Oleh: Taufik Sentana*
Rasulullah pernah menyampaikan wasiat berharga kepada kita:
“Berilah makan buah kurma kepada isteri-isterimu yang sedang hamil, karena sekiranya wanita hamil itu memakan buah kurma, niscaya anak yang akan lahir kelak akan menjadi anak yang penyabar, bersopan santun serta cerdas. Sesungguhnya makanan Siti Maryam ketika melahirkan Nabi Isa as adalah buah kurma. Sekiranya, Allah SWT menjadikan suatu buah yang lebih baik dari pada buah kurma, maka Allah telah memberi makan buah itu kepada Siti Maryam.” (HR. Bukhari)
Karena masih dalam suasana berlebaran, marilah kita duduk sejenak sambil membayangkan makanan terbaik di atas hidangan. Yang terbayang kemudian justeru makanan sarat karbo dan glukosa tinggi serta beberapa minuman sirup (dari bahasa arab: syarab, minuman) yang sebagian besarnya hanya ekstrak kimiawi, alias tidak asli.
Dalam tradisi lebaran kita dan dalam beberapa jamuan adat atau seremoni tertentu, sangat jama' kita jumpai bahwa kebanyakan dari menu hidangannya disesaki makanan yang mengundang selera gizi dan seiring dengan potensi penyakit yang mungkin muncul. Hal ini karena Allah telah Menakar Segala Sesuatunya, termasuk asupan yang masuk ke tubuh kita, maka tatkala kadarnya telah lebih, maka tubuh akan langsung meresponnya.
Hidangan Kurma dalam Menu Harian
Poin ini mengisyaratkan bagi kita untuk memperhatikan hidangan, menu harian kita dan apapun yang masuk ke tubuh kita. Wajar sekali Allah menamakan salah satu surat Quran dengan Al-maidah, yang bermakna hidangan. Dalam ayat lain Allah juga meminta kita dalam firman-Nya: ” Hendaklah setiap manusia memperhatikan makanannya: dalam rangka mengingat kebesaran Allah”.
Kutipan Hadis Nabi Muhammad SAW di atas tadi, yang berkaitan dengan kurma, diharapkan dapat menjadikan kurma sebagai bagian dari menu hidangan harian kita. Meskipun bunyi hadisnya tentang memakan kurma bagi ibu hamil dan pasca bersalin, hadis ini bisa dimaknai secara umum, kurma bisa dan baik dikonsumsi oleh siapa saja sampai ada alasan medis dan syar'i yang melarangnya.
Kita jadikan kurma sebagai menu harian dalam arti, konsumsi kurma menjadi gaya hidup sehat di tengah dunia kita yang glamor dan serba jungki (baca jangki) dan cepat saji . Kabar baiknya bahwa di Aceh, kawasan Barbate, telah dicanangkan sebagai pusat produksi kurma dengan potensi lahan 300 hektar). Dengan langkah ini kita bisa menjadikan Aceh sebagai salah satu pioner dalam menghidupkan tradisi kurma, tradisi sehat ala Nabi.
Kitapun umumnya telah mengetahui bahwa buah kurma memiliki kandungan 50 persen gula dan dagingnya terdiri dari fruktosa dan glukosa yang memiliki kalori yang tinggi. Hal ini membuat kurma menjadi mudah untuk dicerna, selain itu, kandungan gulanya juga dapat menenangkan saraf yang gelisah serta memberikan rasa aman pada kejiwaan.
Dalam salah satu riwayat hadis disebutkan bahwa pohon kurma khususnya, diidentikkan dengan karakter seorang muslim yang penuh manfaat, sebagaimana lebah diidentikkan dengan seorang mukmin. Jadi, hidangan kurma identik dengan hidangan yang menjanjikan kebaikan, suatu hidangan surgawi”.
Untuk melengkapi ulasan ini, berikut penulis nukilkan beberapa ayat Quran yang menyajikan berita tentang kurma ( @Syukri petani kurma.ikapda Aceh. 2018):
Ayat-ayat Kurma
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melebihkan kurma dari buah-buahan yang lain. Allah me-nyebutkannya di dalam Al-Qur-an pada 20 tempat yang berbeda dengan memakai lafazh pohon kurma; an-Nakhl, an-Nakhiil dan an-Nakhlah.
Allah telah menetapkan bahwasanya pohon kurma ada di bumi, kemudian Allah mengutamakannya dengan menyebutkan ciri-ciri pohon dan buahnya:
1. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.” (QS. Ar-Rahman: 11)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah berkata, “Allah menyebutkan buah kurma ini secara khu-sus karena kemuliaan dan manfaat yang dikandungnya, baik ketika masih basah maupun ketika telah kering” (lihat Tafsir Ibnu Katsir, tahqiq oleh Hani al-Haj VII/375, cet. Al-Maktabah at-Taufiqiyah, Mesir)
2. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun.” (QS. Qaaf: 10)
3. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan tanam-tanaman dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut.” (QS. Asyu'ara: 148)
4. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ra'du: 4)
Buah kurma mengandung banyak manfaat, di antaranya sangat dianjurkan bagi perempuan yang hamil dan yang akan segera melahirkan. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Maryam binti 'Imran untuk memakan buah kurma ini ketika beliau sedang nifas.
5. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka katakanlah, 'Sesungguhnya Aku telah bernazar berpuasa untuk Rabb Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.'” (QS. Maryam: 25-26)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah membawakan perkataan 'Amr bin Maimun di dalam Tafsirnya: “Tidak ada sesuatu yang lebih baik bagi perempuan nifas kecuali kurma kering dan kurma basah.” (Tafsir Ibnu Katsir, tahqiq oleh Hani al-Haj V/168, cet. Al-Maktabah at-Taufiqiyah, Mesir.)
Dokter Muhammad an-Nasimi dalam kitab-nya, ath-Thibb an-Nabawy wal 'Ilmil Hadits (II/293-294) mengatakan, “Hikmah dari ayat yang mulia ini secara kedokteran adalah, perempuan hamil yang akan melahirkan itu sangat membutuhkan minuman dan makanan yang kaya akan unsur gula, hal ini karena banyaknya kontraksi otot-otot rahim ketika akan mengeluarkan jabang bayi, terlebih lagi apabila hal itu membutuhkan waktu yang lama. Kandungan gula dan vitamin B1 sangat membantu untuk mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa sistolenya (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi). Dan kedua unsur itu banyak terkandung dalam ruthab (kurma basah). Kandungan gula dalam ruthab sangat mudah untuk dicerna dengan cepat oleh tubuh.” (Dinukil oleh Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilaly dalam Shahih at-Thibb an-Nabawy Fi Dha-il Ma'arif ath-Thabiyyah wal 'Ilmiyyah al-Haditsah, hal. 399, cet. Maktabah al-Furqaan, th. 1424 H.)
6. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: 'Aduhai, alangkah baiknya Aku mati sebelum ini, dan Aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.'” (QS. Maryam: 23)
[8/21, 11:24 PM] taufiqsentana: 7. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, Kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.”
(QS. Al-Baqarah: 266)
Kurma juga banyak digunakan sebagai perumpamaan di dalam al-Qur-an, diantaranya adalah sebagaimana ayat tersebut. Imam al-Bukhari menafsirkannya dengan mencantumkan satu hadits dalam kitab Shahihnya, yaitu:
Pada suatu hari, Umar bin Khaththab pernah berkata kepada para sahabat Nabi Shallallahu'alaihi wassallam, “Menurut kalian, berkenaan dengan siapa ayat ini turun, “Apakah ada salah seorang di antara kalian yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur mengalir di bawahnya sungai-sungai?' Mereka menjawab, “Allahu a'lam (Allah yang lebih mengetahui.” Maka Umar bin Khaththab pun marah seraya berkata, “Jawablah, kami mengetahui atau kami tidak mengetahui.”
Maka Ibnu Abbas berkata, “Aku mengetahui sedikit mengenainya, Wahai Amirul Mukminin.” Lalu Umar berkata,”Wahai keponakanku, katakanlah dan janganlah engkau meremehkan dirimu.” Kemudian Ibnu Abbas berkata, “Akan aku berikan perumpamaan dengan sebuah amal.” Umar bertanya, “Amal (perbuatan) apa?”, Ibnu Abbas menjawab: “Untuk suatu amal.”
Umar berkata. “Seorang kaya yang beramal dengan ketaatan kepada Allah, kemudian Allah mengirimkan syaitan kepadanya, maka ia pun berbuat banyak maksiat sehingga semua amalnya terhapus.” (HR Al-Bukhari no. 4538 dari Ibnu Abbas.)
8. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan Maka kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-An'aam: 99)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan lafazh:
“…Dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai…”
9. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya) makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An'aam: 141)
Demikianlah beberapa nukilan ayat Alquran dari 20 ayat yang tersedia, sebagai penguat sajian dalam tulisan ini, kiranya dapat memberikan perspektif yang baru dalam menghidupkan tradisi kurma di keseharian kita: Insyaa Allah.
*Guru dan Peminat Studi Sosial dan Budaya Pop. Menetap di Meulaboh.






