DAMASKUS – Ketua Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah, Ahmad Kazem, mengatakan bahwa intelijen Amerika Serikat (AS) sedang mempersiapkan aksi provokasi dengan senjata kimia di dekat al-Tanf, Suriah. Tujuannya untuk mendorong bentrokan antara Damaskus dan Kurdi Suriah.
“Saat ini persiapan (di al-Tanf) sedang dibuat oleh dinas khusus AS yang berkoordinasi dengan Daesh di wilayah tersebut untuk melakukan provokasi yang identik dengan jenis yang terjadi di Douma,” kata Kazem menggunakan istilah Arab untuk ISIS.
“Kurdi, termasuk wanita dan anak-anak, sedang dipersiapkan untuk operasi bendera palsu,” tambahnya seperti dikutip dari Sputnik, 16 Juni 2018.
Kazem berpikir ada kemungkinan sangat besar aksi provokasi yang akan dilakukan tersebut.
“Operasi itu sedang dipersiapkan dengan tujuan menyebabkan benturan antara Kurdi dan tentara Suriah,” ungkapnya.
Pada hari Senin, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov, mengatakan bahwa kementerian telah menerima informasi dari berbagai sumber bahwa militan Tentara Pembebasan Suriah dan pasukan operasi khusus AS sedang mempersiapkan serangan bendera palsu yang melibatkan penggunaan zat beracun di wilayah timur Suriah Deir al-Zor.
AS, Inggris dan Prancis melancarkan serangan rudal terhadap Suriah pada April lalu setelah apa yang mereka klaim sebagai serangan kimia di Douma, Ghouta Timur. Damaskus dan Moskow mengutuk serangan itu, dan menunjukkan bahwa trio sekutu itu tidak memberikan bukti substantif bahwa serangan kimia benar-benar terjadi.
AS menempati zona 54 km di sekitar pangkalan militernya di At-Tanf, di mana mereka melatih dan memperlengkapi pasukan oposisi bersenjata Suriah. Situasi di kamp pengungsi Rukban yang berdekatan dengan AS telah disebut “bencana kemanusiaan,” dan diperkirakan menampung lebih dari 60.000 pengungsi.
Kementerian pertahanan Rusia menuduh al-Tanf memuntahkan kelompok-kelompok ISIS yang membuat terobosan untuk meluncurkan operasi teroris subversif terhadap pasukan dan warga sipil Suriah.”[] Sumber: sindonews.com/Berlianto


