

“Yang mengatakan ingin membunuhnya adalah engkau, bukan aku.”

“Engkau memancing saja sana.”

“Dari tadi memang itu yang kulakukan.”

Adib menghabiskan hari itu dengan mengail. Dia memasang puluhan mata kail di puluhan benang. Sebagai umpan, dia mengambil dendeng dari jatah makannya. Walaupun laut baru saja dihantam meriam-meriam dan bermandikan darah, ikan-ikan di sekitar kapal banyak berkeliaran. Menjelang magrib, Adib telah mendapatkan puluhan ekor tuna.