Kini kita berada di bulan Syawal setelah sebulan penuh mengisi bulan Ramadan dengan ibadah. Syawal mempunyai makna dan bermacam peristiwa bersejarah.

Syawal merupakan bulan kesepuluh dalam penanggalan Hijriah yang dihiasi keutamaan dan keistimewaan. Sebagian ulama dan fuqaha menganggap bulan syawal sebagai bulan implementasi konsep ibadah Idul Fitri yang bermakna kembali ke fitrah.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan Syawal itu mempunyai makna tersendiri. Ini sebagaimana diungkapkan Syekh Ibnul ‘Allan Asy Syafii. “Penamaan bulan Syawal itu diambil dari kalimat Sya-lat al Ibil yang maknanya seekor unta yang mengangkat atau menegakkan ekornya. Syawal dimaknai demikian, karena dulu orang-orang Arab menggantungkan alat-alat perang mereka, disebabkan sudah dekat dengan bulan-bulan haram, yaitu bulan larangan untuk berperang.” (Kitab Dalil al Falihin li Syarh Riyadh al Shalihin, Syekh Muhammad bin ‘Allan al Shiddiqi al Syafii al Maki)

Ada juga yang memberi argumentasi bahwa bulan Syawal menurut akar katanya berarti naik, ringan, atau membawa (mengandung). Hal ini disebut demikian karena dahulu, ketika bulan-bulan Hijriah masih ‘disesuaikan’ dengan musim (praktek interkalasi), suhu meningkat karena berada pada musim panas seperti halnya Ramadan.

Dalam anggapan masyarakat bahwa biasanya orang Arab mengamati bahwa pada bulan inilah unta-unta mengandung atau menaikkan ekornya sebagai tanda tidak mau dikawini. Karenanya, dulu orang Arab juga memiliki kepercayaan bahwa bulan ini ‘tidak baik’ dan melihat pernikahan di bulan Syawal akan berakhir sial. Kepercayaan ini dihapus oleh Islam dengan peristiwa pernikahan Nabi Muhammad SAW., di bulan tersebut.

Selain itu, makna Syawal sebagai bulan peningkatan ibadah. Sebagian orang beranggapan bahwa Syawal adalah bulan peningkatan, dalam arti peningkatan amal dan kebaikan dan ini berdasarkan makna bahasanya.

Mari kita mengisi bulan Syawal dengan meningkatkan ibadah setelah Ramadan menuju kehidupan yang lebih baik di bawah keridaan-Nya.[]